Vicky Prasetyo Dituding Gagal Bayar Utang Rp700 Juta, Diduga Terkait Modal Pilkada
Nama Vicky Prasetyo kembali menjadi sorotan publik, kali ini bukan karena kisah asmara atau kariernya di dunia hiburan, melainkan dugaan keterlibatannya dalam masalah utang piutang. Seorang wanita bernama Nunun Lusida (60) angkat bicara ke media, mengklaim bahwa Vicky Prasetyo belum juga mengembalikan dana senilai Rp700 juta yang dipinjamnya.
Nunun Lusida, yang mengaku telah mengenal Vicky Prasetyo, membeberkan kronologi pinjaman tersebut. Menurutnya, Vicky Prasetyo meminjam uang tersebut dengan dalih sebagai modal untuk mengikuti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024. Lebih spesifik lagi, Vicky disebut-sebut berjanji akan menggandeng mantan suami Nunun Lusida untuk menjadi calon Wakil Bupati Bandung Barat.
Janji Manis dan Kecewa yang Mendalam
Nunun Lusida menceritakan bahwa Vicky Prasetyo memberikan janji manis terkait pengembalian dana tersebut. Ia menyebutkan bahwa Vicky berjanji akan mengembalikan seluruh uang pinjaman dalam kurun waktu tiga hari. Janji ini, menurut Nunun, membuatnya tergiur dan yakin untuk memberikan pinjaman tersebut.
“Waktu itu Vicky meminta uang sebesar Rp 700 juta kepada saya dengan janji akan menggandeng mantan suami saya dijadikan pendamping dirinya sebagai calon Wakil Bupati di Kabupaten Bandung Barat,” ungkap Nunun.
Namun, lebih dari sekadar janji pengembalian dana yang tak kunjung ditepati, Nunun Lusida juga merasa kecewa karena Vicky Prasetyo tidak menepati janjinya untuk menggandeng mantan suaminya sebagai calon Wakil Bupati. Hal ini menambah luka kekecewaan Nunun, mengingat uang yang dipinjamnya merupakan tabungan masa tua yang sangat berharga baginya.
Pertanyakan Itikad Baik Melalui Gaya Hidup di Media Sosial
Nunun Lusida secara terang-terangan mempertanyakan itikad baik Vicky Prasetyo untuk melunasi utangnya. Hingga kini, menurut pengakuannya, belum ada satu pun pembayaran yang dilakukan oleh mantan suami Angel Lelga tersebut.
Kekecewaan Nunun semakin memuncak ketika ia melihat aktivitas Vicky Prasetyo di media sosial. Ia melihat Vicky kerap menampilkan gaya hidup yang terkesan mewah, seperti membuka berbagai jenis usaha, bahkan dikabarkan membeli properti bernilai miliaran rupiah.
“Saya lihat di media sosial, usahanya terlihat maju, membuka bisnis, beli rumah miliaran. Tapi kenapa uang saya tidak dikembalikan?” seru Nunun, menyiratkan rasa heran dan kecewa.
Komunikasi Terakhir yang Berujung Sunyi
Nunun Lusida mengungkapkan bahwa komunikasi terakhirnya dengan Vicky Prasetyo terjadi pada bulan lalu. Dalam percakapan tersebut, Vicky kembali berjanji akan segera mentransfer uang pinjaman dan meminta nomor rekening Nunun.
“Saya sudah memberikan. Katanya, ‘Senin ingatkan lagi ke saya.’ Sampai Senin tidak ada,” tutur Nunun, menceritakan detail percakapan tersebut.
Namun, setelah janji tersebut, Nunun mengaku tidak lagi mendapatkan respons dari Vicky Prasetyo. Upayanya untuk menghubungi kembali pun tidak membuahkan hasil.
“Tidak ada jawaban, tidak ada balasan. Sampai detik ini tidak ada jawaban apa pun ke saya,” tambahnya dengan nada prihatin.

Dampak Finansial bagi Nunun Lusida
Kuasa hukum Nunun Lusida, James Tambunan, menjelaskan bahwa kliennya kini menghadapi kesulitan finansial yang signifikan akibat dana yang belum dikembalikan tersebut. Dana sebesar Rp700 juta itu merupakan tabungan yang sangat penting bagi Nunun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di masa tua.
“Klien kami ini sampai harus memikirkan biaya hidup sehari-hari. Sementara yang bersangkutan masih aktif tampil di televisi dan menjalankan berbagai usaha,” ujar James, menekankan beban yang ditanggung oleh kliennya.
Nunun Lusida sendiri berharap agar uangnya segera dikembalikan. Ia menegaskan bahwa tujuannya bukan untuk meminta lebih, melainkan hanya ingin mendapatkan kembali haknya agar dapat melanjutkan kehidupan bersama anak-anaknya.
“Saya tidak minta lebih. Saya hanya ingin uang saya dikembalikan untuk kehidupan saya dan anak-anak,” ucap Nunun dengan penuh harap.
Kasus ini tentu menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai pengelolaan keuangan dan etika bisnis para figur publik. Perkembangan selanjutnya dari kasus ini akan terus menjadi perhatian publik.





