17 WNA dari 12 Negara Ikut Merayakan Tumpeng di Masjid Astana Sultan Hadlirin Jepara

Tradisi Selametan Tumpeng di Jepara Mempererat Persatuan

Tradisi kirab luwur Makam Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat di Kabupaten Jepara berakhir dengan tradisi selametan tumpeng yang penuh makna. Acara ini digelar di pelataran Masjid Astana Sultan Hadlirin pada hari Kamis (9/4/2026) petang, dengan jumlah 102 tumpeng khas yang disajikan. Tumpeng tersebut memiliki lauk utama berupa ingkung ayam, yang menjadi ciri khas dari daerah ini.

Acara selametan dihadiri oleh sekitar seribu orang yang duduk bersama tanpa membedakan status sosial. Mereka menyantap nasi tumpeng secara bersamaan sebagai simbol kesetaraan antara pejabat dan masyarakat umum. Hal ini dilakukan agar tidak ada perbedaan dalam merayakan momen spesial ini.

Selain warga lokal, acara juga melibatkan 17 warga negara asing (WNA) dari 12 negara berbeda. Mereka hadir sebagai bentuk rasa syukur dan ngalap berkah dalam momentum Hari Jadi ke-477 Kabupaten Jepara. Negara-negara yang terlibat antara lain Mesir, Nigeria, Kepulauan Solomon, Kenya, Vanuatu, Timor Leste, Papua Nugini, Zimbabwe, Tanzania, Prancis, Pakistan, dan Ghana.

Salah satu WNA yang ikut serta adalah Hussain Abid, seorang mahasiswa asal Pakistan yang saat ini menempuh pendidikan di Unisnu Jepara. Meski masih terbata-bata dalam berbahasa Indonesia dan Jawa, Hussain cukup mahir dalam berkomunikasi. Ia tidak menyangka akan diajak untuk mengikuti tradisi kirab buka luwur Hari Jadi ke-477 Jepara.

Hussain mengikuti arak-arakan sejauh 3,8 kilometer dari Pendopo RA Kartini Jepara hingga Makam Mantingan. Ia juga terkejut ketika disambut dan diminta untuk ikut makan bersama-sama dalam wadah nampan. Baginya, pengalaman ini menjadi momen baru yang sangat berharga meskipun sedikit melelahkan.

“Kami makan bersama teman-teman lainnya. Senang bisa kenyang. Selamat Hari Jadi ke-477 Jepara,” ujar Hussain dengan nada terbata-bata.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, Ali Hidayat, menjelaskan bahwa 102 tumpeng selamatan buka luwur digelar sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah yang telah memberkahi Kabupaten Jepara. Syukur ini dirayakan dengan menyantap nasi tumpeng secara bersamaan dalam satu tempat dan satu waktu.

Rencananya, puncak Hari Jadi ke-477 Jepara, Jumat (10/4/2026) besok, akan digelar dua kali selametan. Pertama, selametan bersama dilakukan selepas Upacara Hari Jadi di Alun-alun Jepara dengan menyembelih satu ekor kerbau. Kedua, selamatan 477 tumpeng akan diadakan di Pendopo RA Kartini malam hari setelah doa lintas agama.

“Mudah-mudahan dengan selametan syukur ini, kita bisa bertemu dengan perayaan yang sama di tahun-tahun setelahnya. Bersama masyarakat selametan tasyakuran,” harapnya.

Keterlibatan WNA dalam Tradisi Lokal

Keterlibatan WNA dalam acara selametan tumpeng menunjukkan betapa pentingnya keberagaman dalam merayakan tradisi lokal. Acara ini tidak hanya menjadi momen syukur bagi masyarakat Jepara, tetapi juga menjadi ajang untuk mempererat hubungan antar budaya.

Beberapa WNA yang hadir dalam acara ini berasal dari negara-negara dengan latar belakang budaya yang berbeda. Namun, mereka semua berpartisipasi dalam acara ini dengan penuh antusiasme dan rasa hormat terhadap tradisi yang dijalani.

Pengalaman seperti ini juga menjadi bagian dari proses integrasi budaya, di mana WNA dapat merasakan langsung kekayaan budaya Jepara melalui perayaan tradisional. Hal ini juga memberikan kesempatan bagi masyarakat lokal untuk lebih memahami dan menerima keberagaman yang ada di tengah masyarakat.

Penutupan Tradisi Kirab Luwur

Tradisi kirab luwur yang telah berlangsung selama beberapa hari akhirnya ditutup dengan acara selametan tumpeng yang penuh makna. Acara ini menjadi simbol persatuan dan kebersamaan antara berbagai kalangan masyarakat, termasuk WNA yang turut serta dalam perayaan.

Dengan adanya acara ini, diharapkan semangat kebersamaan dan toleransi dapat terus dipertahankan, terutama dalam menghadapi tantangan di masa depan. Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan yang harus dihargai dan dijaga.

Pos terkait