Moody’s Revisi Prospek 19 Emiten Indonesia Menjadi Negatif
Lembaga pemeringkat kredit internasional, Moody’s Ratings, telah mengambil langkah signifikan dengan menurunkan prospek (outlook) 19 emiten Indonesia dari stabil menjadi negatif. Keputusan ini sejalan dengan revisi prospek utang negara Indonesia yang juga bergeser dari stabil ke negatif, meskipun peringkat utang itu sendiri tetap di level Baa2. Perubahan ini diumumkan oleh Moody’s dalam serangkaian pernyataan terpisah pada Jumat, 6 Februari 2026.
Langkah ini mengindikasikan adanya peningkatan risiko terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah Indonesia. Moody’s menyoroti menurunnya prediktabilitas dan koherensi dalam proses perumusan kebijakan, serta komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif selama setahun terakhir. Jika tren ini terus berlanjut, Moody’s khawatir hal ini dapat mengikis kredibilitas kebijakan yang selama ini menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan negara.
Dengan adanya prospek negatif ini, Moody’s menyatakan tidak melihat adanya momentum kenaikan peringkat bagi perusahaan-perusahaan yang terdampak dalam waktu dekat. Prospek dapat kembali menjadi stabil apabila prospek peringkat sovereign Indonesia juga pulih menjadi stabil, dan kualitas kredit perusahaan-perusahaan tersebut secara umum tidak mengalami penurunan.
Sebaliknya, peringkat perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi diturunkan jika peringkat sovereign Indonesia juga mengalami penurunan, atau jika kemauan serta kemampuan pemerintah untuk memberikan dukungan kepada emiten tersebut melemah. Tekanan negatif juga dapat timbul apabila kualitas kredit masing-masing perusahaan mengalami pelemahan yang signifikan, termasuk jika metrik keuangan mereka berada di bawah parameter peringkat yang ditetapkan.
Sektor Non-Finansial Terdampak
Beberapa perusahaan besar di sektor non-finansial menjadi bagian dari daftar emiten yang prospeknya direvisi menjadi negatif oleh Moody’s. Perubahan ini mencakup:
- PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP): Moody’s mengakui posisi dominan ICBP sebagai produsen mi instan terbesar di Indonesia. Kebijakan keuangan yang konservatif, likuiditas yang sangat baik, dan rekam jejak manajemen yang solid menjadi faktor pendukung. Namun, faktor-faktor ini dinilai belum cukup untuk menahan pergeseran prospek, yang mungkin dipengaruhi oleh risiko tata kelola terkait transaksi pihak berelasi dan konsentrasi kepemilikan keluarga.
- PT Mineral Industri Indonesia (Persero)
- PT Pertamina (Persero)
- PT Pertamina Hulu Energi
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM): Moody’s melihat TLKM memiliki posisi mapan sebagai operator telekomunikasi terintegrasi terbesar di Indonesia dengan metrik kredit yang kuat dan likuiditas yang sangat baik. Namun, skala TLKM yang relatif kecil dibandingkan operator global dan risiko intervensi pemerintah karena statusnya sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi pertimbangan dalam revisi prospek.
- PT Telekomunikasi Selular
- PT United Tractors Tbk. (UNTR): Peringkat UNTR mencerminkan komitmennya untuk mempertahankan profil keuangan yang konservatif dan posisi terdepan di industri jasa pertambangan dan alat berat Indonesia. Likuiditas yang sangat baik dan potensi dukungan dari induk usaha, PT Astra International Tbk. (ASII), menjadi faktor positif. Namun, prospek negatif mengindikasikan adanya tantangan yang lebih luas yang memengaruhi perusahaan ini.
Sektor Keuangan dan Multifinance Juga Terkena Dampak
Sektor keuangan menjadi salah satu area yang paling banyak terdampak oleh revisi prospek Moody’s. Perusahaan-perusahaan perbankan besar tercatat dalam daftar ini, menunjukkan kekhawatiran terhadap stabilitas sektor tersebut dalam menghadapi tantangan ekonomi dan kebijakan yang lebih luas.
Perbankan:
- PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA)
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI)
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI)
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI)
- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN)
Multifinance: Sektor pembiayaan juga tidak luput dari penyesuaian prospek, mencerminkan potensi tekanan pada industri ini.
- PT Astra Sedaya Finance
- PT Federal International Finance
- Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia
- PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)
Perusahaan BUMN Lainnya
Selain Pertamina dan Telkom, beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya juga mengalami penyesuaian prospek. Hal ini menyoroti bagaimana isu-isu kebijakan makro dapat memengaruhi operasional dan stabilitas keuangan perusahaan-perusahaan yang terafiliasi erat dengan pemerintah.
- PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN: Sebagai tulang punggung pasokan listrik nasional, perubahan prospek PLN mengindikasikan adanya potensi tantangan dalam operasional atau stabilitas keuangan yang perlu dicermati.
- PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN: Moody’s mengakui PGN memiliki proyeksi metrik keuangan yang kuat dalam beberapa tahun ke depan, serta posisi pasar yang dominan sebagai perusahaan transmisi dan distribusi (T&D) gas terbesar di Indonesia. Keterkaitannya dengan perekonomian domestik dan pemerintah juga menjadi pertimbangan. Namun, prospek negatif menunjukkan adanya faktor risiko yang lebih besar yang perlu diantisipasi.
- PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo: Perubahan prospek pada BUMN yang bergerak di sektor kepelabuhanan ini dapat mencerminkan dinamika industri logistik dan perdagangan yang lebih luas, serta kebijakan terkait infrastruktur.





