JAKARTA — Selama 38 hari konflik antara Amerika Serikat dan Iran, AS telah mengerahkan puluhan senjata untuk menghantam belasan ribu target. Hal ini berdampak pada pasar bahan bakar dan harga saham AS.
Amerika Serikat melancarkan serangan ke lebih dari 13.000 target sejak konflik dimulai pada 28 Februari. Tidak hanya itu, sekitar 155 kapal dilaporkan rusak atau tenggelam akibat operasi militer tersebut. Dalam menjalankan misinya, militer AS menggunakan kombinasi kekuatan udara, darat, dan laut. Tercatat ada 26 jenis pesawat yang dikerahkan, ditambah berbagai sistem rudal dari darat dan laut.
Beberapa teknologi militer canggih juga baru pertama kali digunakan dalam konflik ini, seperti pesawat pengintai ketinggian tinggi dan pesawat perang elektronik yang berfungsi mengganggu sistem komunikasi musuh. Selain itu, AS juga mengandalkan sistem pertahanan dan serangan seperti rudal Patriot, THAAD, HIMARS, serta berbagai sistem anti drone.
Strategi Militer yang Digunakan oleh AS
Berikut adalah beberapa strategi dan alat militer yang digunakan oleh Amerika Serikat selama konflik:
- Pesawat tempur dan pesawat pengintai yang dikerahkan dalam jumlah besar
- Sistem rudal darat dan laut yang digunakan untuk menyerang target di daratan dan laut
- Pesawat perang elektronik yang memengaruhi komunikasi musuh
- Kapal induk, kapal perusak, kapal amfibi, dan kapal selam nuklir yang terlibat dalam operasi militer
- Sistem pertahanan seperti rudal Patriot dan THAAD yang digunakan untuk melindungi wilayah AS
Selain itu, AS juga menggunakan drone murah hasil pengembangan dari drone Iran yang sebelumnya berhasil direbut. Hal ini menunjukkan bahwa AS tidak hanya mengandalkan teknologi canggih, tetapi juga memanfaatkan teknologi musuh untuk keuntungan sendiri.
Peran Kekuatan Laut dalam Operasi Militer
Kekuatan laut juga memainkan peran penting dalam operasi militer AS. Berbagai jenis kapal seperti kapal induk, kapal perusak, kapal amfibi, hingga kapal selam nuklir ikut terlibat dalam operasi ini. Semua didukung oleh kapal logistik yang menjaga pasokan tetap berjalan di tengah pertempuran.
United States Central Command (CENTCOM) mengatakan target serangan menyasar fasilitas penting milik Iran, seperti pusat komando militer, situs intelijen, markas Garda Revolusi, lokasi peluncuran rudal dan drone, sistem pertahanan udara dan laut, serta gudang senjata dan bunker. Bahkan, infrastruktur penting seperti jembatan utama di dekat ibu kota Teheran juga ikut terkena serangan.
Dampak Korban Jiwa
Konflik ini menimbulkan korban dari berbagai pihak, di antaranya AS kehilangan 13 personel militer. Israel melaporkan 24 korban tewas, dan negara-negara Teluk mencatat 27 korban. Sementara itu, di Iran jumlah korban diperkirakan mencapai hampir 2.000 orang.
Dampak Ekonomi: Harga BBM Naik dan Pasar Saham Terguncang
Selain dampak militer, perang ini juga mengguncang ekonomi, terutama di Amerika Serikat. Harga bahan bakar mengalami kenaikan signifikan. Rata-rata harga bensin naik dari sekitar US$2,92 atau Rp49.300 menjadi US$4,12 atau Rp69.600 per galon dalam waktu singkat. Di beberapa wilayah seperti Hawaii, harga bahkan mencapai US$5,60 atau Rp94.600 per galon, sementara negara bagian lain juga menembus angka di atas US$5 atau Rp84.500.
Di sisi lain, pasar saham juga ikut terdampak. Indeks Dow Jones memang sempat naik pada satu hari perdagangan, tetapi secara keseluruhan masih mengalami penurunan lebih dari 2.300 poin sejak sebelum perang dimulai.





