Fenomena Petir di Bali: Analisis Intensitas dan Dampaknya
Stasiun Geofisika Denpasar, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), mencatat angka yang signifikan terkait aktivitas petir di wilayah Bali. Hingga Januari 2026, tercatat sebanyak 392.777 kali sambaran petir menghiasi langit Pulau Dewata. Meskipun angka ini tergolong tinggi, namun terjadi penurunan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, Desember 2025, yang mencatat 595.421 kali sambaran.
Tren Sambaran Petir: Dominasi dan Klasifikasi
Periode awal Februari 2026 juga menunjukkan pola aktivitas petir yang menarik. Dari tanggal 1 hingga 8 Februari 2026, jenis petir Cloud to Ground (CG) mendominasi, dengan klasifikasi CG- mencatat 7.770 kali sambaran, diikuti oleh CG+ sebanyak 2.773 kali, dan Intra Cloud (IC) sebanyak 1.495 kali.
Secara keseluruhan, sepanjang tahun 2025, Bali dilanda total sekitar 3,45 juta sambaran petir. Jumlah ini sangat erat kaitannya dengan pola musim hujan yang umumnya berlangsung dari akhir tahun hingga awal tahun, yaitu antara bulan November hingga Februari.
Faktor Penurunan Intensitas Petir
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Stasiun Geofisika BMKG, I Ketut Sudiarta, penurunan jumlah sambaran petir pada Januari 2026 diperkirakan disebabkan oleh berkurangnya pembentukan awan Cumulonimbus (Cb). Awan Cb, yang dikenal sebagai awan badai, merupakan sumber utama terjadinya petir.
“Awan Cb tumbuh pada kondisi atmosfer yang lembab dan tidak stabil secara termodinamika,” jelas I Ketut Sudiarta di Denpasar pada Minggu, 15 Februari.
I Ketut Sudiarta merinci lebih lanjut distribusi sambaran petir pada periode tersebut. Petir yang terjadi di dalam awan (Intra Cloud/IC) tercatat sebanyak 63.086 kali, sementara petir yang menyambar ke tanah (Cloud to Ground/CG) mencapai 329.691 kali.
Lebih spesifik lagi, petir dari awan ke tanah yang bermuatan positif (CG+) dengan ciri sambaran tunggal mencapai 121.619 sambaran. Sementara itu, petir CG negatif, yang memiliki ciri sambaran bercabang banyak, tercatat sebanyak 208.072 sambaran.
Bahaya Petir Cloud to Ground (CG)
I Ketut Sudiarta menekankan bahwa petir dari awan ke tanah (CG) merupakan jenis petir yang paling berbahaya. Potensi kerusakan yang ditimbulkannya sangat besar, mulai dari kerusakan bangunan, memicu kebakaran, hingga ancaman kematian bagi makhluk hidup.
Perbandingan Historis Kejadian Petir
Jika dibandingkan dengan data historis kejadian petir pada bulan Januari selama periode 2009 hingga 2026, jumlah sambaran pada Januari 2026 tergolong lebih rendah. Puncak tertinggi terjadi pada Januari 2010 dengan 1.071.688 sambaran, sementara jumlah terendah tercatat pada Januari 2013 sebanyak 199.489 sambaran.
Waktu Kejadian dan Potensi Konvektif
Analisis Stasiun Geofisika Denpasar menunjukkan bahwa kejadian petir pada Januari 2026, khususnya jenis CG, sebagian besar terjadi pada pukul 17.00 WITA. Fenomena ini mengindikasikan tingginya potensi pembentukan awan hujan (konvektif) pada sore hari.
Kerapatan Wilayah Berdasarkan Aktivitas Petir
Ditinjau dari segi kerapatan wilayah, aktivitas petir di Bali umumnya berada pada kategori rendah, yaitu kurang dari delapan sambaran per kilometer persegi. Namun, terdapat pula area dengan kategori tinggi, yang mencatat lebih dari 16 sambaran per kilometer persegi.
Daerah-daerah yang teridentifikasi memiliki kerapatan petir kategori tinggi pada Januari 2026 meliputi:
* Tabanan
* Klungkung (khususnya wilayah Nusa Penida)
* Sebagian wilayah Badung
* Sebagian wilayah Buleleng
* Sebagian kecil wilayah Denpasar
Data ini menjadi penting untuk mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bahaya petir, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki aktivitas petir tinggi.





