Fakta-Fakta Terkait Kasus Siswa SMPN 2 Singkawang yang Diduga Jadi Korban Penganiayaan
Seorang siswa berusia 12 tahun, bernama Wesley, diduga menjadi korban penganiayaan oleh temannya sendiri. Kejadian tersebut menimpa Wesley, seorang siswa kelas satu SMP Negeri 2 Singkawang, Kalimantan Barat. Akibat peristiwa memilukan ini, korban mengalami luka serius di bagian kepala hingga tengkoraknya pecah dan salah satu kakinya tidak bisa digerakkan secara normal.
Berikut adalah fakta-fakta terkait kasus ini:
1. Kronologi Peristiwa
Peristiwa bermula dari perselisihan kecil saat korban dan pelaku bermain game bersama beberapa waktu lalu. Menurut pengakuan ibu korban, Chinusha, pelaku diduga emosi karena merasa kalah dalam permainan setelah tersentuh oleh korban. “Sejak itu pelaku beberapa kali mengajak anak saya berkelahi,” ujar Chinusha saat ditemui Jumat 22 Mei 2026.
Wesley disebut tidak pernah menanggapi ajakan tersebut karena menganggap pelaku adalah temannya sendiri. Hingga akhirnya korban sempat bertanya alasan dirinya terus diajak berkelahi meski hubungan mereka sebelumnya baik-baik saja. Perselisihan kecil sempat terjadi dan keduanya pernah terlibat perkelahian ringan. Namun situasi kembali memanas beberapa bulan kemudian.
Penganiayaan itu baru terjadi pada Jumat pekan lalu saat Wesley sedang bermain di rumah temannya di kawasan Jalan KS Tubun, Singkawang. Saat itu, pelaku diduga datang lalu langsung memukul kepala korban menggunakan palu. “Anak saya langsung kejang-kejang setelah dipukul,” kata Chinusha.
Warga dan teman-teman korban kemudian segera memberi tahu keluarga sebelum Wesley dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.
2. Cedera Serius yang Dialami Wesley
Dari hasil pemeriksaan dokter, korban mengalami pecah tengkorak kepala dan gangguan saraf yang berdampak pada salah satu kakinya hingga sulit digerakkan. Kini Wesley masih menjalani perawatan intensif dan terapi lanjutan. Bahkan keluarga menyebut korban kemungkinan masih harus menjalani operasi pemasangan tempurung kepala.
“Kami hanya berharap dia bisa pulih seperti semula,” ungkap sang ibu dengan mata berkaca-kaca. Chinusha mengaku sedih melihat kondisi putranya yang dikenal pendiam dan tidak pernah mencari masalah. Akibat insiden tersebut, Wesley juga untuk sementara harus menghentikan aktivitas sekolah karena kondisinya belum memungkinkan untuk belajar seperti biasa.
Keluarga korban pun berharap ada tanggung jawab dari pihak pelaku atas biaya pengobatan yang masih panjang. Meski demikian, mereka menegaskan tidak menyimpan dendam. “Kami tidak dendam. Kami hanya ingin ada tanggung jawab dan anak kami bisa sembuh kembali,” tutup Chinusha.
3. Anak Pendiam yang Kehilangan Masa Sekolah
Di mata sang ibu, Wesley adalah sosok anak yang tidak pernah merepotkan orang tua. Kesehariannya yang tenang dan jauh dari masalah membuat pihak keluarga sangat terpukul atas tindakan brutal yang menimpa dirinya. “Anaknya itu pendiam, tidak banyak tingkah dan tidak pernah cari masalah sama orang lain,” kenang Chinusha.
Akibat kondisi ini, mimpi Wesley untuk menimba ilmu di sekolah terpaksa terhenti. Pihak keluarga telah memutuskan untuk menunda aktivitas sekolah Wesley hingga batas waktu yang tidak ditentukan. “Pendidikannya terpaksa ditunda dulu. Kondisinya sama sekali tidak memungkinkan untuk sekolah dalam waktu dekat,” ungkapnya.
4. Pernyataan dari SMP Negeri 2 Singkawang
Kepala SMP Negeri 2 Singkawang, Dina Aprilliya, memberikan klarifikasi terkait insiden pemukulan antar remaja yang menimpa salah satu siswanya itu. Dina mengatakan klarifikasi tersebut disampaikan agar informasi yang diterima masyarakat tetap utuh dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Saya selaku kepala sekolah ingin memberikan klarifikasi agar informasi yang diterima masyarakat utuh dan tidak menimbulkan kesalahpahaman,” ujarnya kepada , Sabtu 23 Mei 2026. Ia mengaku pihak sekolah sangat prihatin dan menyayangkan insiden pemukulan yang menimpa Wesley.
Namun, Dina menegaskan bahwa pelaku bukan berasal dari SMPN 2 Singkawang. “Pelaku bukan dari sekolah kami,” tegasnya. Menurut Dina, kejadian tersebut terjadi di luar jam sekolah dan di luar lingkungan sekolah. Bahkan insiden berlangsung pada malam hari saat libur cuti bersama.
“Peristiwa tersebut terjadi sepenuhnya di luar jam operasional sekolah dan di luar lingkungan sekolah,” jelasnya. Ia menerangkan, sesuai aturan dan tata tertib sekolah, tanggung jawab pengawasan siswa akan kembali kepada orang tua atau wali murid setelah jam pelajaran selesai dan siswa meninggalkan area sekolah.
Meski demikian, Dina menegaskan pihak sekolah tidak tinggal diam dalam menyikapi kasus tersebut. “Meskipun secara hukum dan struktural kejadian ini berada di luar ranah tanggung jawab pihak sekolah, kami tidak tinggal diam,” katanya. Sebagai bentuk kepedulian, pihak sekolah terus menjalin komunikasi dengan keluarga korban untuk memantau perkembangan kondisi Wesley yang saat ini masih menjalani pemulihan.






