Semarak Ramadan di Palu: Lomba Lari Tradisional Tanpa Alas Kaki Pecah Rekor Peserta
Suasana bulan suci Ramadan di Kota Palu semakin meriah dengan digelarnya kembali lomba lari tradisional yang unik. Kali ini, kegiatan yang bertajuk “Wahidin Ramadan Pangova 4” berhasil menarik perhatian 64 peserta dari berbagai penjuru Sulawesi Tengah. Lomba yang memecah kebiasaan ini mengharuskan seluruh pesertanya berlari tanpa alas kaki di lintasan sepanjang 75 meter yang membentang di Jalan dr Wahidin, Kelurahan Besusu Barat, Kecamatan Palu Timur.
Kegiatan yang telah memasuki tahun keempat ini tidak hanya menjadi sarana hiburan bagi masyarakat yang sedang menanti waktu sahur, tetapi juga menjadi ajang penting dalam penjaringan bibit-bibit atlet lari potensial bagi Kota Palu maupun Provinsi Sulawesi Tengah.
Keunikan Tradisi Lari Tanpa Alas Kaki
Berbeda dengan kompetisi lari pada umumnya, Wahidin Ramadan Pangova 4 menawarkan pengalaman yang sangat khas. Seluruh peserta, tanpa terkecuali, dituntut untuk berlari dengan kaki telanjang di lintasan yang telah disiapkan. Inisiatif ini, seperti yang dijelaskan oleh Ketua Panitia, M Opank, merupakan ciri khas yang membedakan lomba ini dari ajang lari lainnya.
“Wahidin Ramadan Pangova ini berbeda dengan lomba lari pada umumnya, karena para peserta berlari tanpa alas kaki atau kaki telanjang di lintasan sepanjang 75 meter di Jalan Wahidin, Kota Palu,” ungkap Opank pada Sabtu malam (14/3/2026).
Jangkauan Peserta yang Luas
Antusiasme terhadap lomba lari tradisional ini terlihat dari luasnya jangkauan pesertanya. Lomba ini tidak hanya diikuti oleh warga Kota Palu, tetapi juga merambah ke beberapa kabupaten di sekitarnya. Tercatat, peserta berasal dari Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, Parigi Moutong, hingga Kabupaten Poso. Keberagaman asal peserta ini menunjukkan bahwa kegiatan ini telah menjadi daya tarik tersendiri di tingkat provinsi.
Tiga Kategori dan Sistem Gugur
Untuk mengakomodir berbagai kalangan, kompetisi Wahidin Ramadan Pangova 4 mempertandingkan tiga kategori utama:
- Kategori Utama: Kategori ini biasanya diperuntukkan bagi peserta dengan tingkat kompetisi yang lebih tinggi.
- Kategori Bebas: Kategori ini memberikan kesempatan bagi peserta dari berbagai latar belakang untuk ikut serta.
- Kategori Perempuan: Sebuah kategori khusus yang didedikasikan untuk peserta perempuan, mendorong partisipasi gender yang setara dalam olahraga tradisional ini.
Sistem perlombaan yang diterapkan adalah sistem gugur, yang berarti setiap kekalahan akan langsung mengeluarkan peserta dari kompetisi. Hal ini menambah ketegangan dan keseruan dalam setiap pertandingan. Lomba ini sendiri digelar selama tiga hari, dimulai dari tanggal 12 hingga 14 Maret 2026, memberikan kesempatan yang cukup bagi para peserta untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
Dukungan Penuh dari Pemerintah Daerah
Pemerintah Kota Palu, melalui Dinas Pemuda dan Olahraga, memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Wahidin Ramadan Pangova 4. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Palu, Bachtiar, mengapresiasi inisiatif masyarakat dalam menggelar kegiatan positif ini.
“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini. Ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang untuk olahraga di daerah kita,” ujar Bachtiar.
Ia berharap agar kegiatan ini dapat menjadi wadah yang efektif dalam melahirkan atlet-atlet muda berprestasi. Bibit-bibit unggul yang terjaring dari lomba ini diharapkan kelak mampu mewakili Kota Palu maupun Provinsi Sulawesi Tengah dalam berbagai ajang olahraga, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Pesan Penting untuk Peserta
Mengingat karakteristik lomba yang unik dan berpotensi menimbulkan risiko, Bachtiar turut memberikan pesan penting kepada seluruh peserta.
- Pemanasan Otot: Ia menekankan pentingnya melakukan pemanasan atau peregangan otot secara menyeluruh sebelum bertanding. Hal ini sangat krusial, terutama mengingat lomba dilakukan tanpa alas kaki yang dapat meningkatkan potensi cedera jika otot tidak dalam kondisi prima.
- Menjunjung Tinggi Sportivitas: Selain aspek fisik, Bachtiar juga mengingatkan para peserta untuk senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. Ia menegaskan bahwa dalam setiap kompetisi, menang dan kalah adalah hal yang lumrah. Yang terpenting adalah bagaimana setiap peserta bertanding dengan jujur, menghargai lawan, dan menjaga semangat fair play.
Dengan kombinasi tradisi, semangat kebersamaan, dan dukungan pemerintah, Wahidin Ramadan Pangova 4 bukan hanya sekadar perlombaan, melainkan sebuah perayaan budaya dan olahraga yang memperkaya semarak Ramadan di Kota Palu.




