9 Bulan Berjalan, 100 Siswa Poltekesos Bandung Tunjukkan Kemajuan dan Prestasi

Program Asrama SRMA 11 Bandung Berhasil Tingkatkan Karakter dan Prestasi Siswa

Sebanyak seratus siswa dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 11 Bandung, yang berada di bawah naungan Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung, menunjukkan perkembangan signifikan dalam hal karakter maupun prestasi setelah menjalani program asrama selama sembilan bulan. Program ini dirancang khusus untuk siswa dari keluarga dengan kategori desil satu dan dua, dengan tujuan memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.

Sekolah rakyat ini mulai beroperasi sejak Juli tahun lalu dengan kuota awal sebanyak 100 siswa. Kepala SRMA 11 Bandung, Tintin Sri Suprihatin, mengatakan bahwa setelah sembilan bulan berjalan, terlihat peningkatan yang luar biasa baik dari segi akademik maupun non-akademik. “Alhamdulillah, anak-anak ini sudah menunjukkan perubahan yang sangat positif,” ujarnya.

Peningkatan tersebut tidak hanya terlihat dari sikap dan kebiasaan siswa yang lebih giat belajar, tetapi juga dari kemampuan mereka dalam beradaptasi secara sosial. Beberapa siswa bahkan berhasil meraih prestasi di berbagai ajang perlombaan. Misalnya, Alviano berhasil meraih prestasi dalam lomba pencak silat tingkat provinsi, sementara Melani meraih juara dua dalam lomba menulis cerpen tingkat Kota Bandung.

Proses Penerimaan Siswa yang Terstruktur

Dalam proses penerimaan siswa, SRMA 11 Bandung tidak menggunakan skema seperti sekolah reguler. Data calon siswa diambil dari Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), yang kemudian ditindaklanjuti dengan survei langsung oleh pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Penjangkauan dilakukan secara door to door untuk memastikan anak usia sekolah dari keluarga desil satu dan dua yang belum bersekolah bisa masuk ke sekolah rakyat.

Meskipun ada beberapa siswa yang sempat mengundurkan diri, sekolah segera berkoordinasi dengan dinas sosial dan pusat untuk mencari pengganti. Hal ini memastikan jumlah siswa tetap sebanyak 100 orang.

Fokus pada Pembentukan Karakter dan Pengembangan Kompetensi

Selain kegiatan belajar formal, siswa juga mengikuti program berbasis asrama dengan jadwal terstruktur dari pagi hingga malam. Kegiatan meliputi program harian, mingguan, hingga bulanan yang berfokus pada pembentukan karakter dan pengembangan kompetensi. Pada akhir pekan, siswa mendapatkan penguatan karakter dan pelatihan vokasi sesuai minat mereka.

Kunjungan orang tua difasilitasi setiap bulan guna menjaga hubungan keluarga. “Walaupun mereka tinggal di asrama, komunikasi dengan orang tua tidak boleh terputus,” ucap Tintin.

Harapan Masa Depan

Tintin menegaskan bahwa kehadiran sekolah rakyat merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan, terutama di Jawa Barat yang masih memiliki angka anak tidak sekolah tertinggi di Indonesia. “Harapannya, anak-anak ini nantinya menjadi agen perubahan, minimal untuk keluarganya sendiri agar bisa keluar dari desil satu dan dua,” katanya.

Program ini tidak hanya memberikan akses pendidikan, tetapi juga memberikan pelatihan vokasi yang bisa membantu siswa membangun masa depan yang lebih baik. Dengan dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat, SRMA 11 Bandung diharapkan bisa menjadi contoh sukses dalam pendidikan inklusif dan pemberdayaan masyarakat.


Pos terkait