Aktivitas Pengisian BBM di SPBU Entrop Masih Normal
Di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina Entrop, Kota Jayapura, Papua, aktivitas pengisian bahan bakar minyak (BBM) masih berjalan normal meskipun isu kenaikan harga BBM hingga Rp17.000 per liter ramai diperbincangkan menjelang 1 April 2026. Pantauan di lokasi menunjukkan antrean kendaraan yang terus berdatangan sejak pagi hari.
Harga BBM di SPBU Entrop Belum Berubah
Hingga akhir Maret 2026, harga BBM di SPBU Entrop masih tetap stabil. Pertamax masih dijual dengan harga Rp12.600 per liter, sedangkan Pertalite tetap berada di angka Rp10.000 per liter. Petugas SPBU yang ditemui di lokasi mengatakan bahwa mereka masih menjual BBM dengan harga normal karena belum menerima informasi resmi terkait penyesuaian harga pada April 2026.
“Belum ada informasi resmi, jadi kami masih jual seperti biasa. Banyak masyarakat yang datang tanya-tanya soal isu kenaikan BBM, tapi kami belum bisa pastikan karena belum ada pengumuman,” ujar salah satu petugas SPBU Entrop.
Antrean Kendaraan Terlihat Cukup Panjang
Meski antrean terlihat cukup panjang, proses pelayanan pengisian BBM berlangsung tertib. Sejumlah petugas SPBU tampak melayani pengendara yang datang silih berganti sejak pagi. Pengendara roda dua dan roda empat masih terlihat membeli BBM seperti biasa. Mereka mengaku belum terlalu memikirkan isu kenaikan harga karena sampai saat ini belum ada pengumuman resmi dari pemerintah.
Isu Kenaikan Harga BBM Mengkhawatirkan
Menurut petugas SPBU, masyarakat mulai ramai membicarakan kemungkinan kenaikan harga BBM setelah muncul kabar bahwa harga minyak dunia meningkat akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kabar tersebut berkembang di media sosial dan memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama bagi pengendara, sopir angkutan umum, hingga pedagang kecil yang sangat bergantung pada BBM untuk aktivitas sehari-hari.
Kebutuhan BBM di Kota Jayapura Tinggi
Kota Jayapura memiliki kebutuhan BBM yang cukup tinggi. Sebagai ibu kota Provinsi Papua, Jayapura menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan, dan jasa. Selain itu, Jayapura juga dikenal sebagai kota pendidikan karena banyak perguruan tinggi dan lembaga pendidikan yang menjadi tujuan mahasiswa dari berbagai wilayah di Papua.
Mobilitas masyarakat di kota ini cukup tinggi setiap hari. Kawasan seperti Entrop, Abepura, Waena, dan Sentani menjadi titik dengan aktivitas kendaraan paling padat. Selain kendaraan pribadi, angkutan kota, truk distribusi, hingga kendaraan dinas pemerintahan juga banyak beroperasi di wilayah tersebut.
Dampak Kenaikan Harga BBM Bagi Masyarakat
Isu kenaikan harga BBM menjadi perhatian serius bagi masyarakat. Salah seorang pengendara motor di Entrop mengaku berharap harga BBM tidak mengalami kenaikan drastis karena akan berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga. “Kalau BBM naik, otomatis ongkos transportasi juga naik. Harga barang di pasar bisa ikut naik juga. Jadi kami berharap pemerintah tetap pertimbangkan kondisi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, sopir angkutan kota juga mengaku khawatir jika harga BBM naik karena biaya operasional kendaraan akan semakin besar.
Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, sebelumnya meminta masyarakat menunggu keputusan resmi pemerintah terkait harga BBM non-subsidi yang akan diumumkan pada 1 April 2026. Untuk Maret 2026, harga BBM non-subsidi di sejumlah SPBU memang sudah mengalami penyesuaian. Harga Pertamax berada di angka Rp12.300 per liter, Shell Super Rp12.390 per liter, BP 92 Rp12.390 per liter, dan Revvo 92 milik Vivo juga berada di kisaran Rp12.390 per liter.
Namun untuk BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar, pemerintah masih mempertahankan harga tetap agar tetap terjangkau bagi masyarakat. Masyarakat di Jayapura berharap apabila nantinya ada penyesuaian harga BBM, pemerintah tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi warga Papua yang biaya transportasi dan harga kebutuhan pokoknya relatif lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia.





