
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, baru-baru ini menjalin komunikasi telepon dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Dalam percakapan tersebut, Anwar Ibrahim secara tegas mengecam serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sekaligus menegaskan kembali dukungan penuh Malaysia terhadap Iran dalam menghadapi agresi tersebut.
Situasi di Iran telah memanas sejak akhir Februari 2026, ketika negara tersebut menjadi sasaran serangan dari Amerika Serikat dan Israel. Serangan ini tidak tinggal diam, memicu balasan dari Iran yang ditujukan kepada Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara tetangga hingga saat ini.
Melalui akun pribadi di platform X, Anwar Ibrahim mengungkapkan bahwa percakapannya dengan Presiden Pezeshkian membahas perkembangan terkini terkait konflik yang terjadi di Iran. Ia juga menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta korban jiwa lainnya dari rakyat Iran.
“Malaysia mengecam sekeras-kerasnya serangan Israel yang didukung Amerika Syarikat ke atas Iran. Dalam masa yang sama, Malaysia turut menyatakan keprihatinan terhadap negara-negara sahabat di Teluk yang terkesan akibat konflik ini,” demikian cuitan Anwar Ibrahim dalam bahasa Melayu pada Jumat (27/3).
Pernyataan tersebut menggarisbawahi sikap tegas Malaysia dalam menentang agresi. Lebih lanjut, Anwar Ibrahim menambahkan, “Malaysia mengutuk sebarang tindakan yang menyasarkan orang awam, kerana ia jelas melanggar undang-undang antarabangsa, prinsip kemanusiaan dan nilai keadilan. Saya turut mengambil maklum kesediaan Iran untuk berunding, dengan syarat penamatan perang secara muktamad.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Malaysia tidak hanya mengutuk serangan, tetapi juga mengakui dan menghargai kesediaan Iran untuk bernegosiasi, dengan syarat yang jelas yaitu penghentian perang secara permanen.
Harapan untuk Gencatan Senjata yang Berkelanjutan
Dalam percakapannya, Anwar Ibrahim juga menyuarakan harapannya agar kesepakatan gencatan senjata yang tercapai di masa mendatang akan benar-benar dipatuhi. Ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa tanpa jaminan kepatuhan yang kuat, situasi di Iran berpotensi memburuk dan menyerupai kondisi yang terjadi di Gaza dan Lebanon.
Di Gaza dan Lebanon, meskipun telah ada kesepakatan gencatan senjata, serangan yang seringkali merenggut korban jiwa dari kalangan sipil terus berulang. Hal ini menjadi pengingat akan pentingnya komitmen dan penegakan yang kuat terhadap setiap perjanjian damai yang disepakati.
“Malaysia percaya keamanan sejati menuntut penyelesaian yang tuntas, demi menjamin keselamatan semua pihak serta memulihkan maruah kemanusiaan di rantau Asia Barat,” tegas Anwar Ibrahim, menekankan bahwa solusi yang berkelanjutan adalah kunci untuk menciptakan kedamaian sejati dan memulihkan martabat kemanusiaan di kawasan Asia Barat.
Memperkuat Solidaritas dan Menuju Perdamaian
Lebih lanjut, Anwar Ibrahim menyampaikan apresiasinya atas penghargaan yang diberikan oleh Presiden Pezeshkian terhadap dukungan Malaysia. Ia menegaskan komitmen Malaysia untuk terus memperkuat solidaritas antara kedua negara.
“Saya turut menghargai penghargaan Presiden Pezeshkian terhadap sokongan Malaysia, dan komited untuk terus memperkukuh solidariti ini. Sama-sama kita doakan agar konflik di Asia Barat dapat menemui jalan damai dengan kadar segera,” tutup Anwar Ibrahim, mengakhiri pernyataannya dengan harapan dan doa untuk penyelesaian damai yang segera di Asia Barat.
Hubungan diplomatik yang terjalin antara Malaysia dan Iran, serta sikap tegas Malaysia dalam mengecam agresi dan mendukung upaya perdamaian, mencerminkan peran aktif negara tersebut dalam menjaga stabilitas regional dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan. Dukungan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam meredakan ketegangan dan mengakhiri konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah.




