Pemulihan Arus Perdagangan Energi di Selat Hormuz Menggeliat
Perjanjian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memungkinkan kembali dibukanya jalur pelayaran di Selat Hormuz mulai memberikan dampak positif terhadap pemulihan perdagangan energi global. Data dari perusahaan pemantau arus perdagangan global, Kpler, menunjukkan bahwa sebanyak 20 kapal tanker telah keluar dari Teluk Persia setelah jalur strategis tersebut kembali dibuka. Kapal-kapal ini membawa sekitar 35 juta barel minyak yang sebelumnya tertahan selama lebih dari tiga bulan karena penutupan akses oleh Iran pada awal konflik.
Kpler mencatat bahwa kapal-kapal non-Iran yang sebelumnya terjebak dalam konflik kini telah bergerak menuju tujuan akhir mereka, sebagian besar berada di Asia, dengan estimasi kedatangan pada awal Agustus 2026. Pemulihan pengiriman energi juga turut meningkatkan volume ekspor minyak melalui Selat Hormuz. Berdasarkan data Kpler, jumlah pengiriman minyak yang terkonfirmasi kini mencapai sekitar 4,8 juta barel per hari setelah kesepakatan AS-Iran tercapai.
Meski angka ini meningkat dibandingkan masa konflik, volume tersebut masih jauh di bawah kondisi sebelum perang, di mana sekitar 15 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz. Selain itu, kapal tanker Iran yang mengangkut sekitar 21 juta barel minyak juga telah keluar dari Selat Hormuz sepanjang Juni 2026. Sementara itu, kapal-kapal non-Iran yang dimuat sejak akhir April tercatat membawa sekitar 51 juta barel minyak pada bulan ini.
Pemulihan ekspor minyak terjadi setelah Angkatan Laut AS menghentikan blokade terhadap Iran pada 18 Juni 2026. Pemerintah AS juga memberikan kelonggaran sementara terhadap sanksi penjualan minyak Iran hingga Agustus 2026. Meningkatnya kembali arus perdagangan energi dinilai berpotensi memberikan sentimen positif bagi perekonomian global. Pasokan minyak yang lebih lancar dapat membantu menekan volatilitas harga energi yang selama beberapa bulan terakhir dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Center/JMIC) juga menurunkan tingkat ancaman keamanan pelayaran di Selat Hormuz dari status “kritis” menjadi “moderat”. Menurut JMIC, risiko serangan terhadap kapal masih ada, namun peluangnya dinilai lebih kecil setelah implementasi nota kesepahaman antara AS dan Iran. Perbaikan kondisi keamanan tersebut membuka peluang bagi normalisasi rantai pasok energi global yang selama ini terganggu.
Bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, stabilitas pasokan minyak berpotensi membantu mengurangi tekanan biaya impor energi dan menjaga stabilitas inflasi. Di sisi lain, Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO) menyatakan akan menjalankan rencana evakuasi bagi lebih dari 11 ribu pelaut yang masih berada di kawasan Teluk Persia. Program tersebut didukung Iran, Oman, AS, dan negara-negara Teluk lainnya guna memastikan keselamatan pelayaran dan kelancaran distribusi energi dunia.
Sebelumnya, Duta Besar dan Perwakilan Tetap Iran untuk PBB di Jenewa Ali Bahreini pada Selasa (23/6) mengatakan Selat Hormuz kini terbuka sepenuhnya bagi kapal-kapal dagang. Bahreini mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir sejumlah besar minyak telah dikirim melalui Selat Hormuz dan jalur perairan strategis tersebut beroperasi secara normal. “Selat itu sepenuhnya terbuka bagi kapal-kapal, termasuk kapal dagang,” katanya kepada wartawan di Jenewa.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahreini setelah Iran dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan yang mencakup pemulihan pelayaran di Selat Hormuz. Pekan lalu, Iran dan Amerika Serikat secara elektronik menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad untuk mengakhiri konflik militer yang dimulai pada 28 Februari. Dokumen tersebut menetapkan tenggat waktu bagi AS untuk mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran serta bagi Iran untuk memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Negosiasi teknis antara Iran dan AS, yang dimediasi Pakistan dan Qatar, digelar di Swiss pada 21 Juni guna membahas implementasi MoU Islamabad. Laporan Anadolu menyebut lalu lintas kapal komersial di selat itu meningkat ke level tertinggi sejak awal Juni setelah kesepakatan tersebut mulai berlaku.






