Awalnya Suara Anjing, Pelaku Pembunuhan Ayah Okta Dibongkar

Peristiwa Berdarah di Kota Jambi: Awal Kecil yang Berujung pada Pembunuhan

Sebuah peristiwa tragis terjadi di Kota Jambi, yang berawal dari sebuah kesalahpahaman kecil antara anak-anak dan orang tua. Kejadian ini menewaskan seorang pria bernama Indra Kusuma (39), yang merupakan tetangga dari pelaku.

Peristiwa itu terjadi di RT 10, Pinang Merah, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi. Seorang anak SMA dan dua pamannya menghabisi nyawa korban. Berikut penuturan Okta (18), putri dari almarhum Indra Kusuma, dalam wawancara dengan jurnalis Tribun Jambi.

Awal Peristiwa

Awalnya, adik Okta sedang bermain bersama teman-temannya di depan rumah terduga pelaku. Di lokasi tersebut, ada seekor anjing yang menggonggong. Anak-anak yang berada di sekitar langsung menyebut kata “anjing”.

“Diduga, mamanya pelaku mengira adik kami menyebut anaknya anjing, jadi langsung marah dan mengejar adik kami,” ujar Okta saat diwawancara di lokasi kejadian.

Adik Okta pun berlari dan bersembunyi di semak-semak karena ketakutan. Peristiwa ini sempat disaksikan oleh beberapa warga setempat.

Penjelasan Lebih Lanjut

Reporter Tribun Jambi bertanya bagaimana awal kejadian itu terjadi. Okta menjelaskan bahwa awalnya hanya masalah kecil. Adiknya sedang bermain di depan rumah pelaku. Di sekitar lokasi, ada anjing yang menggonggong.

Setelah itu, salah satu teman adik Okta berkata, “Ih, ada anjing.” Mamak dari terduga pelaku mengira adik Okta mengatai anaknya anjing. Dari situ, mamaknya langsung marah dan mengejar adik Okta serta temannya.

Okta juga menjelaskan bahwa ada saksi yang melihat kejadian itu. Salah satunya adalah Dewa, yang kemudian datang ke rumah mereka dan menceritakan bahwa mamak pelaku mencari-cari adik Okta sambil marah-marah.

Perkembangan Situasi

Setelah kejadian itu, keluarga Okta mendatangi mamak pelaku untuk menanyakan kejadian tersebut. Namun, mamak pelaku hanya menjawab bahwa dia berbicara baik-baik. Padahal, jika benar-benar baik-baik, adik Okta tidak mungkin lari sampai sembunyi.

Ada sepupu Okta yang menjadi saksi kejadian tersebut. Anak dari mamak pelaku menegur sepupu Okta dan menyuruhnya duduk masing-masing. Nada bicaranya keras.

Ayah Okta menegur balik dan bertanya kenapa pelaku marah-marah ke sepupu Okta. Tapi malah ayah Okta yang disegak juga oleh pelaku.

Pelaku Kembali dengan Senjata

Setelah itu, pelaku pergi ambil motor dan kembali ke lokasi bersama keluarganya. Saat kembali, pelaku sudah membawa mandau dan pisau.

Begitu datang, bapak Okta langsung ditusuk. Korban terkena di bagian pinggang dan punggung. Bapak Okta tidak melawan sama sekali dan langsung lari ke dalam rumah untuk menyelamatkan diri.

Namun, dia tetap dikejar sampai ke dalam rumah dan dikeroyok. Kejadiannya sangat cepat.

Pelaku dan Motif

Menurut Okta, jumlah pelaku ada tiga orang. Semuanya masih keluarga, saudara dari mamak pelaku. Sebelumnya, ada tanda-tanda rencana. Mamak pelaku sempat bilang, “Saudaraku marah, tunggu abang aku datang.” Dia juga telepon-telepon. Menurut Okta, memang sudah ada niat.

Usia pelaku berbeda. Satu masih seumuran dengan Okta, yaitu SMA. Dua lainnya sudah dewasa. Yang masih SMA sudah diamankan, sedangkan satu lagi masih kabur. Umur pelaku dewasa tersebut, Okta kurang tahu, tapi sudah tua.

Korban Lain

Selain ayah Okta, Abang Okta juga terluka karena berusaha melindungi bapak. Lukanya di tangan kiri dan kanan, bagian dada atas dekat tulang, dan kaki kanan.


Pos terkait