Harga Belacan di Bangka Belitung Melambung, Lebih Mahal dari Timah
Di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, harga belacan atau terasi di Bangka Belitung mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Bahkan, harga satu kilogram terasi di Pasar Kota Pangkalpinang mencapai Rp250 ribu per kilogram. Beberapa pedagang bahkan menjualnya dengan harga hingga Rp300 ribu per kilogram.
Kenaikan harga ini membuat warga setempat terkejut karena melebihi harga pasir (bijih) timah, komoditas ekspor utama Bangka Belitung. Hal ini menjadi sorotan di media sosial, dan banyak warga menyampaikan reaksi mereka terhadap fenomena ini.
Reaksi Warga dan Konten Viral
Salah satu warga, Anta Wirja, membagikan pengalamannya dalam sebuah video di media sosial. Dalam konten tersebut, ia menunjukkan harga belacan yang mencapai Rp250 ribu per kilogram. Video itu kemudian viral dan bahkan diputar di televisi nasional.
“Saya tidak menyangka bisa sampai sejauh itu. Awalnya cuma iseng berbagi kondisi di lapangan,” kata Anta. Ia mengaku mendapat respons yang sangat besar dari warganet, dengan jumlah penonton hingga 50 ribu dan banyak yang membagikan ulang kontennya.
Menurut Anta, reaksi masyarakat terhadap kenaikan harga belacan lebih besar dibandingkan komoditas lain. “Kalau BBM naik biasa saja, harga kebutuhan lain juga masih santai. Tapi begitu belacan naik, langsung ramai,” ujarnya.
Penelusuran ke Pasar
Untuk memastikan kondisi tersebut, Anta langsung mengunjungi pasar langganannya. Ia menemui beberapa pedagang dan mengetahui bahwa harga belacan memang meningkat tajam. “Ada yang jual Rp250 ribu per kilo, bahkan ada yang bilang sampai Rp300 ribu. Itu yang membuat saya makin yakin ini harus dibagikan,” katanya.
Video singkat yang dibuat Anta berdurasi 47 detik dan menampilkan belacan yang ia beli sambil menjelaskan harga terkini. Respons warganet didominasi rasa kaget, dengan beberapa membandingkan harga belacan dengan daging sapi atau menyebutnya sebagai “barang mewah”.
Peran Belacan dalam Kehidupan Sehari-hari
Di Bangka Belitung, belacan bukan sekadar bumbu pelengkap. Hampir semua masakan tradisional menggunakan bahan ini, seperti lempah kuning, lempah darat, hingga sambal. Anta mengatakan bahwa belacan menjadi kebutuhan pokok ke-10 bagi masyarakat setempat.
“Dalam seminggu bisa tiga kali masak pakai belacan. Jadi ini memang kebutuhan, bukan sekadar tambahan,” ujarnya. Ia bahkan menyebut belacan sebagai salah satu bahan penting dalam kehidupan sehari-hari.
Kenaikan Harga Menjelang Idul Fitri
Kenaikan harga belacan mulai terasa menjelang Idul Fitri 2026. Anta awalnya hanya mendengar kabar dari tetangga sebelum memastikan langsung ke pasar. “Awalnya dengar sudah Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Pas saya cek langsung, ternyata memang benar,” katanya.
Menurut Anta, harga belacan juga dipengaruhi oleh kualitas. Belacan dengan warna kemerahan dan aroma khas biasanya dihargai lebih tinggi dibandingkan yang berwarna gelap. “Kalau murah tapi rasanya kurang, tetap orang pilih yang enak. Jadi kualitas tetap nomor satu,” ujarnya.
Belacan asal Toboali, Bangka Selatan, masih menjadi favorit masyarakat karena kualitasnya yang terjaga. Meski mahal, permintaan tetap tinggi. “Biasanya dari Toboali. Walaupun mahal, orang tetap cari karena kualitasnya sudah terjamin,” kata Anta.
Faktor Udang dan Siklus Produksi
Menurut Rama Karna Maulana, Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bangka Selatan, kenaikan harga belacan dipicu oleh terbatasnya pasokan bahan baku utama, yakni udang rebon. Kondisi ini menyebabkan produksi belacan menurun.
“Memang kemarin bahan bakunya susah. Udangnya tidak mencukupi untuk produksi. Jadi bukan karena ditahan pedagang, tapi dari hulunya yang bermasalah,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kondisi ini merupakan siklus tahunan yang dipengaruhi musim.
“Ini memang faktor musiman. Kalau bahan baku banyak, harga turun. Kalau sedikit, otomatis naik,” ujarnya. Saat ini, harga belacan di tingkat produsen berkisar antara Rp120 ribu sampai Rp150 ribu per kilogram, dengan tren penurunan ke angka Rp100 ribu sampai Rp120 ribu.





