Berbeda dari Bank Dunia, Waka MPR Eddy Yudhoyono Optimis Ekonomi RI Tumbuh di Atas 5%



JAKARTA – Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno memberikan tanggapan terkait laporan proyeksi Bank Indonesia yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya sebesar 4,7% pada tahun 2026. Ia menyatakan angka tersebut lebih rendah dibandingkan target pemerintah yang mencapai 5,4%. Namun, berbeda dengan prediksi dari Bank Dunia, politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini tetap optimis bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih kuat untuk mencapai pertumbuhan di atas 5% dalam tahun ini.

Menurut Eddy, dampak perang di Timur Tengah yang belum berakhir hingga saat ini akan berdampak pada seluruh negara di dunia. Pertumbuhan ekonomi secara global diprediksi akan terganggu akibat gangguan pada rantai pasok energi. Namun, Indonesia memiliki keunggulan tersendiri karena menjadi eksporter sumber daya alam seperti batu bara, minyak kelapa sawit, nikel, dan timah. Harga komoditas-komoditas ini mengalami apresiasi yang cukup signifikan.

Eddy juga menegaskan bahwa Indonesia relatif mandiri dalam aspek ketenagalistrikan. Pasokan listrik untuk sektor industri, niaga, dan rumah tangga nyaris tidak terganggu oleh kendala impor migas dan BBM. Hal ini disebabkan oleh penggunaan batu bara dan gas yang berasal dari dalam negeri untuk pembangkit tenaga listrik.

“Berbeda dengan Singapura, Jepang, atau Korea yang memerlukan impor gas dan batu bara agar tidak terjadi pemadaman listrik,” ujarnya.

Namun, ia tidak menyangkal bahwa ruang fiskal APBN saat ini cukup ketat. Menurutnya, di tengah kenaikan harga BBM yang sangat vital bagi perekonomian nasional, khususnya sektor industri, transportasi, dan rumah tangga, Menteri Keuangan harus sangat cermat dalam melakukan pengalokasian anggaran agar daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

“Terakhir, kita juga perlu mengantisipasi kenaikan harga lebih tinggi lagi dari bahan baku plastik dan pupuk yang akan menyebabkan kenaikan harga pangan dan produk makanan melonjak. Jika harga pupuk meningkat, tentu harga beras dan sayur-sayuran otomatis akan disesuaikan,” katanya.

Ia melanjutkan, “Begitupula jika harga plastik terus meroket, harga mi instan, air minum dalam kemasan, harga barang rumah tangga seperti ember, selang air, alat masak dan lain-lain juga akan bertambah mahal.”

Eddy meyakini bahwa dalam kondisi perekonomian dunia yang sedang terganggu, pemerintah akan tetap berupaya memberikan bantalan sosial yang kuat bagi mereka yang membutuhkan dan mengendalikan inflasi agar konsumsi masyarakat tidak terganggu.

“Ia juga mengajak masyarakat agar ikut berpartisipasi menghemat penggunaan energi bersubsidi misalnya, agar anggaran penghematan ini bisa kemudian dialokasikan untuk diberikan kepada saudara-saudara kita yang lebih membutuhkannya,” tutup Eddy.

Pos terkait