Bitcoin Menjelang Level $70.000, Pasar Kripto Tunjukkan Sinyal Pemulihan
Pasar aset digital kembali menunjukkan geliat positif, dengan Bitcoin (BTC) secara perlahan mendekati kembali angka psikologis US$ 70.000, atau setara dengan sekitar Rp 1,18 miliar. Pada pagi hari ini, BTC bahkan sempat menyentuh angka US$ 71.003 (Rp 1,19 miliar menggunakan kurs Rp 16.838 per dolar AS). Meskipun demikian, dalam sepekan terakhir, aset kripto utama ini masih tercatat mengalami pelemahan sekitar 10,7%.
Performa Koin Digital Lainnya
Tidak hanya Bitcoin, aset kripto unggulan lainnya juga turut menunjukkan tren yang menjanjikan. Ethereum (ETH), misalnya, berhasil mencapai level US$ 2.109 per dolar AS, atau sekitar Rp 35,51 juta. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, ETH mengalami kenaikan sebesar 0,99%. Namun, jika dilihat dalam rentang tujuh hari, ETH masih tercatat melemah 10,18%.
Stablecoin seperti Tether (USDT) juga menunjukkan stabilitas dengan kenaikan tipis 0,03% dalam 24 jam terakhir, diperdagangkan pada level US$ 0,999 atau Rp 16.821. Dalam sepekan, USDT bahkan mencatatkan kenaikan sebesar 0,02%.
Sementara itu, XRP terpantau berada di angka US$ 1,44 atau setara dengan Rp 24.247. Aset kripto ini mengalami kenaikan 0,94% dalam 24 jam terakhir. Namun, layaknya aset kripto lainnya, XRP juga masih dalam tren pelemahan mingguan, tercatat sebesar 11,10%.
Analisis dan Proyeksi Pasar
Di tengah fluktuasi yang terjadi, para analis pasar memberikan pandangan yang optimis mengenai prospek jangka panjang Bitcoin. Perusahaan riset Wall Street, Bernstein, melalui analisnya Gautam Chhugani, kembali menegaskan target harga Bitcoin di akhir tahun ini dapat menembus US$ 150.000, yang berarti setara dengan sekitar Rp 2,53 miliar. Chhugani menyatakan bahwa kondisi pasar saat ini merupakan skenario penurunan terlemah dalam sejarah Bitcoin, dan waktu adalah faktor kunci yang akan menentukan pergerakan harga selanjutnya.
“Apa yang kita alami adalah skenario penurunan Bitcoin terlemah dalam sejarahnya. Mengulangi target harga Bitcoin sebesar US$ 150.000 pada akhir tahun. Waktu, tetap menjadi lingkaran datar pada Bitcoin,” ujar Chhugani.
Pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya saat ini masih sangat dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Januari 2026 diperkirakan masih akan diwarnai oleh ketidakpastian kebijakan yang tinggi. Hal ini turut dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).
Faktor Makroekonomi yang Mempengaruhi Pergerakan Kripto
- Kebijakan Suku Bunga The Fed: Pasar memprediksi The Fed kemungkinan besar tidak akan menurunkan suku bunga acuan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) di bulan Maret 2025. Ketidakpastian ini mencerminkan tekanan inflasi yang terus-menerus dan prospek kebijakan moneter yang cenderung ketat.
- Ketidakpastian Kepemimpinan The Fed: Isu seputar penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed menambah lapisan ketidakpastian pada aset berisiko, termasuk kripto.
- Imbal Hasil Obligasi dan Kondisi Keuangan: Imbal hasil obligasi pemerintah yang tinggi, ditambah dengan kondisi keuangan yang ketat, secara umum memberikan tekanan pada aset-aset berisiko. Fenomena ini dapat mengakibatkan likuiditas yang lebih rendah di pasar kripto dan menekan permintaan terhadap Bitcoin.
Meskipun tantangan makroekonomi masih ada, sinyal positif dari pergerakan harga Bitcoin yang kembali mendekati US$ 70.000 memberikan optimisme bagi para investor. Kenaikan lebih dari 3% dari titik terendah dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa aset digital ini masih memiliki daya tarik yang kuat di mata investor global.
Analisis dari Trading View juga menggarisbawahi pentingnya memantau indikator makroekonomi yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah pergerakan pasar kripto di masa mendatang. Kehati-hatian dalam mengambil keputusan investasi tetap menjadi kunci di tengah volatilitas yang inheren pada aset digital.





