PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau yang lebih dikenal dengan BTN, baru-baru ini mengklarifikasi posisinya terkait rencana pembelian kembali saham atau buyback. Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyatakan bahwa saat ini perseroan belum memiliki niat untuk melakukan aksi korporasi tersebut. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan strategis untuk menjaga porsi kepemilikan saham publik.
Strategi Kepemilikan Saham Publik dan Insentif Pajak
Nixon menjelaskan bahwa BTN perlu mempertahankan minimal 40% saham yang dimiliki oleh publik. Hal ini sangat krusial karena perseroan dapat memanfaatkan insentif pajak korporasi sebesar 5%. “Jadi bank seperti kami itu mesti hati-hati mengambil saham dari publik untuk dijadikan saham treasury stocks,” ujar Nixon kepada awak media di Kantor BTN, Jakarta Pusat.
Meskipun buyback saham belum menjadi agenda, BTN memiliki alternatif lain untuk memanfaatkan saham yang ada di tangan publik. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah membeli saham publik untuk kemudian dibagikan sebagai bonus tahunan kepada karyawan. “Paling itu. Jadi bonusnya kami convert jadi saham. Karyawan senang juga kok. Bisa dikasih dalam bentuk rupiah, bisa dikasih dalam bentuk saham,” jelasnya. Pendekatan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan perusahaan dalam mengelola kepemilikan saham, tetapi juga memberikan apresiasi kepada sumber daya manusianya.
Pergerakan Saham BBTN dan Proyeksi Dividen
Dalam sebulan terakhir, saham BBTN memang mengalami koreksi sebesar 7,35% atau setara dengan 100 poin. Namun, jika dilihat dalam rentang tiga bulan terakhir, saham perseroan menunjukkan tren penguatan yang signifikan, yaitu sebesar 15,60% atau 170 poin. Kinerja positif ini juga terlihat dalam perhitungan year to date (YtD), di mana saham BBTN telah meningkat 7,23% atau 85 poin, mencapai level Rp1.260 per saham.
Selain itu, BTN juga membuka peluang untuk meningkatkan porsi pembagian dividen dari laba bersih tahun buku 2025. Rencananya, dividen akan dinaikkan menjadi 30% dari laba bersih, meningkat dari porsi 25% pada tahun sebelumnya. Nixon mengungkapkan bahwa usulan kenaikan dividen ini merupakan bagian dari strategi perseroan untuk mengelola sekaligus meningkatkan return on equity (ROE) BTN. Targetnya, ROE perseroan pada tahun ini dapat naik sekitar 2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Dividen kami rencana, kami akan usulkan 30%, naik dari tahun lalu,” ujar Nixon.
Kinerja Keuangan BTN Sepanjang 2025
BTN mencatat kinerja keuangan yang impresif sepanjang tahun 2025. Perseroan berhasil membukukan laba bersih tahun berjalan konsolidasian sebesar Rp3,5 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 16,4% secara year on year (YoY) dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar Rp3,0 triliun.
Peningkatan laba bersih BTN ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga yang solid. Pendapatan bunga naik sebesar 23,0% YoY, mencapai Rp36,3 triliun hingga akhir 2025, melonjak dari Rp29,6 triliun pada tahun 2024. Di sisi lain, beban bunga mengalami peningkatan yang sangat minim, yaitu hanya 0,4% YoY, menjadi Rp17,9 triliun per akhir 2025, hampir sama dengan Rp17,9 triliun pada tahun sebelumnya.
Hasil dari kombinasi pendapatan bunga yang meningkat pesat dan beban bunga yang terkendali adalah lonjakan pendapatan bunga bersih. BTN membukukan pendapatan bunga bersih yang naik sebesar 57,5% YoY, mencapai Rp18,4 triliun pada akhir 2025, dibandingkan dengan Rp11,7 triliun pada tahun 2024.
Fungsi Intermediasi dan Pertumbuhan DPK
Dari sisi fungsi intermediasi, BTN menunjukkan performa yang kuat dalam penyaluran kredit dan pembiayaan. Penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasian tercatat tumbuh sebesar 11,9% YoY, mencapai Rp400,6 triliun. Angka ini meningkat signifikan dari Rp358,9 triliun pada tahun 2024.
Sektor perumahan tetap menjadi fokus utama penyaluran kredit BTN. Mayoritas kredit yang disalurkan ke sektor ini mencapai Rp328,4 triliun hingga Desember 2025. Realisasi ini menunjukkan peningkatan sebesar 7,5% YoY dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp305,6 triliun.
Pada saat yang sama, BTN juga berhasil meningkatkan perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) konsolidasian. Hingga akhir tahun lalu, DPK mencapai Rp437,4 triliun, yang berarti tumbuh sebesar 14,6% YoY dibandingkan dengan angka Rp381,7 triliun pada tahun 2024. Pertumbuhan DPK ini menjadi modal penting bagi BTN untuk terus menjalankan fungsi intermediasinya dalam menyalurkan kredit.



