Cilacap Terima KLB, Dinkes Banyumas Waspadai Lonjakan Kasus Campak

Penularan Campak di Banyumas Mengkhawatirkan

Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (KB) Kabupaten Banyumas saat ini sedang memperhatikan penyebaran penyakit campak pasca-libur panjang sekolah dan Lebaran 2026. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap lima daerah di Jawa Tengah yang ditetapkan masuk dalam indikasi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit campak. Lima daerah tersebut adalah Kabupaten Cilacap, Klaten, Pati, Brebes, dan Kudus.

Dinkes KB Banyumas meningkatkan kewaspadaan karena salah satu daerah yang masuk KLB adalah Kabupaten Cilacap, yang merupakan tetangga dekat Banyumas. Meskipun ada kenaikan kasus campak setelah libur panjang, angka peningkatan tersebut belum signifikan.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes KB Banyumas, dr Anwar Hudiono, menyampaikan bahwa data sementara per 30 Maret 2026 menunjukkan 20 kasus positif campak (Morbilli) dan 4 kasus positif Rubella. Sementara itu, pada awal tahun 2026 hanya tercatat 12 kasus positif campak (Morbilli) dan 1 kasus positif Rubella.

“Campak ini kita masih terus surveilans, pengamatan terus menerus. Tapi kita memang tidak masuk daerah KLB,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes KB Banyumas, dr Dani Esti Novia, mengimbau warga Banyumas untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit campak. Ia menjelaskan bahwa campak merupakan infeksi pernapasan yang menular melalui udara. Ada dua jenis virus yang bisa menyebabkan penyakit ini, yaitu virus Morbilli dan virus Rubella.

“Penularan melalui udara. Jadi pada saat anak itu batuk dan terpapar virus campak, maka bisa menularkan ke yang lain,” jelasnya.

Dani menekankan bahwa campak mudah menular dan biasanya menyerang anak di bawah usia 5 tahun. Gejalanya meliputi demam, batuk, pilek, dan beberapa hari kemudian muncul ruam kemerahan.

Ia menyarankan masyarakat untuk melakukan berbagai antisipasi agar anak tidak terpapar campak. Salah satunya adalah dengan vaksinasi.

“Pastikan anak ini mengikuti vaksinasi campak, di usia 9 bulan, 1,5 tahun, dan 7 tahun,” ungkapnya.

Menurut Dani, anak yang sudah divaksin memiliki tingkat kesembuhan yang lebih cepat jika terpapar virus campak. Pengobatannya melibatkan minum obat, istirahat yang cukup, serta konsumsi makanan bergizi.

“Mayoritas pasien sembuh, kami melihat karena faktor vaksin. Jadi dengan sudah vaksin kondisi tubuhnya tidak parah, meskipun sudah positif,” jelasnya.

Langkah Pencegahan yang Harus Dilakukan

Untuk mencegah penyebaran campak, masyarakat diharapkan melakukan langkah-langkah pencegahan berikut:

  • Vaksinasi rutin: Pastikan anak mendapatkan vaksinasi campak sesuai jadwal, yaitu di usia 9 bulan, 1,5 tahun, dan 7 tahun.
  • Kebersihan diri: Ajarkan anak untuk selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan setelah bermain.
  • Hindari kerumunan: Saat musim penyebaran penyakit, hindari membawa anak ke tempat-tempat yang ramai atau berisiko tinggi terpapar virus.
  • Pemantauan kesehatan: Jika anak menunjukkan gejala seperti demam, batuk, atau ruam, segera lakukan pemeriksaan ke puskesmas atau dokter.

Dengan langkah-langkah pencegahan ini, diharapkan penyebaran penyakit campak dapat diminimalisir dan kesehatan masyarakat tetap terjaga.


Pos terkait