Cuaca Ekstrem Pengaruhi Produksi Durian di Wonosalam
Cuaca ekstrem yang melanda wilayah lereng Gunung Anjasmoro, khususnya di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, memberikan dampak serius terhadap produksi durian pada musim panen tahun ini. Intensitas hujan tinggi yang disertai angin kencang menyebabkan sebagian besar tanaman durian mengalami gagal panen. Hal ini memaksa agenda tahunan Kontes Durian Wonosalam, yang selama ini menjadi ikon wisata Jombang, terpaksa diundur hingga waktu yang belum ditentukan.
Sekretaris Asosiasi Pariwisata Jombang (ASPARJO), Jalaludin Hambali, menjelaskan bahwa gangguan cuaca sudah terjadi sejak awal masa pembungaan. Curah hujan tinggi membuat bunga durian rontok sebelum berkembang menjadi bakal buah. “Sejak awal pembungaan, hujan deras dan angin kencang menyebabkan bunga dan bakal buah rontok. Tingkat kerusakannya mencapai lebih dari 90 persen,” kata Jalaludin, Selasa 20 Januari 2026.
Ia menambahkan, kondisi cuaca yang tidak menentu turut mengganggu proses pembuahan. Padahal, pada tahun-tahun normal, durian Wonosalam biasanya mulai memasuki masa panen pada Januari. “Biasanya Januari sudah mulai masak buah, tapi tahun ini hasilnya sangat jauh berkurang,” ujarnya.
Akibat gagal panen tersebut, produksi durian di sejumlah desa sentra durian Wonosalam dipastikan anjlok drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Minimnya jumlah buah juga berdampak langsung pada pelaksanaan kontes durian, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas buah yang akan dinilai. Panitia akhirnya memutuskan untuk mengundur jadwal Kontes Durian Wonosalam karena buah durian yang tersedia belum memenuhi standar penilaian.
“Insyaallah kontes durian akan digelar pada Oktober hingga November 2026, saat musim sela, dengan harapan kondisi panen sudah lebih memungkinkan,” jelas Jalaludin.
Selain cuaca ekstrem, serangan hama turut memperparah kondisi kebun durian. Banyak buah muda dilaporkan membusuk dan gugur sebelum mencapai usia matang. Para petani berharap cuaca ke depan lebih bersahabat agar durian khas Wonosalam yang dikenal memiliki cita rasa unggul tetap terjaga kualitasnya, sekaligus mendukung keberlangsungan agenda tahunan daerah dan sektor pariwisata Jombang.
Dampak Gagal Panen pada Sektor Wisata
Kontes Durian Wonosalam bukan hanya sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin merasakan keunikan durian lokal. Dengan pengunduran acara, para pengunjung yang biasanya datang dari berbagai daerah akan kehilangan kesempatan untuk mengikuti tradisi ini. Hal ini bisa berdampak pada pendapatan masyarakat sekitar yang bergantung pada sektor pariwisata.
Beberapa desa di sekitar Wonosalam juga mengalami penurunan pemasukan karena kurangnya pasokan durian. Petani yang biasanya menjual buah segar kepada pasar lokal atau luar daerah kini harus mencari alternatif lain untuk menjual hasil pertanian mereka. Beberapa di antaranya bahkan mempertimbangkan untuk beralih ke tanaman lain yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem.
Upaya Perbaikan dan Harapan Masa Depan
Meskipun situasi saat ini cukup sulit, para petani dan pengelola kontes tetap optimis. Mereka berharap musim panen berikutnya akan lebih stabil, sehingga durian Wonosalam dapat kembali menjadi andalan ekonomi daerah. Selain itu, beberapa organisasi lokal sedang merancang program pelatihan untuk meningkatkan ketahanan pertanian terhadap perubahan iklim.
Dalam jangka panjang, pemerintah setempat juga diminta untuk memperhatikan isu perubahan iklim dan memberikan dukungan dalam bentuk infrastruktur serta teknologi pertanian yang lebih modern. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan produksi durian Wonosalam dapat kembali pulih dan tetap menjadi salah satu ikon wisata yang diminati oleh masyarakat luas.





