Kelezatan Kuliner Dunia dan Analogi Sepak Bola Indonesia
Dunia kuliner adalah sebuah peta rasa yang luas, di mana setiap negara memiliki keunikan dan keistimewaannya sendiri. Sebuah pemeringkatan yang pernah dibuat oleh seorang kawan, yang lidahnya tak diragukan lagi dalam urusan makanan, menempatkan Italia di puncak daftar negara-negara Eropa dengan hidangan khas terbaik. Spanyol, Turki, dan Prancis menyusul di belakangnya, dengan Jerman dan Yunani turut menghiasi sepuluh besar.
Di benua Asia, Indonesia berhasil menembus lima besar, bersanding dengan raksasa kuliner seperti India, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Meskipun pemeringkatan ini tidak pernah dipublikasikan secara luas karena sang pembuatnya bukanlah figur publik, akurasinya mengejutkan. Hal ini terbukti ketika dibandingkan dengan “map of cuisines with ratings” yang disusun oleh TasteAtlas.com, sebuah situs yang menyebut dirinya sebagai ensiklopedia rasa dan atlas dunia untuk hidangan tradisional, bahan lokal, serta restoran otentik.
Hasil pemeringkatan TasteAtlas.com pun mengukuhkan posisi Italia, Spanyol, dan Prancis di Eropa. Keberadaan restoran-restoran khas dari ketiga negara ini yang tersebar luas di Indonesia, terutama di kota-kota besar, seolah menjadi bukti nyata popularitas kuliner mereka.
Namun, bagaimana dengan negara-negara lain yang juga familiar bagi masyarakat Indonesia, seperti Inggris dan Belanda? Keduanya tidak berhasil masuk dalam sepuluh besar. TasteAtlas.com menempatkan Inggris di peringkat ke-15 dan Belanda di peringkat ke-17.
Ketika ditanya mengenai kuliner Inggris dan Belanda, kawan tersebut tidak menyebutnya tidak enak, melainkan menggunakan diksi “dingin” dan “tidak bergejolak”. Ia berujar, “Fish and Chips seperti kawan lama yang tak pernah terlalu akrab, dan Bitterballen hanya pelengkap yang lebih enak jika disiram kuah soto.”
Dari Lidah Koki ke Lapangan Hijau: Perjalanan Kuliner dalam Sepak Bola Indonesia
Pembicaraan mengenai kuliner ini secara tak terduga menyeret ingatan pada sosok John Herdman, pelatih kepala baru tim nasional sepak bola Indonesia yang berasal dari Inggris. Penunjukannya oleh PSSI menjadi momen penting, terutama saat ia mempersiapkan tim untuk gelaran FIFA Series.
Perhelatan ini, yang merupakan bagian dari FIFA Matchday dengan format mini turnamen, akan mempertemukan Indonesia dalam satu grup berisi empat tim. Setelah menghadapi Saint Kitts & Nevis pada 27 Maret 2026, tim Garuda akan ditantang oleh Bulgaria atau Kepulauan Solomon empat hari kemudian. Terlepas dari hasil pertandingan, momen ini sangat dinantikan publik sepak bola Indonesia sebagai penampilan perdana Tim Nasional di bawah komando Herdman.
Publik pun dibuat penasaran, bagaimana racikan taktik Herdman akan terlihat? Akankah berbeda jauh dari pendahulunya, Patrick Kluivert? Atau justru akan mengingatkan pada gaya kepelatihan Shin Tae-yong (STY)?
Tak bisa dipungkiri, nama Shin Tae-yong masih sangat relevan dalam setiap perbincangan. Terlepas dari pro dan kontra, setelah periode yang sulit, STY diakui sebagai pembawa perubahan positif bagi sepak bola Indonesia. Meskipun belum berhasil mempersembahkan gelar juara, ia dinilai telah berhasil membangun fondasi baru bagi sepak bola nasional.
Jika diibaratkan seorang juru masak, STY datang dari “restoran Korea” dan berhasil memadukan elemen-elemen yang pas. Ia menyajikan semangkuk nasi putih dengan aneka sayuran, daging sapi, dan telur, yang disiram dengan saus pedas gochujang. Hidangan ini dikenal sebagai bibimbap, yang memiliki kemiripan dengan konsep “nasi campur” di Indonesia.
STY telah menorehkan langkah signifikan sebelum akhirnya digantikan oleh pelatih yang berasal dari Belanda. Ada spekulasi bahwa PSSI mungkin memandang, secara kultural, bibimbap terasa kurang dekat dengan Indonesia dibandingkan dengan bitterballen, kuliner warisan kolonial Belanda. Jika daging giling, kaldu sapi, keju, dan susu dari bitterballen disingkirkan, ia akan dikenali sebagai perkedel.
Namun, kita tahu bagaimana akhir dari era kepelatihan dengan “sentuhan Belanda” tersebut. Dalam delapan pertandingan, timnas Indonesia hanya mampu meraih tiga kemenangan, satu imbang, dan empat kekalahan. Tercatat sebelas gol berhasil dicetak, namun 15 gol bersarang di gawang sendiri. Momen tersebut juga menandai kegagalan Indonesia untuk mengubur mimpi berlaga di Piala Dunia 2026.
Bagi Indonesia, Piala Dunia 2026 memang terasa seperti mimpi yang terlalu tinggi, sebuah ambisi yang mungkin melampaui kapasitas saat ini. PSSI pun menyadari hal ini, dan kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 bukanlah akhir dari segalanya, melainkan target untuk edisi mendatang.
Pertanyaannya, mengapa Patrick Kluivert harus dipecat? Tentunya bukan semata-mata karena bitterballen. Bukan karena bitterballen tidak cocok bagi pemain Indonesia yang sebelumnya terbiasa dengan bibimbap. Alasan utamanya adalah Kluivert, sebagai “kepala koki”, dinilai hanya mengandalkan satu menu andalan, yaitu bitterballen.
Padahal, kuliner Belanda kaya akan variasi. Ada poffertjes, appeltaart, stroopwafel, wentelteefjes, kibbeling, bahkan hidangan yang mirip dengan nasi campur, yaitu rijsttafel. Menghadapi hidangan dari berbagai belahan dunia seperti sushi dan ramen dari Jepang, shawarma dan ma’amoul dari Timur Tengah, mujaddara, atau bahkan sausage sizzle dan kangaroo steak dari Australia, Kluivert seolah hanya terpaku pada bitterballen.
Singkatnya, Kluivert dan timnya dinilai memiliki selera yang “dingin dan tidak bergejolak”, minim kreasi, serta minim taktik. Berbeda dengan STY, yang dari pertandingan ke pertandingan selalu menyuguhkan variasi. Ia tidak hanya menyajikan bibimbap, tetapi juga menambahkan elemen lain seperti bulgogi, kimchi, makgeolli, dan naengmyeon. Meski begitu, STY juga pernah menyajikan menu yang dianggap “aneh” dan bercita rasa kurang baik, seperti hongeo-hoe (ikan pari fermentasi yang berbau amonia).
Potensi John Herdman: Harapan Baru dari Negeri Anggur dan Sepak Bola Inggris
Lalu, bagaimana dengan John Herdman? Sekali lagi, ia berasal dari Inggris. Sebuah lelucon klasik mengenai “Surga dan Neraka” pernah menggambarkan hal ini. Dalam kolom “Surga”, disebutkan: Koki: Italia, Kekasih: Prancis, Insinyur: Jerman, Organisator: Swiss, Polisi: Inggris. Sebaliknya, di kolom “Neraka”: Koki: Inggris, Kekasih: Swiss, Insinyur: Prancis, Organisator: Italia, Polisi: Jerman.
Lelucon ini jelas menggambarkan stereotip. Urusan memasak dianggap menyenangkan dan indah jika ditangani orang Italia, namun bisa menjadi mengerikan jika diserahkan pada orang Inggris. Stereotip ini mungkin lahir dari budaya kuliner Inggris yang relatif lebih sederhana dibandingkan negara Eropa lainnya, ditambah dengan kecenderungan konsumsi makanan siap saji yang tinggi.
Umumnya, menu utama di Inggris terdiri dari potongan daging yang dimasukkan ke dalam pai, atau daging sapi yang dimasak hingga berwarna abu-abu, disajikan bersama kentang goreng dan ikan goreng. Bumbu yang digunakan cenderung minim, menghasilkan hidangan yang berat namun hambar, serupa dengan filosofi sepak bola “kick and rush” yang terkenal dari Inggris.
Namun, ada kabar baik. John Herdman tidak sepenuhnya lahir dari rahim sepak bola Inggris yang kental dengan filosofi “kick and rush”. Ia bahkan tidak pernah tercatat memperkuat klub Inggris yang memiliki akar kuat pada gaya permainan tersebut.
Ia hanya “menumpang lahir” di Inggris, lalu di masa mudanya pindah ke Selandia Baru dan bermain untuk klub Hibiscus Coast AFC. Tidak ada catatan karier pemain yang signifikan setelah itu, hingga ia dipercaya menjadi pelatih kepala tim nasional wanita Selandia Baru dan berhasil membawa mereka lolos ke Piala Dunia dua kali.
Selanjutnya, ia pindah ke Kanada untuk menangani tim nasional wanita, dan kembali berhasil mengantarkan mereka ke Piala Dunia. Pada tahun 2018, ia mengambil alih tim nasional pria Kanada, dan empat tahun kemudian, Kanada pun berhasil lolos ke Piala Dunia.
Dengan pengalaman panjang dan rekam jejak yang mengesankan ini, kita patut berharap banyak dari “dapur” John Herdman. Semoga saja, ia tidak hanya menyajikan Fish and Chips yang garing dan asin, tetapi juga mampu meracik strategi dan taktik yang kaya rasa, inovatif, dan mampu membawa Tim Nasional Indonesia meraih kejayaan.




