Dividen: Pelindung di Pasar Bergejolak

Memilih Saham Dividen di Tengah Ketidakpastian Pasar: Strategi Cerdas Investor

Awal tahun 2026 menandai periode yang penuh gejolak di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami penurunan signifikan, baik dalam sebulan terakhir maupun secara year-to-date (YTD). Dalam situasi seperti ini, investor mulai melirik saham-saham yang menawarkan dividen menarik sebagai strategi untuk meminimalkan risiko dan tetap mendapatkan keuntungan.

Para ahli pasar modal menekankan bahwa dividen memiliki peran penting dalam portofolio investasi, terutama ketika harga saham berada pada level yang rendah atau terdiskon.

Dividen sebagai “Arus Kas Nyata”

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy, menjelaskan bahwa pada harga saham yang terjangkau, dividen dapat memberikan imbal hasil (return) yang sangat kompetitif. “Terkadang, dividend yield bahkan bisa lebih besar daripada imbal hasil bunga deposito maupun kupon ORI atau SBN,” ujarnya.

Senada dengan itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menegaskan bahwa dividen masih menjadi pertimbangan utama dalam pembelian saham, namun dengan konteks yang tepat. “Dividen diibaratkan seperti ‘arus kas nyata’ yang masuk ke kantong investor, sementara capital gain adalah potensi kenaikan harga yang masih bersifat mark to market,” jelasnya.

Dalam kondisi pasar yang volatil, ketika IHSG bergerak naik turun akibat sentimen global dan domestik, dividen berfungsi sebagai bantalan psikologis sekaligus fundamental. Namun, secara matematis, investor tetap perlu membandingkan dividend yield dengan potensi risiko penurunan harga.

Sebagai contoh, jika sebuah emiten menawarkan dividend yield sebesar 5%, namun secara teknikal sahamnya berpotensi terkoreksi 10%-15% karena valuasi yang sudah mahal atau tekanan pasar, maka potensi keuntungan bersihnya bisa tergerus. Oleh karena itu, dividen menjadi menarik hanya jika valuasi saham masih dalam batas wajar dan risiko penurunan harga relatif terbatas.

“Idealnya, dividend yield minimal dapat mengompensasi risiko volatilitas jangka pendek, atau setidaknya berada di atas rata-rata bunga deposito dan SBN agar premi risiko yang didapatkan masuk akal,” tambah Hendra.

Emiten Pilihan dengan Dividen Menarik

Budi Frensidy menyoroti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebagai salah satu emiten dengan dividen yang menarik. Bank BUMN ini mengindikasikan akan membagikan dividen dari laba tahun buku 2025 dengan dividend payout ratio (DPR) sekitar 78%.

Sepanjang tahun 2025, Bank Mandiri berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 56,3 triliun, menunjukkan pertumbuhan 0,93% secara tahunan (year-on-year). Dengan asumsi DPR 78%, total dividen yang berpotensi dibagikan mencapai sekitar Rp 43,9 triliun. Ini berarti, setiap pemegang saham berpotensi menerima dividen sekitar Rp 472 per saham.

Berdasarkan harga penutupan saham BMRI pada Jumat (20/2) di Rp 5.125 per saham, dividend yield BMRI mencapai 9,2%.

Menurut Hendra, di antara emiten yang rajin membagikan dividen, BMRI saat ini menawarkan daya tarik ganda, yaitu besaran yield dan potensi capital gain. BMRI cenderung memberikan dividend yield yang lebih agresif, didukung oleh laba besar dan rasio pembayaran dividen yang tinggi sebagai bank BUMN.

“Dengan laba yang solid dan pertumbuhan kredit yang masih positif, kombinasi antara yield dividen dan potensi rerating valuasi membuat BMRI menarik bagi investor yang mencari pendapatan sekaligus pertumbuhan moderat,” jelasnya.

Selain BMRI, beberapa emiten lain yang telah mendapatkan lampu hijau untuk pembagian dividen dari laba tahun buku 2025 antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

  • PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN): Dinilai memiliki dividend yield yang cukup menarik untuk kategori bank menengah. Namun, potensi capital gain-nya dianggap tidak seagresif bank-bank besar.
  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Meskipun memiliki yield yang tidak setinggi BMRI, kualitas laba yang konsisten, Return on Equity (ROE) yang stabil, dan premi valuasi membuat saham BBCA cenderung lebih stabil.
  • PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR): Secara historis, UNVR dikenal sebagai saham dividen karena DPR-nya yang tinggi. Namun, tantangan berupa perlambatan pertumbuhan laba dan tekanan persaingan di sektor Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) perlu menjadi pertimbangan.

Rekomendasi Investasi

Hendra Wardana memberikan beberapa rekomendasi investasi berdasarkan analisisnya:

  • BBCA: Direkomendasikan buy on weakness dengan target harga Rp 7.750 per saham.
  • BMRI: Mendapatkan rekomendasi speculative buy dengan target harga Rp 5.750 per saham.
  • UNVR: Juga direkomendasikan speculative buy dengan target harga Rp 2.500 per saham.
  • BDMN: Diberikan rekomendasi trading buy dengan target harga Rp 3.000 per saham.

Memilih saham dividen di tengah volatilitas pasar memerlukan analisis mendalam terhadap fundamental emiten, valuasi saham, dan potensi risiko yang menyertainya. Dengan strategi yang tepat, investor dapat memanfaatkan dividen sebagai sumber pendapatan yang stabil sekaligus mengantisipasi potensi pertumbuhan nilai investasi dalam jangka panjang.

Pos terkait