Evolusi APKWS: Roket Presisi untuk Ancaman Modern
Pada tahun lalu, ketika Amerika Serikat (AS) terlibat dalam konflik dengan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman, sebuah skuadron jet tempur F-16 menjadi ujung tombak pertahanan. Misi mereka sangat krusial: menghentikan gelombang serangan drone kamikaze dan roket yang diluncurkan untuk menarget kapal-kapal perang AS. Dalam pertempuran ini, skuadron tersebut menjadi salah satu unit tempur AS pertama yang menggunakan rudal udara-ke-udara APKWS AGR-20, yang diklaim berhasil menghancurkan 108 target di udara.
Roket APKWS, singkatan dari Advanced Precision Kill Weapon System, pada awalnya dirancang untuk aplikasi udara-ke-darat. Namun, modifikasi signifikan dilakukan melalui program rahasia yang dikenal sebagai FALCO (Fixed Wing, Air Launched, Counter-Unmanned Aircraft Systems Ordnance). Program ini bertujuan untuk mengadaptasi rudal tersebut guna menghadapi ancaman yang semakin berkembang.
Sejak serangan AS ke Iran pada akhir Februari lalu, tantangan yang dihadapi AS menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan saat melawan Houthi. Roket-roket dalam program FALCO kini ditugaskan untuk melindungi kapal induk di laut serta pangkalan darat dari serangan balasan Iran yang masif. Serangan ini sering kali melibatkan drone kamikaze seperti Shahed, yang ukurannya kecil, biayanya murah, namun mampu membawa muatan bahan peledak hampir 50 kilogram sejauh ratusan mil.
Menghadapi drone-drone ini secara individual mungkin relatif mudah. Namun, ketika mereka diluncurkan dalam jumlah besar, situasinya menjadi sangat berbeda. Sistem pertahanan udara AS yang ada, seperti rudal Patriot yang diluncurkan dari darat dan Standard dari laut, merupakan senjata berkinerja tinggi yang sangat mahal. Senjata-senjata ini dirancang untuk mencegat jet-jet supersonik dari jarak bermil-mil jauhnya. Selain itu, pesawat tempur AS juga dipersenjatai dengan rudal jarak jauh AIM-120 AMRAAM dan jarak pendek AIM-9 Sidewinder. Bahkan Sidewinder, yang merupakan pilihan paling terjangkau, masih berharga sekitar setengah juta dolar per tembakan, dan stoknya terbatas.
Dalam konteks ini, AS sangat membutuhkan senjata yang dapat diproduksi dalam jumlah besar dan dengan biaya yang lebih rendah untuk menghadapi ancaman drone Shahed Iran yang diperkirakan berlimpah. Kebutuhan inilah yang mendorong pengembangan dan pemanfaatan APKWS.
Sejarah dan Pengembangan Roket APKWS
Akar dari roket APKWS dapat ditelusuri kembali ke akhir 1990-an. Militer AS saat itu memiliki rudal anti-tank Hellfire yang menggunakan teknologi penuntun laser. Meskipun efektif, Hellfire, seperti rudal lainnya, memiliki biaya yang tinggi. Angkatan Udara AS kemudian mulai mengubah bom konvensional menjadi bom pintar dengan menambahkan guidance kit, dan pendekatan serupa juga diterapkan pada roket. Tujuannya adalah menciptakan senjata berpenuntun laser yang lebih terjangkau dibandingkan Hellfire.
Salah satu contoh awal adalah roket 2,75 inci dengan sirip lipat yang dikenal sebagai Mighty Mouse, yang sudah ada sejak tahun 1948. Awalnya dikembangkan sebagai senjata udara-ke-udara, Mighty Mouse menjadi persenjataan standar untuk pesawat dan helikopter serang selama Perang Korea dan Perang Vietnam. Versi modernnya, Hydra 70, menawarkan daya dorong yang lebih kuat dan sirip yang ditingkatkan untuk stabilitas terbang yang lebih baik. Hydra 70 memiliki biaya sekitar US$ 3.000 per unit, namun masih merupakan senjata tanpa teknologi penuntun laser.
Perusahaan keamanan, dirgantara, dan pertahanan BAE Systems kemudian berupaya menambahkan sirip kendali dan pencari target laser ke Hydra. Namun, uji coba awal menghadapi kendala. Laser seeker yang ditempatkan di ujung roket terpengaruh oleh getaran saat peluncuran dan mengalami kerusakan. Hal ini menyebabkan pembengkakan biaya, kegagalan dalam uji krusial, dan akhirnya pembatalan program APKWS pada tahun 2005.
Desain dari dua pesaingnya, DAGR (Direct Attack Guided Rocket) dari Lockheed Martin dan Talon dari Raytheon, juga gagal memenuhi kriteria kombinasi keandalan, kesederhanaan, dan biaya yang terjangkau.
Desain Ulang dan Keberhasilan APKWS II
Pada tahun 2006, BAE Systems melakukan desain ulang yang radikal. Alih-alih menempatkan laser seeker di moncong roket, APKWS II mengintegrasikan empat laser seeker pada setiap sirip penuntunnya. Pendekatan ini memastikan bahwa komponen sensitif terlindungi dari getaran saat peluncuran, dan penempatan yang tersebar memungkinkan sinyal laser terdistribusi secara merata, meminimalkan efek putaran dan getaran.
Meskipun hasil uji menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan, baru pada tahun 2014 roket APKWS II diadopsi oleh Korps Marinir AS sebagai pengguna pertama. Roket ini dengan cepat membuktikan dirinya sebagai senjata yang efektif untuk menargetkan sasaran di darat, bahkan menggantikan Hellfire yang terlalu mahal untuk penggunaan umum.
Angkatan Laut Ukraina menjadi pihak pertama yang mempublikasikan video penggunaan roket APKWS pada Januari tahun lalu. Menurut laporan, roket tersebut berhasil mencegat dan menghancurkan rudal Rusia Kh-59 yang diluncurkan dari jet tempur Su-57, yang mengincar infrastruktur di pelabuhan Pidennyi. Ukraina juga telah menggunakan roket yang sama pada Februari 2024 untuk menggagalkan serangan drone Shahed milik Rusia, yang diperolehnya dari Jerman.
Pada dekade 2020-an, menyadari ancaman drone yang terus berkembang, penggunaan APKWS diadaptasi untuk aplikasi udara-ke-udara. Dengan demikian, setelah lebih dari 70 tahun, roket ini kembali ke peran awalnya yang mirip dengan Mighty Mouse.
Hingga awal tahun 2026, BAE Systems telah memasok total 100.000 roket APKWS II. Keunggulan utama roket ini adalah biayanya yang hanya sepertiga dari Hellfire, serta ukurannya yang lebih kecil dan bobotnya yang lebih ringan. Hal ini memungkinkan jet tempur F-16 untuk membawa hingga 28 roket, sementara F-15 dapat membawa 42 roket dalam satu misi.
Proyek FALCO dan Pengembangan Lanjutan
Mengingat sifatnya yang rahasia, detail mengenai program FALCO masih terbatas. Salah satu aspek penting dari modifikasi ini adalah upaya untuk mengatasi hambatan dari efek atmosferik seperti awan, turbulensi, dan kabut, yang dapat mengganggu pelacakan target oleh laser. Perangkat lunak juga telah ditingkatkan untuk menangani target yang bersifat transient, yaitu target yang tidak memungkinkan operator untuk membidikkan laser dalam waktu lama.
BAE Systems, di bawah program Joint Urgent Operational Need, juga sedang mengembangkan versi tingkat kedua dari roket ini yang akan menggabungkan panduan inframerah. Dengan sistem panduan ganda, serangan dapat dilakukan lebih cepat ke target. Peningkatan terbaru juga akan memungkinkan operator untuk membidik beberapa drone secara cepat tanpa harus menunggu satu roket berhasil mengenai targetnya.
Meskipun ada meriam rotary Vulcan 20 mm yang dapat dipasang pada F-16, F-18, dan F-15 untuk memerangi drone kamikaze, pecahan dari drone Shahed yang berhasil dihancurkan, karena adanya hulu ledak, dapat menyebar cukup jauh. Insiden ini bahkan menyebabkan Ukraina kehilangan setidaknya satu F-16 saat melakukan perburuan terhadap drone Shahed-136 atau Geran-2 yang diluncurkan oleh Rusia.




