Dua Poin Penting Haji 2026: Kondisi Mina dan Kesiapan Kesehatan Jemaah

Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 2026 dan Persiapan untuk Tahun 2027



Makkah — Menteri Haji dan Umrah, Moch. Irfan Yusuf, menyampaikan bahwa terdapat dua masalah utama yang menjadi fokus evaluasi penyelenggaraan ibadah haji tahun ini dan perbaikan untuk musim haji berikutnya, yaitu tata kelola layanan di Mina dan penerapan standar istitha’ah kesehatan jemaah.

Menurut Irfan, masalah di Mina menjadi perhatian paling mendesak karena keterbatasan kapasitas kawasan tersebut tidak sebanding dengan terus meningkatnya jumlah jemaah haji dari seluruh dunia. “Mina ini memang sangat terbatas, sementara jemaahnya setiap tahun berusaha ditambah oleh Saudi, sehingga kita harus benar-benar cermat di sini,” ujarnya saat diwawancarai tim Media Center Haji (MCH) pada Minggu (31/5/2026).

Irfan secara terbuka mengakui bahwa layanan dan pengelolaan pergerakan jemaah di Mina pada musim haji tahun ini belum memenuhi ekspektasinya. “Jujur untuk Mina kemarin saya jauh dari puas, sehingga tahun depan harus kita cermati lagi bagaimana pergerakan di Mina,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola pergerakan jemaah selama fase Mina, termasuk pengaturan akomodasi, distribusi ruang tenda, mobilitas jemaah, hingga koordinasi dengan penyedia layanan atau syarikah.

Masalah Kesehatan Jemaah yang Masih Menjadi Perhatian

Selain Mina, Irfan menilai aspek kesehatan jemaah masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian serius menjelang penyelenggaraan haji 2027. Meskipun angka kematian jemaah haji Indonesia pada musim haji tahun ini dilaporkan turun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, menurut Irfan, kondisi tersebut belum bisa dianggap memuaskan.

“Kesehatan kita memang, sampai hari ini alhamdulillah tingkat jemaah yang meninggal sudah turun hampir separuh. Namun, itu belum memuaskan juga, karena ada beberapa jemaah kita yang begitu sampai di sini langsung masuk rumah sakit,” ujarnya.

Gus Irfan menyebut bahwa masih adanya jemaah yang harus menjalani perawatan saat tiba di Arab Saudi menunjukkan bahwa implementasi standar istitha’ah kesehatan belum berjalan optimal di semua daerah. Dia menilai terdapat perbedaan kualitas pelaksanaan pemeriksaan kesehatan antardaerah yang perlu dievaluasi secara menyeluruh.

“Artinya bahwa kita belum terlalu signifikan dalam meningkatkan standar dari istitha’ah kesehatan kita, walaupun di berbagai daerah sudah bagus. Mungkin ada beberapa daerah yang pelaksanaan istitha’ah kesehatannya kurang bagus,” katanya.

Faktor Usia Bukan Lagi Prioritas Utama

Irfan menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menjadikan usia sebagai faktor utama dalam menentukan kelayakan seseorang berangkat haji. Menurut dia, aspek yang paling penting adalah kondisi kesehatan calon jemaah.

Dia mengakui petugas kesehatan di lapangan kerap menghadapi tantangan sosial dan budaya ketika harus menyatakan seorang calon jemaah belum memenuhi syarat kesehatan, terutama jika yang bersangkutan telah menunggu antrean haji selama bertahun-tahun. “Ini memang sangat berkaitan. Kita paham mereka menunggu lama, tapi kita juga paham bahwa kita juga perlu orang-orang yang sehat,” ujarnya.

Oleh karena itu, pemerintah akan terus memperkuat penerapan istitha’ah kesehatan agar calon jemaah yang berangkat benar-benar memiliki kemampuan fisik untuk menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji. “Bukan masalah usia yang menjadi perhatian kita. Usia berapa pun enggak masalah. Tahun ini ada usia 100 lebih berangkat, yang penting sehat, layak untuk berangkat,” kata Irfan.

Fokus Pada Kesehatan, Bukan Usia

Irfan mengungkapkan bahwa pemerintah juga telah menyampaikan kepada otoritas Arab Saudi agar fokus penilaian tidak diarahkan pada usia jemaah, melainkan kondisi kesehatannya. Data musim haji tahun ini justru menunjukkan bahwa angka kematian tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut, tetapi juga pada jemaah berusia di bawah 60 tahun.

Fenomena tersebut, kata Irfan, menunjukkan bahwa faktor kesehatan jauh lebih menentukan dibandingkan usia semata. “Kami berkali-kali bicara dengan teman-teman Kementerian Haji Saudi, tolong jangan bicara usia, kita bicara kesehatan. Tahun ini justru angka yang meninggal itu bukan yang 60 ke atas, justru 60 ke bawah juga banyak. Itu artinya bahwa walaupun mereka usianya relatif lansia, tetapi memang kita seleksi benar-benar kesehatannya, kesehatannya bagus,” ujarnya.

Persiapan untuk Musim Haji 2027

Ke depan, hasil evaluasi terkait layanan Mina dan istitha’ah kesehatan akan menjadi salah satu fondasi utama penyusunan kebijakan penyelenggaraan Haji 2027. Pemerintah berharap perbaikan pada dua sektor tersebut dapat meningkatkan keselamatan, kenyamanan, dan kualitas layanan bagi jemaah haji Indonesia.

Pos terkait