Setelah Idul Adha, Warga Kedurus Dibekali Pemeriksaan Kesehatan Mandiri untuk Cegah Diabetes dan Hipertensi

Pelatihan Kesehatan Mandiri untuk Warga Kelurahan Kedurus

Pada hari Sabtu, 30 Mei 2026, warga Kelurahan Kedurus, Kecamatan Karang Pilang, Surabaya, mengikuti pelatihan pengecekan kesehatan mandiri. Pelatihan ini digelar dua hari setelah Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah memberikan kemampuan kepada kader kesehatan dan masyarakat dalam mendeteksi dini diabetes melitus serta hipertensi, sehingga risiko komplikasi bisa dicegah lebih cepat.

Kantor Kelurahan Kedurus tampak ramai sejak pagi hari. Warga yang hadir terlihat antusias mengikuti berbagai sesi pelatihan, mulai dari pengenalan alat pemeriksaan kesehatan hingga pemahaman tentang langkah-langkah pencegahan penyakit tidak menular yang sering ditemukan di lingkungan mereka.

Mengapa Pelatihan Ini Digelar Setelah Idul Adha?

Pelatihan ini menjadi momentum penting setelah perayaan Idul Adha yang identik dengan meningkatnya konsumsi makanan berbahan daging. Namun, perhatian masyarakat ternyata tidak hanya perlu tertuju pada daging, melainkan juga bahan pelengkap yang sering menyertainya.

Dyah Wijayanti, Ketua tim pengabdi Poltekkes Kemenkes Surabaya, mengingatkan bahwa santan dan gula olahan justru menjadi faktor yang perlu diwaspadai. “Sebenarnya dagingnya sedikit ya, tapi ‘temannya’ daging itu seperti santan, kemudian gula yang olahan itu yang perlu diperhatikan. Jadi, boleh makan tapi dibatasi,” ujarnya.

Menurut Dyah, kasus diabetes dan hipertensi masih menjadi penyakit tidak menular dengan angka kejadian tinggi, baik di Kota Surabaya maupun Jawa Timur. Karena itu, diperlukan keterlibatan masyarakat hingga tingkat lingkungan terkecil untuk membantu menekan angka kasus tersebut.

Kader Kesehatan Jadi Garda Terdepan Deteksi Dini

Pelatihan ini difokuskan kepada Kader Surabaya Hebat (KSH) yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat RW. Mereka mendapatkan pembekalan metode Health Behavior Self Care (HBS), yaitu pendekatan yang membantu warga lebih mandiri dalam menjaga kesehatan dan mengenali tanda-tanda kegawatan penyakit.

Melalui metode tersebut, kader diajarkan cara menggunakan alat pemeriksaan, memahami faktor risiko diabetes dan hipertensi, hingga menentukan langkah yang harus dilakukan saat menemukan warga dengan kondisi kesehatan tertentu.

PLT Lurah Kedurus Donny mengapresiasi pelatihan tersebut karena dapat memperkuat peran kader di tengah masyarakat. Menurutnya, para kader nantinya dapat menjadi perpanjangan tangan tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi dan melakukan skrining awal.

Efek Konsumsi Daging Tidak Langsung Terasa

Donny menilai waktu pelaksanaan kegiatan sangat tepat karena bertepatan dengan tingginya konsumsi daging pasca Idul Adha. Ia mengingatkan dampak pola makan tidak sehat biasanya tidak muncul secara instan, melainkan baru terasa beberapa bulan kemudian.

“Kita melihat kemarin hampir seminggu ini setelah momentum Idul Adha, konsumsi daging sedang tinggi. Kalau kita bicara apa yang dikonsumsi, efeknya kan tidak instan, mungkin baru terasa 1 sampai 3 bulan ke depan,” katanya.

Karena itu, warga tidak cukup hanya mengurangi porsi makan. Mereka juga perlu mengimbangi dengan aktivitas fisik serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Sistem Jemput Bola hingga Rumah Warga

Bagi para kader kesehatan, pelatihan ini menjadi bekal penting untuk meningkatkan pelayanan kepada warga. Salah satunya dirasakan oleh Rini, Koordinator Kelurahan KSH Kedurus, yang selama ini aktif melakukan kunjungan rumah atau KR kepada warga.

Menurut Rini, banyak warga di wilayahnya yang hidup dengan diabetes dan hipertensi. Karena itu, kemampuan mendeteksi dini menjadi kebutuhan yang sangat penting.

“Sistem jemput bola dilakukan untuk menjangkau warga yang jarang hadir ke Posyandu. Mulai dari pekerja, remaja sekolah, hingga lansia yang memiliki keterbatasan mobilitas tetap bisa mendapatkan pemantauan kesehatan.”

Rini juga mengungkapkan salah satu kendala utama yang selama ini dihadapi kader adalah keterbatasan alat pemeriksaan kesehatan. Setelah pandemi Covid-19, banyak kegiatan pemeriksaan kesehatan rutin yang tidak lagi berjalan optimal karena keterbatasan fasilitas.

“Kita kan terbatas pada alatnya. Katanya itu tadi mau dikasih, alhamdulillah membantu kita, tenan. Soalnya alatnya kan mahal,” ungkapnya.

Dengan tambahan pengetahuan dan alat pemeriksaan, para kader diharapkan bisa bergerak lebih cepat saat menemukan warga yang berisiko mengalami komplikasi penyakit. Mereka dapat segera mengarahkan warga untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut di Puskesmas maupun fasilitas kesehatan terdekat.

Melalui pelatihan ini, upaya pencegahan diabetes dan hipertensi tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Peran masyarakat melalui kader di tingkat lingkungan diharapkan menjadi benteng pertama untuk mendeteksi risiko penyakit lebih awal, terutama setelah masa konsumsi makanan tinggi lemak dan gula selama perayaan Idul Adha.

Pos terkait