Gunung Dukono, yang terletak di Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali mengalami erupsi pada Kamis, 2 April 2026, sekitar pukul 11.22 WIT atau pukul 09.22 WIB. Letusan tersebut menghasilkan semburan abu vulkanik setinggi 1.500 meter dari atas puncak kawah.
Salah satu petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono, Sarjan Roboke, menjelaskan bahwa kepulan abu vulkanik yang dihasilkan memiliki warna putih bercampur kelabu dengan intensitas tebal dan condong ke arah tenggara. Vibrasi letusan itu, yang terekam dalam seismograf, menunjukkan amplitudo maksimum sebesar 24 milimeter dengan durasi selama 90,57 detik.
Menurut laporan Sarjan, jarak pemukiman dengan titik aktivitas kawah sekitar 10 hingga 15 kilometer. Ia menyatakan bahwa erupsi masih berlangsung saat laporan sedang dibuat.
Sebelumnya, Gunung Dukono, yang memiliki ketinggian 1.335 meter di atas permukaan laut (mdpl), telah meletus dua kali sejak pagi hari. Letusan pertama terjadi pada pukul 06.10 WIT dengan tinggi kolom abu mencapai 1 kilometer di atas puncak kawah.
Kurang dari satu jam kemudian, tepatnya pada pukul 07.08 WIT, Gunung Dukono kembali erupsi dan memuntahkan abu vulkanik setinggi 1 kilometer dari puncak kawah. Kolom abu yang teramati memiliki warna putih dengan intensitas tebal ke arah tenggara. Erupsi ini juga terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 33 mm dan durasi 38,8 detik.
Sejak Januari 2026, Gunung Dukono tercatat sudah mengalami erupsi sebanyak 15 kali. Saat ini, gunung tersebut berstatus Waspada atau Level II. Plt. Kepala Badan Geologi Lana Saria merekomendasikan masyarakat sekitar maupun wisatawan untuk tidak beraktivitas atau mendekati Kawah Malupang dan Warirang di dalam radius 4 kilometer.
Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, area landaan abunya tidak tetap. Oleh karena itu, disarankan agar masyarakat di sekitar Gunung Dukono selalu menyediakan penutup hidung dan mulut untuk digunakan saat dibutuhkan, guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernapasan.
Gunung Dukono termasuk bagian dari busur vulkanik Halmahera. Aktivitas vulkanik gunung ini dipicu oleh pergerakan Lempeng Laut Maluku. Selain Gunung Dukono, ada beberapa gunung berapi lain yang terbentuk akibat pertemuan tiga lempeng tektonik—Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia—seperti Gunung Tobaru, Ibu, Todoku-ranu, dan Gamkonora.
Faktor Pemicu Erupsi
Beberapa faktor utama yang menjadi penyebab erupsi Gunung Dukono antara lain:
Pergerakan lempengan tektonik yang sangat aktif di wilayah Halmahera.
Interaksi antara lempengan Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia yang menyebabkan tekanan pada kerak bumi.
* Adanya sumber magma yang terus-menerus terbentuk di bawah permukaan.
Rekomendasi bagi Masyarakat
Untuk menjaga keselamatan masyarakat sekitar, berikut beberapa rekomendasi yang diberikan oleh Badan Geologi:
Hindari daerah sekitar kawah dalam radius 4 kilometer.
Siapkan alat pelindung seperti masker jika abu vulkanik mulai menyebar.
Ikuti informasi resmi dari instansi terkait terkait perkembangan aktivitas gunung berapi.
Jangan melakukan aktivitas di luar rumah saat abu vulkanik terlihat menyebar.
Peran Pos Pengamatan Gunung Api
Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono memiliki peran penting dalam memantau aktivitas gunung berapi. Petugas PGA seperti Sarjan Roboke melakukan pengamatan langsung dan merekam data seismograf untuk memberikan informasi akurat kepada masyarakat dan instansi terkait.
Dengan adanya pengawasan intensif, diharapkan dapat meminimalkan risiko yang timbul akibat erupsi gunung berapi. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada dan siap menghadapi situasi darurat yang mungkin terjadi.
Tantangan dalam Pemantauan
Pemantauan aktivitas gunung berapi seperti Dukono memiliki tantangan tersendiri, seperti:
Ketidakpastian arah sebaran abu vulkanik yang bergantung pada kondisi cuaca.
Kesulitan dalam memprediksi intensitas dan durasi erupsi.
* Keterbatasan teknologi pemantauan yang bisa digunakan di daerah terpencil.
Namun, dengan komitmen dan kesiapan dari instansi terkait serta partisipasi masyarakat, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan risiko yang ada dan memperkuat mitigasi bencana.





