Ekonom UI: Ekonomi RI Makin Memburuk

Persepsi Ahli Ekonomi: Kondisi Perekonomian Indonesia Memburuk, Inflasi Meningkat Tajam

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) baru-baru ini merilis hasil Survei Ahli Ekonomi Semester I 2026. Temuan dari survei ini memberikan gambaran yang cukup mengkhawatirkan mengenai kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Mayoritas ekonom yang disurvei menilai bahwa perekonomian nasional mengalami kemunduran dibandingkan dengan periode tiga bulan sebelumnya.

Analisis Kondisi Ekonomi Secara Keseluruhan

Dari total 85 ekonom yang berpartisipasi dalam survei, sebanyak 41 responden atau setara dengan 48 persen, secara tegas menyatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini memburuk. Rincian lebih lanjut menunjukkan bahwa 35 di antaranya merasa kondisi ekonomi “lebih buruk,” sementara 6 responden lainnya menganggapnya “jauh lebih buruk.”

Di sisi lain, sebagian ekonom melihat stagnasi. Sebanyak 32 responden menilai kondisi ekonomi tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya. Hanya segelintir, yaitu 12 ekonom, yang memiliki pandangan positif dengan menyatakan bahwa kondisi ekonomi justru membaik.

Tim LPEM UI dalam laporannya menekankan bahwa hasil ini konsisten dengan temuan survei sebelumnya yang dilakukan pada Oktober dan Maret 2025. “Setelah tiga survei berturut-turut dalam rentang 18 bulan, para ahli masih meyakini bahwa kondisi perekonomian Indonesia tidak kunjung membaik,” tulis tim LPEM UI. Hal ini mengindikasikan adanya masalah struktural atau tantangan berkelanjutan yang dihadapi oleh perekonomian Indonesia.

Tekanan Inflasi yang Kian Meningkat

Salah satu faktor utama yang disorot oleh para ekonom adalah tekanan inflasi yang semakin terasa. Survei menunjukkan bahwa mayoritas responden mengamati adanya kenaikan laju inflasi.

  • Inflasi Meningkat: Sebanyak 57 ekonom, atau 67 persen dari total responden, menilai bahwa inflasi telah meningkat.
  • Inflasi Stabil: Sebanyak 23 ekonom (27 persen) melihat bahwa tingkat inflasi cenderung tidak berubah.
  • Inflasi Mereda: Hanya 5 ekonom (6 persen) yang berpandangan bahwa inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.

Kenaikan inflasi yang berkelanjutan dapat menggerus daya beli masyarakat, meningkatkan biaya produksi bagi pelaku usaha, dan pada akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Pasar Tenaga Kerja yang Mengetat

Dalam evaluasi kondisi pasar tenaga kerja, para ahli ekonomi juga menyampaikan keprihatinan. Mayoritas responden menilai bahwa pasar tenaga kerja saat ini terasa lebih ketat dibandingkan tiga bulan lalu.

  • Pasar Tenaga Kerja Lebih Ketat: Sebanyak 44 ekonom (56 persen) memberikan penilaian ini.

Tim LPEM UI menjelaskan implikasi dari pengetatan pasar tenaga kerja ini. “Melemahnya pasar tenaga kerja umumnya menjadi pertanda meningkatnya pengangguran dan terhambatnya pertumbuhan upah, yang menekan pendapatan rumah tangga di seluruh penjuru negeri,” kata tim LPEM UI. Kondisi ini tentu saja berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat dan dapat memicu masalah sosial jika tidak segera diatasi.

Lingkungan Bisnis yang Memburuk

Selain kondisi ekonomi makro dan pasar tenaga kerja, survei ini juga menggali persepsi mengenai lingkungan bisnis di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas ekonom melihat adanya degradasi dalam iklim usaha.

  • Lingkungan Bisnis Lebih Buruk: Sebanyak 38 ekonom (45 persen) menilai kondisi lingkungan bisnis lebih buruk.
  • Lingkungan Bisnis Tidak Berubah: Sebanyak 25 ekonom (29 persen) melihat tidak ada perubahan signifikan.
  • Lingkungan Bisnis Jauh Lebih Buruk: Sebanyak 14 ekonom (16 persen) bahkan menganggap kondisinya jauh lebih buruk.

Lingkungan bisnis yang memburuk dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti regulasi yang kurang kondusif, ketidakpastian kebijakan, atau tantangan dalam menjalankan operasional bisnis. Hal ini dapat menghambat investasi, baik dari dalam maupun luar negeri, yang krusial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Metodologi Survei

Survei Ahli Ekonomi Semester I 2026 ini dilaksanakan dalam periode 24 Februari hingga 9 Maret 2026. Pengumpulan data dilakukan melalui platform survei daring (online), yang memungkinkan partisipasi dari berbagai kalangan ekonom.

Sampel survei terdiri dari 85 ekonom yang memiliki latar belakang beragam, mencakup:
* Akademisi dari berbagai universitas terkemuka.
* Peneliti dari lembaga penelitian independen.
* Profesional dari sektor swasta, termasuk perusahaan besar dan kecil.
* Perwakilan dari organisasi multinasional yang beroperasi di Indonesia.

Keberagaman latar belakang responden ini memberikan bobot dan kredibilitas yang lebih besar pada hasil survei.

Sebaran Geografis Responden

Para responden survei tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, mencerminkan pandangan yang komprehensif terhadap kondisi ekonomi nasional. Wilayah asal responden meliputi:
* Jakarta
* Jawa Barat
* Yogyakarta
* Jawa Tengah
* Sumatera Utara
* Sumatera Barat
* Banten
* Gorontalo
* Bali
* Maluku Utara
* Kalimantan Selatan
* Lampung
* Jawa Timur
* Jambi

Selain itu, survei juga berhasil menjangkau para ahli ekonomi yang berdomisili di luar negeri, memberikan perspektif internasional terhadap perekonomian Indonesia. Responden dari luar negeri berasal dari negara-negara seperti Australia, Inggris, Belanda, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, dan Tiongkok. Keterlibatan responden dari institusi multinasional juga menambah kekayaan data dan analisis dalam survei ini.

Pos terkait