PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) atau WIKA Beton mengumumkan ekspansinya dalam proyek kereta bawah tanah di Manila, Filipina, yaitu Metro Manila Subway (MMS). Proyek ini memiliki nilai kontrak sebesar US$ 110 juta atau sekitar Rp 1,87 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.016).
Direktur Utama WIKA Beton, Kuntjara, menjelaskan bahwa proyek MMS didanai oleh Japan International Cooperation Agency dan dikerjakan oleh Colas Rail sebagai kontraktor trackwork. Ia menegaskan bahwa perseroan tidak mengeluarkan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) dalam proyek ini.
Selain itu, Kuntjara menyebutkan bahwa progres pembangunan proyek MRT Manila saat ini telah mencapai sekitar 30%. Proyek besar ini ditargetkan selesai pada tahun 2030.
“Masalah di sana juga sama seperti kita, kadang-kadang masalah tanah, belum terlalu bebas jadi sekarang progres masih sekitar 30%,” ujar Kuntjara kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (6/4).
Peran WIKA Beton dalam Proyek Metro Manila Subway
WIKA Beton berperan dalam memproduksi segmental tunnel atau terowongan penghubung. Selain itu, perusahaan juga menjadi pemasok komponen lintasan untuk proyek kereta bawah tanah tersebut.
Komponen bantalan rel beton pratekan (PC sleeper) untuk paket kontrak CP106 dikirim langsung dari fasilitas produksi di Majalengka yang dioperasikan oleh anak usaha perseroan, yakni PT Wijaya Karya Komponen Beton (WIKA Kobe). Bantalan rel beton tersebut akan digunakan untuk kebutuhan depo dan jalur utama dalam sistem Metro Manila Subway.
Kuntjara menjelaskan bahwa proses manufaktur dilakukan di PPB Majalengka yang telah dilengkapi teknologi modern dan sistem pengendalian kualitas sesuai standar proyek infrastruktur internasional. Setelah produksi, produk akan didistribusikan dari Majalengka menuju Pelabuhan Tanjung Priok, sebelum dikirim melalui jalur laut ke Pelabuhan Manila.
Produksi massal dan pengiriman dijadwalkan berlangsung bertahap hingga 2029 sebagai bagian dari dukungan berkelanjutan terhadap pengembangan jaringan Metro Manila Subway.
“Kami bangga dapat berkontribusi dalam pembangunan sistem transportasi urban modern sekaligus menunjukkan produk dan teknologi manufaktur Indonesia mampu memenuhi standar proyek infrastruktur kelas dunia,” ujarnya.
Peluang Proyek Baru yang Sedang Dijajaki
Selain proyek Metro Manila Subway, WIKA Beton juga tengah menjajaki peluang proyek North-South Commuter Railway (NSCR) dengan panjang sekitar 100 kilometer.
“North-South Commuter Railway, jadi kalau tadi (Metro Manila) di dalam kota, kalau NSCR itu misalnya dari Tangerang ke Bekasi lah. Itu lebih panjang lagi,” ucapnya.
Proses Produksi dan Distribusi
Proses produksi bantalan rel beton dimulai dari pabrik WIKA Kobe di Majalengka, yang dilengkapi dengan teknologi mutakhir. Setiap komponen diproduksi dengan standar kualitas yang tinggi, sehingga cocok digunakan dalam proyek infrastruktur skala besar.
Setelah proses produksi selesai, produk akan dikirim ke Pelabuhan Tanjung Priok untuk kemudian diangkut ke Pelabuhan Manila via jalur laut. Pengiriman dilakukan secara bertahap agar bisa mendukung perkembangan proyek secara terus-menerus.
Kontribusi Teknologi Indonesia
WIKA Beton berkomitmen untuk menunjukkan bahwa teknologi dan produk dalam negeri mampu bersaing di pasar global. Dengan partisipasi dalam proyek-proyek besar seperti Metro Manila Subway, perusahaan membuktikan bahwa industri manufaktur Indonesia mampu memenuhi standar internasional.
Dalam waktu dekat, WIKA Beton akan terus memperluas cakupan proyeknya, baik di dalam maupun luar negeri, guna meningkatkan posisi dan reputasi perusahaan di pasar global.






