Eksplorasi proyek besar WTON di Alaska, ini fakta terbongkar

Proyek Besar di Wilayah Kutub Utara, Alaska

Perusahaan konstruksi PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) atau WIKA Beton sedang mengincar proyek besar di wilayah kutub utara, Alaska, Amerika Serikat (AS). Direktur Utama WTON, Kuntjara, mengungkapkan bahwa hingga saat ini, perusahaan hanya berada pada tahap perjanjian atau memorandum of understanding (MoU). Kerja sama tersebut mencakup produksi gas untuk memfasilitasi liquefied natural gas (LNG).

Meski proyek ini masih dalam tahap awal, Kuntjara menyebutnya sebagai proyek yang sangat menarik dan besar. Namun, ia belum dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai nilai proyek yang tengah dicanangkan. “Alaska ini menarik, jumbo (proyeknya),” ujarnya kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (6/4).

Kinerja Keuangan Perusahaan

WTON mencatatkan laba bersih sebesar Rp 40,02 miliar sepanjang 2025, turun 38% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 65 miliar. Penurunan ini seiring dengan penurunan pendapatan usaha perusahaan dari Rp 4,9 triliun menjadi Rp 3,59 triliun.

Namun, WTON tercatat telah mengamankan omzet kontrak baru sebesar Rp 4 triliun hingga akhir 2025. Berdasarkan laporan kinerja tahunan, perolehan kontrak tersebut didorong oleh strategi diversifikasi portofolio dengan sektor infrastruktur berkontribusi mendominasi sebesar 55,53%.

Sementara itu, sektor industri menyumbang 17,19%, diikuti sektor kelistrikan 11,17%, serta sektor pendukung lainnya sebesar 16,11%. Pelanggan WIKA Beton didominasi oleh sektor swasta dengan porsi mencapai 54,86%. Kontribusi dari badan usaha milik negara (BUMN) tercatat sebesar 21,65%, kemitraan strategis melalui skema KSO atau JO sebesar 18,32%, dan serapan internal dari induk usaha sebesar 5,17%.

Perbaikan Struktur Keuangan

Dari sisi neraca, WIKA Beton berhasil melakukan aksi deleveraging dan menurunkan total liabilitas sebesar 25,76% dari Rp 3,5 triliun pada 2024 menjadi Rp 2,60 triliun. Penurunan ini dipicu oleh pelunasan sebagian utang usaha senilai Rp 548,64 miliar dan pengurangan utang jangka panjang sebesar Rp 134,32 miliar.

Perusahaan juga melakukan perbaikan struktur modal yang terefleksi pada penurunan rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) dari 95,15% menjadi 70,66% pada akhir 2025. Dari sisi likuiditas, tingkat kesehatan perusahaan juga membaik dengan kenaikan current ratio ke level 130,42%.

Proyek Strategis yang Mendukung Kinerja

Salah satu proyek strategis yang menopang kinerja WTON pada tahun lalu, antara lain pekerjaan railway systems dan trackwork pada MRT Jakarta Fase 2A. Perseroan bermitra secara strategis dengan Larsen & Toubro Limited demi mendukung kontraktor utama Sojitz Corporation Ltd dalam mengerjakan proyek Trackwork Paket CP205 senilai Rp 409 miliar.

WTON menyediakan bantalan jalan rel (BJR), produksi beton siap pakai, instalasi jalur kereta, instalasi gardu induk, sistem distribusi tenaga listrik, pemasangan sistem Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA), hingga instalasi kabel tegangan tinggi bawah tanah 150 kV.

Progres Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A

Proyek sepanjang 5,8 km ini akan menghubungkan Stasiun Bundaran HI hingga Kota dan ditargetkan rampung pada 2029, dengan tujuh stasiun bawah tanah yakni Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota.

Adapun progres pembangunan MRT Jakarta Fase 2A mencapai 55,89% per Desember 2025, melampaui target 53,29%. Sementara progres Paket CP205 tercatat sebesar 31,48%.

Pos terkait