Emas: Reaksi Harga Pasca-Lonjakan Minyak Teluk

Emas Mengalami Penurunan di Tengah Gejolak Timur Tengah dan Kebijakan The Fed

JAKARTA – Harga emas dunia menunjukkan tren pelemahan pada awal pekan ini, bertepatan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah yang memasuki hari kesepuluh. Peristiwa blokade jalur minyak di Teluk Persia oleh Iran telah memicu kekhawatiran akan inflasi global akibat lonjakan harga minyak mentah.

Pada sesi perdagangan Asia, harga emas batangan tercatat menurun tajam, bahkan mendekati level US$5.120 per troy ounce. Tren pelemahan ini berlanjut hingga pukul 7.59 WIB, di mana harga emas berada di angka US$5.046,79 per troy ounce, mengalami penurunan signifikan sebesar 2,42% dari harga pembukaan.

Pergerakan pasar ini juga dipengaruhi oleh pandangan investor terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Muncul dugaan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level yang tidak berubah untuk periode yang lebih lama. Dalam skenario terburuk, The Fed bahkan mungkin akan menaikkan suku bunga. Hal ini berpotensi meningkatkan biaya pinjaman dan memperkuat nilai dolar AS, yang secara historis dapat menekan harga emas.

Meskipun demikian, dinamika geopolitik global dan perubahan signifikan dalam perdagangan internasional yang diprakarsai oleh Presiden AS Donald Trump, ditambah dengan isu independensi The Fed, justru turut mendongkrak pamor emas sebagai aset safe haven atau aset aman. Sepanjang awal tahun 2026, logam mulia ini telah mencatatkan kenaikan nilai lebih dari 20%, menunjukkan posisinya sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian.

Bank Sentral Global: Tren Pembelian dan Penjualan Emas

Di tengah fluktuasi harga, bank sentral di berbagai negara menunjukkan pola yang beragam dalam mengelola cadangan emas mereka. Bank Rakyat China, misalnya, kembali tercatat menambah kepemilikan emasnya. Berdasarkan data yang dirilis pada akhir pekan lalu, cadangan emas China bertambah 30.000 troy ounce pada bulan Februari, sehingga totalnya mencapai 74,22 juta troy ounce emas murni. Langkah ini melanjutkan tren akumulasi emas yang telah berlangsung selama 16 bulan berturut-turut sejak November 2024.

Namun, secara global, tren pembelian emas oleh bank sentral global sempat mengalami perlambatan di awal tahun. Data dari World Gold Council menunjukkan bahwa pembelian bersih emas oleh bank sentral pada bulan Januari hanya mencapai lima ton. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata bulanan selama 12 bulan sebelumnya yang mencapai 27 ton. Negara-negara di Asia Tengah dan Timur menjadi motor penggerak utama dalam pembelian emas ini.

Sementara itu, beberapa negara justru tercatat mulai melakukan divestasi sebagian cadangan emasnya. Kepala bank sentral Polandia, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pembeli emas terbesar, bahkan mengajukan proposal untuk menjual sebagian cadangan emasnya guna membiayai belanja pertahanan negara. Selain itu, bank sentral Rusia dan Venezuela juga tercatat telah menjual emas dalam beberapa bulan terakhir.

Gangguan Distribusi Emas Fisik Akibat Konflik Timur Tengah

Konflik yang melanda Timur Tengah juga memberikan dampak signifikan pada rantai distribusi emas fisik. Dubai, yang merupakan salah satu pusat perdagangan logam mulia terbesar di dunia, mengalami gangguan dalam proses pengiriman emas.

Banyak penerbangan dari Uni Emirat Arab terhenti akibat eskalasi konflik, yang secara langsung menghambat pengiriman emas batangan ke berbagai negara tujuan, terutama di benua Asia. Kondisi ini membuat para pemasok menghadapi kesulitan dalam memindahkan logam mulia dari pusat perdagangan utama tersebut.

Akibatnya, para pedagang terpaksa menawarkan diskon hingga US$30 per troy ounce dari harga patokan global di London. Diskon ini diberikan sebagai upaya untuk menghindari biaya penyimpanan dan pendanaan yang terus membengkak seiring tertundanya pengiriman. Meskipun sebagian pengiriman emas mulai kembali diberangkatkan dari Dubai sejak pertengahan pekan lalu, banyak kargo yang masih tertahan hingga akhir pekan.

Uni Emirat Arab, khususnya Dubai, telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir menjadi pusat penting untuk pemurnian dan ekspor emas batangan ke berbagai negara Asia. Pada tahun 2024, negara ini tercatat mengimpor sekitar 1.392 ton emas dengan nilai mencapai lebih dari US$100 miliar.

Dampak pada Pasar India dan Kendala Pasokan Bahan Baku

Gangguan distribusi emas ini juga mulai dirasakan dampaknya di India, salah satu konsumen emas terbesar di dunia yang sangat bergantung pada pasokan dari Dubai.

  • “Beberapa pengiriman kargo mengalami penundaan atau bahkan terhenti, yang menyebabkan kelangkaan emas fisik dalam jangka pendek di India,” ujar Renisha Chainani, kepala penelitian di Augmont Enterprises Ltd.

Meskipun demikian, permintaan emas di India untuk jangka pendek dilaporkan masih relatif lemah. Selain itu, stok emas di pasar domestik India tergolong cukup besar, menyusul tingginya volume impor pada bulan Januari. Kondisi ini membuat pasar India masih mampu menyerap dampak gangguan distribusi untuk sementara waktu.

“Saat ini, stok masih mencukupi,” kata Chirag Sheth, konsultan utama untuk Asia Selatan di Metals Focus. “Namun, jika situasi ini berlanjut selama beberapa bulan ke depan, maka masalah yang lebih serius kemungkinan akan timbul.”

Di sisi lain, sejumlah perusahaan pemurnian logam mulia juga mulai menghadapi kendala dalam pasokan bahan baku emas setengah jadi atau doré. MMTC-PAMP, perusahaan pemurnian terbesar di India, misalnya, memperoleh sekitar 10% dari pasokan doré-nya dari tambang yang berlokasi di Timur Tengah. Konflik di kawasan tersebut telah mengganggu pasokan dan meningkatkan biaya logistik secara drastis. Untuk kontrak baru yang berasal dari wilayah lain, biaya logistik dilaporkan melonjak hingga 60% hingga 70% sejak perang di Timur Tengah dimulai.

Pos terkait