Empat Bulan Pasca-Bencana, Pembelajaran di SDN 10 Linge Terhenti Akibat Tenda Darurat Roboh

Kondisi Sekolah Pasca-Bencana Masih Memprihatinkan

Empat bulan setelah bencana, kondisi SD Negeri 10 Linge di Kampung Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, masih menunjukkan tanda-tanda kesulitan. Hingga Senin (30/3/2026), bangunan sekolah belum juga diperbaiki, dengan ruang kelas yang masih tertimbun lumpur dan bongkahan kayu yang berserakan di sekitar area sekolah.

Tampak berdiri tenda darurat milik BNPB serta tenda berwarna putih berlogo Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Namun, meski waktu telah menunjukkan pukul 08.30 WIB, tidak terlihat adanya aktivitas belajar mengajar di lingkungan sekolah tersebut. Kondisi ini diduga akibat tenda darurat utama yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar telah ambruk dan tidak layak digunakan untuk keselamatan siswa.

Proses Belajar Mengajar Dihentikan Sementara

Kepala Sekolah, Nurdinsyah, menjelaskan bahwa untuk sementara waktu proses belajar mengajar di Reje Payung dan Dusun Uken Bayur dihentikan. Hal ini disebabkan oleh ambruknya tenda darurat 01 di Reje Payung yang dinilai membahayakan keselamatan siswa.

“Namun, proses belajar mengajar tetap kami lakukan di tenda 02 yang berada di Dusun Jamat,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Sertalia, menyayangkan kondisi yang tak kunjung membaik. Ia menilai pemerintah terkesan abai terhadap hak pendidikan anak-anak di wilayah tersebut.

“Katanya pemerintah hadir, tapi mana? Bupati sudah berkali-kali datang ke sini, mungkin sudah puluhan kali, tapi kenapa kondisinya masih seperti ini,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa persoalan ini tidak hanya terjadi di tingkat sekolah dasar. Menurutnya, sekolah tingkat SMP dan SMA di wilayah tersebut juga mengalami kondisi serupa, dengan bangunan yang belum dibenahi dan sisa material banjir seperti kayu serta lumpur yang masih memenuhi ruang kelas.

Masalah Akses Menuju Desa Reje Payung

Selain itu, akses menuju Desa Reje Payung juga menjadi perhatian. Jembatan darurat yang digunakan saat ini dinilai berbahaya untuk dilintasi, khususnya bagi para siswa yang hendak berangkat ke sekolah.

Penyebab Keterlambatan Perbaikan Sekolah

Beberapa faktor diduga menjadi penyebab keterlambatan dalam perbaikan sekolah. Salah satu isu yang muncul adalah kurangnya koordinasi antara pihak pemerintah daerah dan lembaga-lembaga terkait. Selain itu, keterbatasan anggaran dan sumber daya juga menjadi hambatan dalam proses pemulihan.

Masih banyak masyarakat yang merasa khawatir akan masa depan pendidikan anak-anak di wilayah tersebut. Mereka berharap pemerintah dapat lebih proaktif dalam menangani masalah ini, agar kebutuhan dasar masyarakat bisa segera terpenuhi.

Harapan Masyarakat

Masyarakat setempat berharap agar ada solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah ini. Beberapa usulan telah diajukan, seperti pembangunan infrastruktur yang lebih kuat, pengadaan bantuan darurat yang lebih cepat, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam memastikan kelancaran proses belajar mengajar.

Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, diharapkan kondisi sekolah dan lingkungan sekitarnya dapat segera pulih, sehingga anak-anak dapat kembali melanjutkan pendidikan mereka dengan aman dan nyaman.

Pos terkait