Evakuasi Korban Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 Dilakukan via Darat
Di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu, dua korban meninggal dunia dari kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, dievakuasi melalui jalur darat. Proses evakuasi ini menjadi pilihan utama bagi Tim SAR gabungan setelah jalur udara ditutup akibat badai dan kabut tebal.
Pada hari keempat pencarian, kondisi cuaca di kawasan gunung setinggi 1.353 mdpl masih kurang bersahabat. Cuaca ekstrem terjadi sejak subuh hingga pagi hari, sehingga menghambat operasi evakuasi. Di Posko SAR AJU Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, tim SAR berupaya memastikan keselamatan dan kelancaran proses evakuasi.
Tim SAR gabungan yang semula terdiri dari lima tim kini bertambah menjadi tujuh tim untuk mempercepat proses pencarian dan evakuasi. Namun, hujan badai yang terjadi saat apel pemberangkatan pada pukul 8.30 Wita membuat jalur udara tidak dapat digunakan. Hal ini dinyatakan oleh Danrem 141/Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan.
“Ini jelas sudah tidak mungkin (evakuasi jalur udara), kita evakuasi darat karena ini untuk mengejar keluarga korban mendapatkan kepastian,” ujarnya.
Dua korban yang telah ditemukan selama hari kedua dan ketiga pencarian, kini disiapkan oleh dua tim khusus untuk proses evakuasi. Salah satu korban ditemukan di lereng gunung, sementara korban lainnya sedang dalam proses penurunan. Meski demikian, kondisi cuaca yang buruk tetap menjadi tantangan besar.
Cuaca cerah menjadi momen berharga bagi para tim SAR untuk melakukan evakuasi. Namun, kabut dan hujan badai terus melanda kawasan pegunungan. Beberapa tim bahkan telah bermalam di lokasi sejak malam hari, dengan harapan bisa melanjutkan operasi jika cuaca membaik.
“Ada juga tim yang sudah bermalam dari tadi malam. Tadi malam mereka sudah standby di sana karena mengejar kalau ada terang,” jelas Rumbayan.
Meskipun kondisi cuaca tidak ideal, Rumbayan menegaskan bahwa pengerahan Tim SAR untuk mencari korban lain tetap dilakukan. Pihaknya berupaya maksimal untuk mengoptimalkan evakuasi ke lokasi terdekat warga.
“Ini kita sedang cari karena situasi begini kan gelap yah, kami usahakan ke desa yang terdekat,” tuturnya.
Total jumlah personel SAR yang dikerahkan di hari keempat ini mencapai 500 orang. Mereka bekerja keras untuk memastikan semua korban ditemukan dan dievakuasi dengan aman. Proses ini tidak hanya melibatkan tenaga manusia, tetapi juga peralatan dan koordinasi yang sangat ketat.
Kondisi Terkini dan Upaya Tim SAR
Kondisi di sekitar lokasi kecelakaan tetap memprihatinkan. Jalur pendakian menuju Gunung Bulusaraung masih terganggu oleh cuaca buruk. Para petugas SAR harus beradaptasi dengan situasi yang tidak menentu, termasuk adanya kemungkinan terjadinya longsoran atau banjir bandang.
Selain itu, keterbatasan akses ke lokasi kecelakaan menyebabkan perlunya pengaturan logistik yang lebih baik. Makanan, air minum, serta peralatan medis harus disediakan secara berkala agar tim SAR tetap bisa bekerja dengan optimal.
Kehadiran para relawan dan masyarakat sekitar juga menjadi faktor penting dalam proses evakuasi. Banyak warga yang membantu dengan memberikan informasi, menjaga keamanan, atau bahkan ikut berpartisipasi dalam upaya pencarian.
Tantangan dan Harapan
Proses evakuasi ini tidak hanya menguji kemampuan teknis tim SAR, tetapi juga mental dan fisik para petugas. Dengan cuaca yang tidak menentu dan medan yang sulit, setiap langkah harus dilakukan dengan hati-hati dan persiapan matang.
Namun, meskipun begitu, harapan untuk menemukan semua korban dan memberikan kepastian kepada keluarga tetap tinggi. Setiap detik yang dilewati adalah waktu yang berharga dalam proses evakuasi dan pencarian.
Dengan kerja sama yang baik antara pihak berwenang, masyarakat, dan relawan, diharapkan proses evakuasi dapat segera selesai dan semua korban dapat ditemukan dengan selamat.





