Evaluasi Papan Pemantauan Khusus BEI: Menuju Peningkatan Kepercayaan Investor
Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah merencanakan evaluasi mendalam terhadap mekanisme full call auction (FCA) yang diterapkan pada papan pemantauan khusus. Target penyelesaian evaluasi pada kuartal II-2026 ini diharapkan membawa angin segar bagi kepercayaan investor terhadap pasar saham domestik.
Pejabat Sementara BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa evaluasi ini merupakan bagian dari tinjauan rutin atas seluruh kebijakan bursa. “Masih ada ruang untuk penyempurnaan kebijakan ini guna meningkatkan transparansi,” ujarnya. Mengenai kemungkinan kembalinya mekanisme continuous auction, Jeffrey menegaskan bahwa segala opsi masih terbuka lebar.
Latar belakang evaluasi ini tidak terlepas dari sorotan yang diterima BEI dari lembaga pemeringkat global, Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell, pada tahun 2024. Saat itu, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang masuk dalam papan pemantauan khusus dengan mekanisme FCA, menyebabkan BREN batal masuk dalam FTSE Global Equity Index pada rebalancing Juni 2024. FTSE menyoroti mekanisme lelang berkala dengan order book tertutup atau blind order book yang dinilai mengurangi transparansi.
Tinjauan Mekanisme Full Call Auction (FCA)
Mekanisme FCA sendiri dirancang dengan tujuan mulia: meningkatkan perlindungan investor, mendorong likuiditas saham, dan mendongkrak rata-rata nilai transaksi harian di bursa. Praktisi Pasar Modal, Raden Bagus Bima, berpendapat bahwa FCA pada dasarnya merupakan mekanisme yang adil, di mana harga saham terbentuk berdasarkan keseimbangan antara pesanan beli dan jual pada harga tertentu.
Namun, urgensi evaluasi FCA semakin terasa di tengah meningkatnya inklusi investor di pasar saham Indonesia yang sayangnya belum sepenuhnya diimbangi dengan literasi yang memadai. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kerugian signifikan bagi investor, terutama investor awam. Salah satu kekhawatiran utama adalah ketidaktransparanan mekanisme FCA, di mana informasi bid-offer saham tidak ditampilkan secara menyeluruh, melainkan hanya menampilkan dua opsi harga. Hal ini dikhawatirkan dapat menjerumuskan investor awam ke dalam jebakan hype saham FCA.
Solusi dan Rekomendasi untuk Pasar Saham
Menanggapi isu tersebut, Raden Bagus Bima menyarankan agar bursa dapat menampilkan informasi bid-offer real-time selama sesi FCA, bukan menerapkan sistem blind auction yang terkesan seperti berjudi. Selain itu, ia juga menyarankan agar saham-saham berkualitas dengan fundamental baik yang mengalami kenaikan signifikan tidak serta-merta dikenakan suspensi atau dimasukkan ke dalam papan FCA.
“Hal ini berdampak pada perdagangan dari lembaga indeks global seperti MSCI yang cenderung menghindari saham jika sudah masuk papan FCA,” jelasnya.
Raden meyakini bahwa jika evaluasi FCA dilakukan secara tepat pada pos-pos tertentu, maka dampaknya akan positif bagi pasar saham Indonesia. Peningkatan transparansi melalui tampilan bid-ask real-time dan edukasi yang lebih baik kepada investor mengenai papan FCA akan memulihkan kepercayaan investor ritel.
Susunan saham-saham dalam papan FCA saat ini juga berpotensi berubah tergantung hasil evaluasi BEI.
Strategi Investasi di Tengah Evaluasi FCA
Bagi investor yang saat ini memegang saham yang berada di papan FCA, disarankan untuk tetap fokus pada evaluasi fundamental emiten. Analisis mendalam mengenai prospek kinerja, tata kelola perusahaan, dan potensi keluarnya emiten dari papan pemantauan khusus menjadi kunci. Penting pula untuk menghindari spekulasi jangka pendek dan senantiasa menerapkan manajemen risiko yang baik.
Sementara itu, bagi investor yang belum memiliki saham FCA, disarankan untuk memantau hasil evaluasi BEI pada kuartal II-2026. Periode ini bisa menjadi peluang untuk mengidentifikasi saham FCA yang berpotensi undervalued.
“Prioritaskan saham likuid yang berfundamental solid dengan analisis mendalam, serta tingkatkan literasi dari informasi resmi BEI agar terhindar dari hype sementara,” pungkas Raden.




