Fuad Zubaidi Terjebak Keadilan: Anak Buah Jadi Tumbal Kekuasaan

Kehidupan Fuad Zubaidi dan Kegelapan di Balik Vonis Hukum

Fuad Zubaidi, seorang staf akademisi yang kini harus menjalani hukuman satu tahun penjara, tidak hanya menjadi korban dari vonis hukum biasa. Foto eksekusi yang dilakukan terhadapnya bukan sekadar dokumentasi hukum, melainkan menjadi simbol dari sebuah konflik kekuasaan yang penuh dengan intrik dan ketidakadilan. Di balik vonis tersebut, tersimpan misteri besar tentang bagaimana sistem yang seharusnya menjunjung tinggi integritas justru berubah menjadi tempat permainan politik dan kezaliman.

Pengembalian dana sebesar Rp3.094.344.295 oleh Fuad saat ditetapkan sebagai tersangka menimbulkan banyak tanda tanya. Logika publik sulit menerima bahwa uang sebanyak itu mengalir tunggal ke kantong pribadi seorang staf. Narasi yang berkembang di kalangan akar rumput kampus sangat jelas: Fuad hanyalah terminal akhir dari fee proyek Alkes FK Untad tahun 2022-2023. Dana tersebut sebenarnya dinikmati oleh para penguasa yang berada di balik layar.

Ada dugaan kuat bahwa pengembalian uang tersebut merupakan hasil patungan dari para pihak yang merasa takut. Mereka memompa semangat Fuad dengan janji-janji manis tentang kebebasan, memaksanya untuk mengajukan banding hingga kasasi, agar ia tetap bungkam dan tidak menyampaikan kebenaran.

Janji Manis yang Menjadi Jeruji

Kini, setelah kaki Fuad masuk ke dalam lapas, janji-janji perlindungan dari para oknum petinggi itu terbukti hampa. Fuad dibiarkan sendirian menanggung beban jeruji, sementara mereka yang menikmati aliran dana miliaran rupiah masih bebas menghirup udara luar, bahkan tetap congkak di atas kursi kekuasaan.

“Cukup sudah menjadi martir bagi mereka yang bersembunyi di balik jubah kekuasaan. Kesetiaan kepada atasan yang dzolim hanyalah jalan menuju kehancuran pribadi.”

Menunggu Keadilan Allah

Jika hukum dunia bisa dibeli dengan lobi dan janji, maka doa orang-orang yang terdzolimi tidak akan pernah salah alamat. Masyarakat kampus dan keluarga korban kini bersimpuh, memohon agar Tuhan membongkar kebusukan ini seakar-akarnya.

Sudah saatnya Fuad Zubaidi bicara. Tidak perlu lagi ada yang ditutupi. Di dalam sel yang sunyi itu, biarlah kebenaran diteriakkan agar mereka yang hari ini masih menari di atas penderitaan orang lain, segera merasakan pengadilan yang sesungguhnya.

Doa untuk Keadilan yang Tidak Terbelah

Ya Allah, jika keadilan manusia telah tumpul oleh syahwat jabatan, maka turunkanlah keadilan-Mu. Jangan biarkan mereka yang congkak terus merasa aman di panggung kekuasaan yang penuh dengan kedzoliman ini.


Pos terkait