Gempa M 4,1 Guncang Barat Daya Ternate, Maluku Utara
Pada Minggu, 8 Februari 2026, pukul 06:35:09 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya gempa bumi dengan magnitudo 4,1 yang berpusat di wilayah barat daya Ternate, Provinsi Maluku Utara. Gempa ini terjadi pada kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan bumi.
Pusat gempa tercatat berada pada koordinat 0.69 Lintang Utara (LU) dan 126.52 Bujur Timur (BT). Jaraknya diperkirakan sekitar 94 kilometer dari arah barat daya Kota Ternate. Informasi detail mengenai gempa ini dirilis oleh BMKG melalui kanal resminya, termasuk akun media sosial X @infoBMKG.
BMKG sendiri merupakan lembaga pemerintah non-kementerian yang memiliki tugas utama memantau dan menganalisis fenomena meteorologi (cuaca), klimatologi (iklim), serta geofisika, termasuk aktivitas gempa bumi dan potensi tsunami di seluruh wilayah Indonesia.
Ternate, sebagai salah satu kota di Maluku Utara yang diguncang gempa hari ini, memiliki posisi geografis yang unik. Jarak antara Ternate dengan Sofifi, ibu kota Provinsi Maluku Utara, adalah sekitar 21 kilometer. Perjalanan dari Ternate ke Sofifi dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam 30 menit menggunakan transportasi laut jenis feri, yang berangkat dari Pelabuhan Bastiong.
Memahami Magnitudo dan Lokasi Gempa
Magnitudo gempa merupakan ukuran dari besarnya energi yang dilepaskan oleh sumber gempa di dalam bumi. Pengukuran ini dilakukan secara ilmiah menggunakan instrumen bernama seismograf, yang mencatat getaran bumi. Magnitudo 4,1 menunjukkan bahwa gempa ini memiliki kekuatan yang cukup signifikan, meskipun dampaknya perlu dianalisis lebih lanjut.
Lokasi pusat gempa yang berada 94 km barat daya Ternate dan pada kedalaman 10 km mengindikasikan bahwa sumber getaran berasal dari lapisan kerak bumi yang relatif dangkal. Lokasi dan kedalaman gempa menjadi faktor penting dalam menentukan potensi kerusakan yang ditimbulkan.
Skala MMI dan Potensi Dampaknya
BMKG juga mengacu pada Skala MMI (Modified Mercalli Intensity) untuk menggambarkan tingkat getaran gempa yang dirasakan oleh manusia dan potensi kerusakan yang ditimbulkan di permukaan. Skala MMI berbeda dengan magnitudo, di mana magnitudo mengukur energi gempa, sedangkan MMI mengukur intensitas getaran di lokasi tertentu.
Berikut adalah penjelasan mengenai tingkatan Skala MMI dan potensi dampaknya:
- I MMI: Getaran gempa tidak dapat dirasakan oleh sebagian besar orang, kecuali dalam kondisi yang sangat luar biasa oleh beberapa individu.
- II MMI: Getaran gempa dirasakan oleh beberapa orang, terutama yang sedang beristirahat. Benda-benda ringan yang digantung, seperti lampu gantung, mungkin akan bergoyang.
- III MMI: Getaran gempa dirasakan nyata di dalam rumah. Orang yang berada di dalam kendaraan yang bergerak mungkin merasakan sensasi seperti sedang berada di dalam truk yang berjalan.
- IV MMI: Pada siang hari, getaran gempa dapat dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah dan oleh beberapa orang di luar rumah. Gerabah pecah, jendela dan pintu mungkin bergetar hingga berderit, dan dinding bisa mengeluarkan bunyi.
- V MMI: Getaran gempa dirasakan oleh hampir semua orang. Orang-orang mungkin berlarian keluar rumah. Gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan benda besar tampak bergoyang, bahkan bandul lonceng bisa berhenti berayun.
- VI MMI: Getaran gempa dirasakan oleh seluruh orang. Kebanyakan orang akan terkejut dan mencoba lari keluar. Plester dinding bisa jatuh, dan cerobong asap di pabrik mungkin mengalami kerusakan ringan.
- VII MMI: Semua orang di dalam rumah akan keluar. Kerusakan ringan dapat terjadi pada bangunan dengan konstruksi yang baik. Namun, pada bangunan dengan konstruksi yang kurang baik, retakan bahkan kehancuran bisa terjadi. Cerobong asap bisa pecah. Getaran juga dapat dirasakan oleh orang yang sedang berada di dalam kendaraan yang bergerak.
- VIII MMI: Bangunan dengan konstruksi kuat akan mengalami kerusakan ringan. Keretakan akan lebih parah pada bangunan dengan konstruksi kurang baik, dinding bisa terlepas dari rangkanya. Cerobong asap pabrik dan monumen dapat roboh, serta air di sumbernya bisa berubah menjadi keruh.
- IX MMI: Kerusakan signifikan terjadi pada bangunan dengan konstruksi kuat, rangka rumah bisa menjadi tidak lurus, dan banyak retakan besar muncul. Rumah bisa tampak bergeser dari pondasi awalnya, dan pipa-pipa di dalam rumah bisa putus.
- X MMI: Bangunan dari kayu yang kuat akan mengalami kerusakan, rangka rumah bisa lepas dari pondamennya. Tanah bisa terbelah, rel kereta api melengkung, dan tanah longsor dapat terjadi di sepanjang sungai serta di lereng-lereng curam.
- XI MMI: Hanya sedikit bangunan yang masih berdiri. Jembatan mengalami kerusakan parah, dan lembah bisa terbentuk. Pipa-pipa di bawah tanah tidak dapat digunakan sama sekali, tanah terbelah, dan rel kereta api sangat melengkung.
- XII MMI: Terjadi kehancuran total. Gelombang dapat terlihat pada permukaan tanah. Pemandangan bisa menjadi gelap karena debu dan material yang terlempar ke udara.
Meskipun gempa di Ternate kali ini memiliki magnitudo 4,1, pemahaman mengenai Skala MMI ini penting untuk mengantisipasi dan memahami potensi dampak jika terjadi gempa dengan intensitas yang lebih besar. BMKG terus berupaya memberikan informasi terkini dan akurat untuk keselamatan masyarakat.





