Surabaya di Usia 733: Refleksi Pembangunan dan Harapan Masa Depan
Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Surabaya, Armuji, dalam perayaan Hari Jadi ke-733 Kota Surabaya (HJKS) yang diselenggarakan di halaman Balai Kota Surabaya pada Minggu (31/5), memaparkan berbagai capaian pembangunan serta visi dan misi Kota Pahlawan ke depannya. Momen bersejarah ini menjadi pengingat penting akan identitas Surabaya sebagai kota perjuangan yang tumbuh dan berkembang berkat semangat gotong royong serta persatuan seluruh elemen masyarakatnya.
Armuji menekankan bahwa kemajuan Surabaya bukanlah hasil dari satu individu atau kelompok semata, melainkan buah dari kerja sama kolektif seluruh warga. “Surabaya besar bukan karena satu orang atau satu kelompok, tetapi karena kerja sama seluruh warganya dari kampung, balai RW, sekolah, pasar, tempat ibadah, ruang usaha hingga ruang pelayanan publik,” ungkapnya.
Tema yang diusung dalam peringatan HJKS ke-733, “Pancasila Kuat, Surabaya Hebat”, menjadi penegasan bahwa setiap proses pembangunan di Surabaya harus senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai luhur Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. “Tema ‘Pancasila Kuat Surabaya Hebat’ mengingatkan kita bahwa kemajuan kota harus berpijak pada nilai-nilai dasar bangsa,” ujar Armuji.
Memperkuat Arah Pembangunan yang Inklusif dan Berkeadilan
Menyikapi usia Surabaya yang semakin matang, Ketua DPC Gerindra Surabaya, Cahyo Harjo Prakoso, melihat momentum HJKS ke-733 sebagai kesempatan emas untuk menyempurnakan arah pembangunan Kota Pahlawan. Mengingat posisinya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dan menjadi simpul vital perekonomian Indonesia Timur, Surabaya dituntut untuk terus memperkuat pembangunan yang bersifat inklusif, berkeadilan, berkarakter, serta selaras dengan program-program strategis pemerintah pusat.
Cahyo menggarisbawahi pentingnya peran strategis Surabaya, tidak hanya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, tetapi juga sebagai gerbang utama perekonomian Jawa Timur. Oleh karena itu, arah pembangunan di masa mendatang harus mampu menjadi teladan keberhasilan pembangunan nasional yang benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat luas. “Surabaya harus menjadi miniatur pembangunan Indonesia. Tidak hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga kehidupan sosial, kreativitas anak muda, dan kualitas hidup masyarakat sampai ke kampung-kampung,” tegas Cahyo.
Tantangan dan Percepatan Program Strategis
Cahyo memberikan apresiasi terhadap komitmen Pemerintah Kota Surabaya dalam mengimplementasikan berbagai program strategis pemerintah pusat. Namun, ia juga mengidentifikasi beberapa tantangan yang memerlukan penyelesaian segera agar manfaat dari program-program tersebut dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat.
Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Program Sekolah Rakyat. Meskipun masih dalam tahap pembangunan, Cahyo berharap proyek ini dapat segera diselesaikan agar siap dimanfaatkan pada tahun ajaran baru. “Kami melihat komitmen pemerintah kota sudah baik. Tetapi beberapa program strategis masih membutuhkan percepatan agar manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat,” ujar anggota Komisi E DPRD Jatim ini.
Selain itu, Cahyo juga mendorong percepatan pengembangan Koperasi Merah Putih. Ia berpendapat bahwa program ini merupakan instrumen krusial untuk menggerakkan ekonomi berbasis kampung dan memperkuat peran pelaku usaha kecil. “Koperasi Merah Putih adalah cara membangun ekonomi dari bawah. Karena itu jumlah titik dan progres pelaksanaannya perlu terus ditingkatkan,” jelas Cahyo Harjo Prakoso.
Perhatian khusus juga diberikan Cahyo terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Berdasarkan data yang dihimpun, Surabaya idealnya membutuhkan 177 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung program ini, namun saat ini baru sekitar 15 persen yang beroperasi. “Cakupan penerima manfaat MBG harus terus ditingkatkan. Kalau 177 dapur SPPG bisa terwujud, program ini berpotensi menyerap sedikitnya 8.300 tenaga kerja lokal,” ungkap Cahyo Harjo Prakoso.
Ia mengidentifikasi keterbatasan lahan untuk pembangunan dapur SPPG sebagai salah satu kendala utama pelaksanaan MBG di Surabaya. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dan fleksibilitas kebijakan dari pemerintah pusat agar program ini dapat berjalan optimal di kota metropolitan seperti Surabaya. “Mungkin perlu ada diskresi khusus dari Badan Gizi Nasional bagi kota-kota besar seperti Surabaya yang memiliki keterbatasan lahan agar program ini bisa berjalan lebih optimal,” sarannya.
Di sisi lain, Cahyo mengapresiasi pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dinilai telah berjalan cukup baik. Namun, ia menekankan perlunya peningkatan partisipasi masyarakat melalui sosialisasi yang lebih masif hingga ke tingkat kampung. “Cakupan CKG sudah baik, tetapi aktivasinya masih perlu diperkuat melalui kecamatan, kelurahan, dan Kader Surabaya Hebat agar masyarakat semakin sadar pentingnya pemeriksaan kesehatan,” terang Cahyo Harjo Prakoso.
Menyongsong usianya yang ke-733, Cahyo menyampaikan harapan agar Surabaya terus bertransformasi menjadi kota global yang tidak hanya unggul dalam sektor ekonomi, tetapi juga memiliki sistem transportasi publik yang mumpuni, pelayanan publik yang merata, serta pembangunan yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. “Semoga Surabaya semakin maju, semakin berkeadilan, semakin inklusif, dan menjadi kota global yang benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh warganya,” tandas Cahyo Harjo Prakoso.






