Harga avtur naik, AirAsia sesuaikan harga dan rute

Langkah-Langkah yang Diambil oleh AirAsia X dalam Menghadapi Kenaikan Harga Avtur

Maskapai penerbangan berbiaya rendah AirAsia X (Malaysia) telah mengambil sejumlah langkah strategis untuk mengatasi kenaikan harga Avtur akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Beberapa tindakan yang dilakukan meliputi penyesuaian tarif dan pengalihan rute penerbangan.

CEO Group AirAsia X, Bo Lingam, menyampaikan bahwa harga Avtur global saat ini telah melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2025. Untuk menjaga keberlanjutan operasional, maskapai ini melakukan penyesuaian tarif secara terukur, termasuk penerapan biaya bahan bakar satu kali di seluruh jaringan. Hal ini disampaikan saat konferensi pers melalui Zoom pada Senin siang, 6 April 2026.

Bo Lingam menambahkan bahwa AirAsia X terus mengoptimalkan jaringan dengan mengalihkan kapasitas ke rute yang lebih kuat. Selain itu, maskapai juga memaksimalkan konektivitas Fly-Thru melalui Kuala Lumpur dan Bangkok agar dapat menangkap permintaan secara lebih efisien. “Di sisi lain, kami aktif bernegosiasi dengan mitra strategis untuk mengendalikan biaya,” ujarnya.

Strategi Pengembangan Jaringan dan Hub Baru

Seiring dengan reaktivasi armada secara bertahap, unit cost akan semakin membaik. Ditambah lagi, penguatan mata uang ASEAN sebagai natural hedge terhadap biaya berbasis dolar Amerika Serikat juga memberikan dampak positif.

Bo Lingam menjelaskan bahwa saat ini, AirAsia beroperasi di lingkungan yang semakin menantang, tetapi permintaan perjalanan ke destinasi ASEAN tetap kuat. Hal ini menunjukkan ketahanan jaringan serta tingginya minat terhadap perjalanan regional. Menurutnya, hal ini semakin memperkuat peran Kuala Lumpur sebagai hub utama dan memperkuat posisinya sebagai LCC megahub global yang menghubungkan penumpang secara seamless dan terjangkau.

Di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah akibat konflik Iran-Amerika Serikat dan Israel, AirAsia X tetap akan mengembangkan Bahrain sebagai hub strategis yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Rute ini dijadwalkan mulai beroperasi pada 26 Juni 2026, dengan harapan kondisi kawasan akan semakin kondusif.

Pengalihan Kapasitas ke Rute yang Lebih Kuat

Komisaris Utama Non-Eksekutif AirAsia, Tan Sri Jamaludin Ibrahim, menyatakan bahwa grup perusahaan secara proaktif mengalihkan kapasitas ke rute dengan performa dan yield yang lebih kuat seperti Almaty, Tashkent, dan Istanbul, guna menangkap permintaan yang terdistrupsi. “Di saat yang sama, pengembangan hub domestik di Senai, Johor Bahru juga terus dieksplorasi sebagai bagian dari strategi jangka menengah,” ujar Jamaludin.

Di tengah ketidakpastian global, menurut Jamaludin, maskapai penerbangan ini memasuki fase dari posisi yang kuat. Hal ini dikarenakan fundamental grup tetap solid, didukung oleh struktur biaya yang efisien dan disiplin, jaringan berbasis ASEAN yang resilien, serta konektivitas Fly-Thru yang memungkinkan respons cepat terhadap dinamika pasar.

“Ke depan, kami akan memastikan kelincahan operasional dan tata kelola yang kuat, sekaligus melanjutkan pondasi bisnis yang telah terbangun,” ujarnya.

Kolaborasi dan Ekspansi Bisnis

Menurut dia, tantangan saat ini tidak hanya dihadapi oleh maskapai, tetapi juga seluruh ekosistem aviasi. Oleh karena itu, kolaborasi dengan mitra menjadi kunci untuk memperkuat daya saing industri. “Kami juga terus membuka peluang ekspansi, termasuk penambahan pesanan pesawat dan opsi sewa tambahan untuk mendukung rencana pertumbuhan dan perluasan jaringan ke lebih banyak destinasi,” kata Jamaludin.

Pos terkait