Situasi Harga BBM di Jayapura: Masih Stabil Meski Isu Kenaikan Mengemuka
Di tengah beredarnya isu kenaikan harga bensin hingga Rp17.000 per liter menjelang 1 April 2026, aktivitas jual beli bensin di tingkat pengecer di Kota Jayapura masih berjalan normal. Tidak ada lonjakan harga maupun kepanikan di kalangan masyarakat. Hal ini terlihat dari kondisi kios-kios pinggir jalan yang tetap ramai dengan pengendara roda dua dan roda empat yang membeli bensin eceran.
Menurut para penjual, mereka belum menaikkan harga karena belum menerima informasi resmi terkait penyesuaian harga BBM. Salah satu penjual bensin eceran di kawasan Perumnas III Waena mengatakan bahwa hingga 31 Maret 2026, harga bensin tetap di kisaran Rp13.000 per liter. Ia juga menyebutkan bahwa banyak masyarakat yang bertanya tentang isu kenaikan harga BBM, namun ia tidak bisa memberikan jawaban pasti karena belum ada pengumuman resmi.
Kawasan Waena, yang menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat di Kota Jayapura, tetap ramai dengan berbagai kendaraan yang melintas setiap hari. Wilayah ini menjadi jalur utama yang menghubungkan Abepura, Sentani, Heram, hingga wilayah kampus. Banyak warga sekitar, mahasiswa, pegawai, sopir angkutan, serta masyarakat dari berbagai daerah yang sering mengisi bensin eceran di sini.
Tingkat Mobilitas Masyarakat yang Tinggi
Kota Jayapura sebagai ibu kota Provinsi Papua memiliki tingkat mobilitas masyarakat yang sangat tinggi. Selain menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan, Jayapura juga dikenal sebagai kota pendidikan yang menarik banyak mahasiswa dari berbagai wilayah di Papua. Mahasiswa dari wilayah pegunungan, pesisir, hingga Papua Selatan sering datang ke Jayapura untuk melanjutkan pendidikan.
Selain itu, Jayapura juga menjadi pusat aktivitas ekonomi dan jasa yang dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai wilayah di Papua untuk bekerja, berobat, berbelanja, atau mengurus administrasi pemerintahan. Kondisi ini membuat kebutuhan BBM di kota ini cukup besar, terutama di kawasan padat seperti Waena, Abepura, Entrop, dan Sentani.
Respons Masyarakat Terhadap Isu Kenaikan Harga BBM
Meskipun isu kenaikan harga BBM hingga Rp17.000 per liter semakin ramai dibicarakan di media sosial, masyarakat di Jayapura masih memilih menunggu pengumuman resmi dari pemerintah. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, sebelumnya meminta masyarakat untuk menunggu keputusan resmi pemerintah terkait harga BBM non-subsidi yang akan diumumkan pada 1 April 2026.
Sementara itu, harga BBM non-subsidi di sejumlah SPBU pada Maret 2026 sudah mengalami kenaikan. Pertamax tercatat berada di angka Rp12.300 per liter, Shell Super Rp12.390 per liter, BP 92 Rp12.390 per liter, dan Revvo 92 milik Vivo juga berada di kisaran Rp12.390 per liter. Namun, BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar masih dipertahankan dengan harga tetap.
Harapan Masyarakat
Masyarakat berharap jika nantinya ada penyesuaian harga, pemerintah tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi warga, terutama di Papua yang biaya transportasi dan kebutuhan pokok relatif lebih tinggi dibanding daerah lain di Indonesia. Dengan situasi yang masih stabil hingga saat ini, masyarakat tetap menunggu kebijakan resmi dari pemerintah sebelum mengambil tindakan lebih lanjut.





