Kenaikan Harga TBS Sawit Mengembalikan Semangat Petani di Pasangkayu
Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Pasangkayu memberikan semangat baru bagi para petani. Setelah sempat mengalami penurunan yang cukup signifikan, kini harga TBS mulai stabil dan bahkan meningkat, membuat petani kembali bersemangat untuk memanen hasil kebun mereka.
Petani di Desa Kasoloang, Kecamatan Bambaira, mengaku sangat bersyukur dengan kondisi saat ini. Sebelumnya, harga TBS berada di kisaran Rp900 per kilogram, yang membuat banyak petani menunda panen karena dinilai tidak menguntungkan. Namun, kini harga telah naik menjadi di atas Rp1.600 per kilogram, bahkan mencapai Rp1.850 di beberapa daerah seperti Desa Tampaure.
Aswat, salah satu petani di Desa Kasoloang, menjelaskan bahwa dirinya akhirnya kembali melakukan panen setelah hampir empat pekan menahan hasil kebunnya. Ia mengatakan bahwa pada saat harga rendah, hasil penjualan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk proses panen dan pengangkutan.
“Alhamdulillah sekarang sudah mulai naik. Saya sudah panen lagi karena sebelumnya hampir satu bulan saya tahan. Waktu harga masih sekitar Rp900 per kilogram, rasanya rugi kalau dipanen,” ujarnya saat ditemui di kebunnya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, kebunnya dipanen setiap dua minggu sekali. Namun, akibat anjloknya harga beberapa waktu lalu, jadwal panen terpaksa ditunda karena dinilai tidak menguntungkan. Akibatnya, buah sawit di kebunnya sempat menumpuk dan banyak tandan yang sudah matang menunggu untuk dipanen.
“Biasanya dua minggu sekali panen. Tapi karena harga turun terus waktu itu, saya tahan dulu. Sekarang setelah harga naik, baru mulai dipanen kembali,” tambah Aswat.
Kenaikan harga ini memberikan harapan baru bagi petani sawit yang selama beberapa pekan terakhir menghadapi kesulitan akibat rendahnya nilai jual hasil panen. Menurut Aswat, sebagian besar petani di wilayah Bambaira sangat bergantung pada sektor perkebunan sawit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, setiap perubahan harga sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi keluarga petani. “Kalau harga bagus, tentu petani senang karena hasil panen bisa dipakai untuk kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah anak, dan keperluan lainnya. Waktu harga turun kemarin, banyak petani yang mengeluh,” tuturnya.
Aswat berharap tren kenaikan harga sawit dapat terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan sehingga petani bisa kembali menikmati hasil kebun yang layak. Ia juga berharap harga sawit tidak lagi mengalami penurunan drastis seperti yang terjadi sebelumnya karena sangat berdampak terhadap pendapatan petani.
“Harapan kami semoga terus naik atau paling tidak stabil di harga yang baik. Kalau sampai turun lagi seperti kemarin tentu berat bagi petani,” katanya.
Pantauan di sejumlah wilayah Kabupaten Pasangkayu menunjukkan bahwa harga TBS sawit di tingkat pengepul mulai berada di atas Rp1.600 per kilogram. Bahkan di beberapa lokasi, seperti di Desa Tampaure, Kecamatan Bambaira, harga pembelian sawit telah mencapai Rp1.850 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat aktivitas panen dan penjualan buah sawit kembali meningkat. Sejumlah petani yang sebelumnya menahan panen kini mulai membawa hasil kebunnya ke timbangan untuk dijual.
Sebagai salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Sulawesi Barat, kenaikan harga TBS menjadi kabar menggembirakan bagi masyarakat Pasangkayu, khususnya para petani yang menggantungkan penghasilan utama mereka dari sektor perkebunan sawit.





