Membangun Layanan Kesehatan Primer yang Tangguh: Kolaborasi Inovatif di Tegal dan Brebes
Tegal, Indonesia – Sebuah inisiatif penting untuk memperkuat layanan kesehatan primer di Indonesia telah dihelat melalui Lokakarya Perencanaan Partisipatif (Ko-Kreasi) dalam program Primary Healthcare Impact Lab (PHIL). Acara yang diselenggarakan oleh Universitas Harkat Negeri bekerja sama dengan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dan Tamaris Hydro ini berlangsung pada 11-12 Maret 2026 di Gedung Utama Padepokan Kalisoga, Brebes, yang merupakan bagian dari Kampus 3 Universitas Harkat Negeri.
Kegiatan ini merupakan tonggak krusial dalam upaya kolaboratif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan primer di Indonesia. Fokus utama lokakarya ini adalah penanganan penyakit tidak menular (PTM) yang kian mengkhawatirkan, seperti hipertensi dan diabetes melitus. Kedua penyakit ini diketahui masih menjadi penyebab utama kematian prematur di tanah air, menyoroti urgensi penanganan yang lebih efektif dan terintegrasi.
Memahami PHIL: Jembatan Antara Riset dan Aksi Nyata
Program Primary Healthcare Impact Lab (PHIL) sendiri merupakan sebuah pusat riset yang berakar di lingkungan universitas, namun dengan orientasi yang kuat pada implementasi aksi nyata di lapangan. Pendekatan inovatif ini memastikan bahwa hasil-hasil penelitian tidak hanya terbatas pada ranah akademis semata. Sebaliknya, temuan-temuan tersebut secara aktif diterjemahkan menjadi model-model layanan kesehatan yang lebih responsif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan riil masyarakat.
Diah Satyani Saminarsih, Co-Founder PHIL yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi dan Pendidikan, menjelaskan lebih lanjut mengenai sinergi di balik program ini. Dalam pelaksanaannya, PHIL menjalin kemitraan strategis dengan Harvard Medical School. Kolaborasi ini memberikan pendampingan ahli dalam berbagai aspek krusial, mulai dari pengembangan riset yang mendalam, perancangan intervensi layanan kesehatan primer yang efektif, hingga penyusunan kurikulum yang relevan untuk beberapa program studi kesehatan di Universitas Harkat Negeri.
Partisipasi Lintas Sektor: Kunci Keberhasilan Inovasi Kesehatan
Lokakarya ko-kreasi ini dirancang secara inklusif, menghadirkan berbagai pemangku kepentingan kunci dari wilayah Kabupaten Tegal, Kota Tegal, dan Kabupaten Brebes. Kehadiran mereka mencakup perwakilan penting dari:
- Dinas Kesehatan
- Dinas Sosial
- Organisasi profesi kesehatan, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), dan Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI).
- Tenaga kesehatan dari berbagai Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
- Kader kesehatan yang berperan vital di tingkat komunitas.
- Perwakilan masyarakat dari berbagai lapisan.
- Serta civitas akademika dari Universitas Harkat Negeri.
“Melalui metode partisipatif yang kami terapkan, seluruh peserta lokakarya diajak untuk secara aktif terlibat dalam proses mendalam,” ujar Diah. “Mereka bersama-sama menganalisis kondisi layanan kesehatan primer yang ada di daerah masing-masing, mengidentifikasi berbagai kesenjangan yang masih menjadi pekerjaan rumah, serta merancang solusi-solusi inovatif yang berpotensi memperkuat layanan penanganan hipertensi dan diabetes melitus. Penguatan ini mencakup baik di tingkat fasilitas kesehatan maupun di tingkat komunitas.”
Proses diskusi dan perumusan solusi dalam lokakarya ini berlangsung melalui serangkaian tahapan yang terstruktur. Tahapan-tahapan tersebut meliputi:
- Pemahaman Mendalam terhadap Permasalahan Kesehatan: Menggali akar permasalahan PTM di wilayah target.
- Analisis Situasi dan Identifikasi Kesenjangan Layanan: Memetakan kondisi eksisting dan menemukan area yang memerlukan perbaikan.
- Perancangan Solusi Intervensi Inovatif: Mengembangkan strategi dan program yang tepat sasaran.
- Penyusunan Rencana Tindak Lanjut Konkret: Merencanakan langkah-langkah implementasi yang jelas.
- Pembentukan Community Advisory Board (CAB): Membangun wadah kolaborasi masyarakat yang akan menjadi mitra strategis dalam mendukung implementasi program PHIL di masa mendatang.
Selain fokus pada perumusan model intervensi kesehatan yang efektif, kegiatan ini juga menjadi platform penting untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor. Sinergi ini melibatkan pemerintah daerah, para profesional kesehatan, akademisi, serta elemen masyarakat. Tujuannya adalah untuk secara kolektif meningkatkan kualitas layanan kesehatan primer yang pada akhirnya akan berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat.
Joko Purwanto, yang juga turut hadir sebagai salah satu peserta dan menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Tegal, menyambut baik forum ko-kreasi ini. Ia mengungkapkan harapannya agar melalui dialog yang konstruktif ini, dapat lahir berbagai gagasan brilian dan strategi yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dapat diaplikasikan secara nyata. Penerapan ini diharapkan mampu memperkuat sistem layanan kesehatan primer secara keseluruhan, sekaligus secara signifikan meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat di wilayah Tegal dan Brebes.
Inisiatif seperti PHIL ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi multidisiplin dan partisipasi aktif dari berbagai pihak adalah kunci untuk membangun sistem kesehatan yang lebih kuat, tangguh, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Dengan penekanan pada penanganan PTM, program ini diharapkan dapat menekan angka kematian prematur dan meningkatkan kualitas hidup penduduk Indonesia.




