Kapten Miswar Maturusi: Rencana Pensiun dan Mengajar Terbentur Musibah di Selat Hormuz
Kisah hilangnya Kapten Miswar Maturusi, seorang pelaut asal Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, di perairan Selat Hormuz, Timur Tengah, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang setia menanti kabar kepastian. Di tengah ketidakpastian yang menyelimuti nasibnya, terungkap sebuah rencana besar yang telah dipersiapkan Kapten Miswar untuk babak baru dalam kehidupannya setelah puluhan tahun mengabdi di dunia pelayaran.
Selama ini, Kapten Miswar telah merencanakan untuk mengakhiri kariernya sebagai pelaut profesional. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Setelah mendedikasikan sebagian besar usianya di lautan, ia memiliki keinginan kuat untuk beralih ke dunia pendidikan. Pengalaman panjangnya di sektor maritim ingin ia bagikan kepada generasi muda melalui jalur akademik.
“Memang rencananya beliau sudah mau pensiun dari dunia pelayaran,” ujar Sumarlin Ahmad (21), salah seorang anggota keluarga, saat ditemui di kediaman keluarga di Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Minggu (8/3/2026). Sumarlin menjelaskan bahwa keinginan Miswar untuk berhenti berlayar muncul sebagai bentuk keinginan menjalani masa pensiun dengan cara yang berbeda, yakni dengan berbagi ilmu dan pengalaman kepada generasi penerus.
Keseriusan Kapten Miswar dalam mewujudkan rencananya ini bahkan terlihat dari langkah konkret yang telah diambilnya. Ia sempat melanjutkan pendidikan formalnya. “Makanya beliau sempat kuliah juga. Rencananya setelah pensiun dan dananya sudah cukup, beliau ingin berhenti berlayar dan fokus mengajar,” ucap Sumarlin. Keluarga menyebutkan bahwa Kapten Miswar kerap membicarakan keinginannya untuk terlibat dalam dunia pendidikan maritim setelah tidak lagi aktif bekerja di kapal. “Beliau ingin jadi dosen atau mengajar-mengajar begitu. Itu rencana yang sering beliau sampaikan kepada keluarga,” tambahnya.
Perjalanan Panjang di Lautan
Pengalaman Kapten Miswar di dunia pelayaran memang tidak bisa diremehkan. Selama lebih dari dua dekade, ia telah meniti karier dari bawah hingga akhirnya dipercaya untuk memegang tampuk kepemimpinan kapal sebagai kapten. “Beliau sudah sekitar 26 tahun bekerja di dunia pelayaran. Jadi, memang punya pengalaman yang lumayan banyak,” tutur Sumarlin.
Sosok Kapten Miswar di Lingkungan Keluarga
Di lingkungan keluarga, Kapten Miswar dikenal sebagai sosok pekerja keras yang selalu mengutamakan dan memikirkan masa depan orang-orang terdekatnya. Ia adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab penuh atas kebutuhan istri serta kedua anaknya. Istri Kapten Miswar bernama Marliani Ahmad, sementara kedua putra mereka adalah Muhammad Qiratul Miswar dan Muhammad Hayatullah Miswar.
Bukan hanya menafkahi keluarga intinya, Kapten Miswar juga menunjukkan kepedulian yang besar terhadap pendidikan kerabatnya. Ia kerap memberikan bantuan biaya sekolah bagi anak-anak dari keluarga besar. “Beliau juga membantu menyekolahkan anak-anak dari sepupu dan keponakannya,” imbuh Sumarlin. Buah dari kerja keras dan perhatiannya, salah satu putra Kapten Miswar kini telah berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi anggota kepolisian dan bertugas di Polda Sulawesi Selatan. “Anak pertamanya sudah jadi polisi di Polda Sulsel,” ujarnya bangga.
Komunikasi Terakhir dan Insiden yang Menimpa
Sebelum dinyatakan hilang, Kapten Miswar masih sempat berkomunikasi dengan keluarganya. Ia diketahui sedang memimpin kapal tugboat Musaffah 2 yang berlayar di kawasan Selat Hormuz. Komunikasi terakhir tercatat pada hari Rabu lalu, ketika ia berbicara dengan istrinya sebelum bertolak menuju lokasi kerja. “Beliau sempat menyampaikan kepada istrinya bahwa akan melakukan perjalanan menuju lokasi kerja,” jelas Sumarlin.
Keesokan harinya, sekitar pukul 13.00 Wita, Kapten Miswar diketahui masih sempat membuka pesan yang dikirim anaknya melalui aplikasi percakapan. Namun, pesan tersebut tidak sempat ia balas. “Pesannya sempat dibaca, tetapi tidak sempat dibalas. Setelah itu sudah tidak ada lagi kabar,” terangnya dengan nada prihatin.
Kabar mengenai insiden yang menimpa kapal tersebut baru diterima keluarga pada Jumat pagi, sekitar pukul 10.00 Wita, setelah dihubungi oleh rekan kerja korban. “Informasi awal yang kami terima, kapal yang dinakhodai beliau diduga terkena ranjau laut,” ungkap Sumarlin.
Hingga kini, keluarga masih menerima berbagai informasi yang berbeda mengenai kejadian yang menimpa kapal tersebut. Beberapa sumber menyebutkan bahwa kapal Musaffah 2 sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan di Abu Dhabi untuk proses evakuasi. Namun, ada pula informasi yang menyatakan bahwa kapal tersebut sedang diarahkan ke lokasi perbaikan. “Informasi yang kami dengar ada beberapa versi. Ada yang mengatakan kapal itu akan dievakuasi ke pelabuhan Abu Dhabi, ada juga yang mengatakan kapal itu dibawa untuk diperbaiki,” ujar Sumarlin.
Dalam pelayaran tersebut, dilaporkan terdapat dua kapal yang berangkat bersamaan, yaitu Musaffah 2 dan Musaffah 1. “Musaffah 2 berangkat lebih dulu, sementara kapal yang satunya lagi di belakang,” kata dia. Namun, kapal kedua dilaporkan tidak melanjutkan perjalanan setelah diduga menerima kabar bahwa kapal yang dinakhodai Kapten Miswar kehilangan kontak.
Harapan Keluarga dan Peran Pemerintah
Keluarga Kapten Miswar sangat berharap pemerintah Indonesia, melalui perwakilan diplomatik, dapat memberikan bantuan dalam proses pencarian korban. Mereka juga mendambakan informasi yang jelas mengenai situasi yang sebenarnya terjadi. Menurut Sumarlin, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) telah menghubungi keluarga untuk meminta data terkait korban. “Ada dari pihak KBRI yang menelepon menanyakan alamat lengkap keluarga dan mengatakan akan memberi informasi jika ada perkembangan,” katanya.
Keluarga berharap proses pencarian dapat segera dilakukan. “Kami berharap pencarian bisa dipercepat dan korban bisa segera ditemukan,” ujar Sumarlin dengan penuh harap. Meskipun demikian, keluarga mengaku siap menerima apa pun hasil dari proses pencarian tersebut. “Walaupun harapan terbesar kami tentu beliau bisa ditemukan dalam kondisi selamat,” kata Sumarlin.
Bagi keluarga, rencana Kapten Miswar untuk segera pensiun dari dunia pelayaran dan mengabdikan diri di dunia pendidikan kini hanya tinggal kenangan yang belum sempat terwujud. Saat ini, mereka hanya bisa menunggu kabar sambil terus memanjatkan doa agar Kapten Miswar dapat segera ditemukan.
Sebelumnya diberitakan, Kapten Miswar Maturusi, yang berasal dari Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, dilaporkan hilang saat menjalankan pelayaran internasional di kawasan Selat Hormuz. Ia diketahui bekerja sebagai kapten kapal tugboat Musaffah 2 milik perusahaan Abu Dhabi Ports.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengkonfirmasi bahwa tiga dari empat anak buah kapal (ABK) yang merupakan warga negara Indonesia dilaporkan hilang. Insiden ini terjadi setelah kapal tugboat Musaffah 2 yang berbendera Uni Emirat Arab meledak dan tenggelam di perairan Selat Hormuz, yang berada di antara wilayah Uni Emirat Arab dan Oman, pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 02.00 dini hari. Informasi ini diterima melalui laporan dari KBRI Abu Dhabi dan KBRI Muscat yang hingga kini terus memantau perkembangan insiden tersebut.





