IHSG Menguat Menuju Bull Market, Saham Komoditas Jadi Penggerak Utama

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan dan mulai mendekati fase bull market setelah mengalami reli dalam beberapa pekan terakhir. Perbaikan sentimen pasar regional serta keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia menjadi faktor pendorong kenaikan indeks saham domestik.

Pada perdagangan Kamis (23/7), IHSG tercatat menguat hingga 1,5 persen pada jeda siang ke level 6.430,76 poin. Kenaikan tersebut memperpanjang penguatan IHSG sekitar 20 persen dibandingkan posisi terendah yang terjadi pada awal Juni lalu.

Sejumlah saham berbasis komoditas menjadi penopang utama kenaikan indeks, di antaranya PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan IHSG.

Performa pasar saham Indonesia yang sebelumnya menjadi salah satu yang tertekan paling dalam secara global mulai menunjukkan pemulihan. Sejumlah faktor seperti penurunan harga minyak, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar total 50 basis poin pada Juni, serta keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat dan prospek Indonesia turut membantu meredakan tekanan pasar.

“Menurut saya, level terendah pada 8 Juni akan tetap bertahan karena pasar kini semakin memperhitungkan stabilisasi dibandingkan memburuknya kondisi,” ujar Mohit Mirpuri, partner di SGMC Capital Pte Ltd, Singapura.

Meski demikian, Mirpuri menilai pasar saham Indonesia masih berada dalam posisi yang kurang banyak dimiliki (under-owned) oleh investor global. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat investor yang terlalu lama menunggu pemulihan berpotensi kehilangan peluang.

“Biaya karena kesalahan akibat menunggu pemulihan kini menjadi lebih besar dibandingkan biaya jika masuk lebih awal secara selektif,” katanya seperti dikutip Bloomberg.

Pelaku pasar menilai penguatan IHSG tidak terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah dan otoritas keuangan yang bertujuan mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Bank Indonesia pada Rabu secara mengejutkan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Selain itu, bank sentral juga menyiapkan sejumlah insentif untuk menarik arus modal masuk sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat pengelolaan fiskal, termasuk melakukan penyesuaian terhadap skala program makan siang gratis yang sebelumnya direncanakan secara besar-besaran.

Dari sisi pasar keuangan, rupiah tercatat menguat lebih dari 1 persen pada Kamis dibandingkan posisi terendah sepanjang sejarah yang terjadi pada awal Juni. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun lebih dari 10 basis poin dibandingkan level tertinggi dalam tiga tahun yang sempat dicapai pada akhir Juni.

Berdasarkan catatan Bloomberg, IHSG telah menguat sekitar 14 persen sepanjang bulan ini dan menjadi salah satu indeks saham dengan kinerja terbaik di dunia.

Namun, sejumlah investor masih mempertanyakan keberlanjutan pemulihan tersebut. Meski telah mengalami kenaikan dalam beberapa minggu terakhir, IHSG masih mencatat penurunan sekitar 26 persen sepanjang tahun berjalan akibat kekhawatiran terhadap transparansi pasar dan arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Selain itu, pasar masih menunggu keputusan MSCI Inc. pada November mendatang terkait kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia dari kategori emerging market menjadi frontier market. Sementara itu, S&P Dow Jones Indices juga telah memberikan sinyal mengenai kemungkinan reklasifikasi serupa.

Keraguan investor global juga terlihat dari pergerakan dana asing. Investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih saham Indonesia dalam periode harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan.

Sepanjang Juli, arus dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia mencapai sekitar 161 juta dolar AS. Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan arus keluar lebih dari 1 miliar dolar AS pada Juni lalu.

Rajiv Batra, Co-Head Global Emerging Markets Equity Strategy di JPMorgan Chase & Co., menilai pasar belum sepenuhnya memperhitungkan berbagai reformasi yang dilakukan pemerintah untuk mempertahankan posisi Indonesia dalam indeks pasar berkembang.

Menurutnya, posisi underweight investor jangka panjang terhadap saham Indonesia masih cukup besar. Jika investor mulai meyakini Indonesia tetap berada dalam indeks emerging market dan MSCI menerima langkah-langkah yang telah dilakukan pemerintah, aliran dana asing diperkirakan kembali masuk sehingga penguatan pasar saham dapat berlangsung lebih berkelanjutan.

“Dengan keyakinan bahwa Indonesia akan tetap berada dalam indeks emerging market dan berbagai langkah pemerintah mendapat pengakuan, arus modal asing dapat kembali masuk dan memperkuat reli pasar saham,” ujar Rajiv Batra dalam wawancara dengan Bloomberg TV. (Irwan)

Pos terkait