Inflasi Palangka Raya Meroket: Wakil Wali Kota Ungkap Penyebabnya

Inflasi Kota Palangka Raya: Listrik dan Emas Pemicu Utama Kenaikan Tahunan

PALANGKA RAYA – Kota Palangka Raya menghadapi tantangan inflasi yang signifikan pada awal tahun 2026, sebagaimana diungkapkan oleh Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini. Meskipun inflasi bulanan masih menunjukkan angka yang terkendali, tren kenaikan inflasi tahunan tercatat mengalami peningkatan yang cukup mencolok. Dua komoditas utama yang menjadi penyumbang terbesar kenaikan ini adalah listrik dan emas.

Pernyataan ini disampaikan oleh Achmad Zaini usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Rapat yang berlangsung di Kantor Wali Kota Palangka Raya ini menjadi forum penting untuk mengevaluasi dan merumuskan strategi penanganan inflasi di berbagai daerah di Indonesia.

“Hari ini kita kembali mengikuti rakor pengendalian inflasi yang dipimpin langsung Kemendagri,” ujar Zaini, menekankan pentingnya koordinasi lintas sektoral dalam menghadapi isu ekonomi makro ini.

Penyebab Inflasi Tahunan yang Meningkat

Achmad Zaini menjelaskan bahwa tren kenaikan inflasi tahunan ini bukanlah fenomena yang hanya terjadi di Palangka Raya, melainkan merupakan gambaran umum yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Namun, ia menegaskan bahwa lonjakan inflasi ini tidak sepenuhnya dipicu oleh kenaikan harga barang secara masif di pasar. Ada faktor-faktor spesifik yang berperan besar dalam mendorong angka inflasi tahunan di Palangka Raya.

“Dua komoditas yang paling besar menyumbang inflasi adalah listrik dan emas,” ungkapnya, mengidentifikasi akar permasalahan utama.

Analisis Komponen Inflasi:

  • Sektor Listrik:
    Kenaikan kontribusi inflasi dari sektor listrik ternyata bukan disebabkan oleh kenaikan tarif resmi dari penyedia jasa. Sebaliknya, penyebab utamanya adalah berakhirnya kebijakan subsidi listrik sebesar 50 persen yang sebelumnya berlaku hingga Januari 2025.
    “Kalau dibandingkan Januari tahun lalu, saat itu masih ada subsidi listrik dari pemerintah. Sekarang kondisinya sudah normal, jadi bukan tarif listrik yang naik,” jelas Zaini.
    Subsidi yang telah dicabut ini secara otomatis membuat biaya listrik yang ditanggung oleh masyarakat menjadi lebih tinggi, yang kemudian tercermin dalam perhitungan inflasi tahunan.

  • Sektor Emas:
    Selain sektor energi, kenaikan harga emas dalam beberapa bulan terakhir juga turut memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi tahunan di Palangka Raya. Emas, yang sering dianggap sebagai aset safe haven, mengalami tren kenaikan harga yang stabil.
    “Harga emas terus mengalami kenaikan. Jadi ketika dibandingkan dengan tahun lalu, inflasi Januari 2026 terlihat lebih tinggi,” lanjutnya.
    Fluktuasi harga emas ini, meskipun mungkin tidak secara langsung memengaruhi kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat, tetap menjadi komponen penting dalam perhitungan indeks harga konsumen secara agregat.

Data Inflasi: Gambaran Rinci

Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi Kota Palangka Raya secara tahunan (year-on-year) tercatat sebesar 4,61 persen. Angka ini memang tergolong cukup tinggi jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Namun, ketika dilihat dari sisi inflasi bulanan (month-to-month), angkanya relatif lebih rendah, yaitu hanya 0,39 persen. Perbedaan mencolok antara inflasi tahunan dan bulanan ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai dinamika yang terjadi.

“Data BPS menunjukkan inflasi year on year memang cukup tinggi, tapi month to month masih rendah,” tutur Zaini.

Implikasi dan Pengendalian Inflasi

Rendahnya angka inflasi bulanan menunjukkan bahwa pergerakan harga barang dan jasa dari bulan Desember 2025 ke Januari 2026 relatif terkendali. Ini berarti bahwa lonjakan harga yang signifikan tidak terjadi dalam rentang waktu tersebut.

“Yang membuat inflasi terlihat tinggi itu karena pembandingnya tahun lalu, saat masih ada subsidi listrik 50 persen,” pungkas Zaini, kembali menegaskan faktor pembanding yang krusial dalam analisis inflasi tahunan.

Pemerintah Kota Palangka Raya, bersama dengan instansi terkait lainnya, terus berupaya memantau dan mengendalikan laju inflasi. Langkah-langkah strategis akan terus dirumuskan untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, terutama dengan mempertimbangkan faktor-faktor eksternal seperti kebijakan subsidi energi dan fluktuasi harga komoditas global.

Koordinasi yang intensif dengan Kemendagri dan lembaga ekonomi lainnya diharapkan dapat menghasilkan solusi yang efektif dalam menekan laju inflasi dan menjaga perekonomian daerah tetap stabil.

Pos terkait