Iran Buka Jalur Hormuz untuk Kapal Jepang

Iran Buka Peluang Kapal Jepang Melintasi Selat Hormuz dengan Syarat

Teheran – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengindikasikan kesiapan negaranya untuk mengizinkan kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Jepang melintasi Selat Hormuz. Jalur laut strategis ini merupakan urat nadi vital bagi Jepang, karena dilalui oleh sekitar 93 persen impor minyak mentah negara tersebut. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah wawancara eksklusif yang kemudian diunggah melalui akun Telegram pribadi Araghchi pada Sabtu, 21 Maret.

Menurut transkrip wawancara tersebut, pembicaraan mengenai isu ini dengan pihak Jepang memang telah dimulai. Araghchi mengungkapkan bahwa topik ini turut dibahas dalam percakapan telepon antara dirinya dengan Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, pada Selasa, 17 Maret. Ketika ditanya apakah Tokyo telah mengajukan permintaan resmi terkait hal ini, Araghchi menolak memberikan jawaban detail, hanya menegaskan bahwa negosiasi masih terus berlangsung.

Selat Hormuz: Keterbukaan Bersyarat di Tengah Ketegangan

Araghchi memberikan penegasan penting bahwa Iran tidak menutup Selat Hormuz secara total. “Menurut kami, selat itu terbuka,” ujarnya dalam wawancara tersebut. “Selat itu hanya ditutup untuk kapal milik musuh kami, negara-negara yang menyerang kami. Untuk negara lain, kapal dapat melintas melalui selat tersebut.”

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa Iran siap untuk menjamin keamanan pelayaran bagi kapal-kapal dari negara-negara yang tidak dianggap sebagai musuh. “Mereka hanya perlu menghubungi kami untuk membahas bagaimana rute ini akan dilalui,” tegas Araghchi, sembari secara spesifik menyebutkan bahwa tawaran ini juga mencakup Jepang.

Pernyataan ini sejalan dengan laporan yang beredar, di mana Araghchi menyatakan, “Kami sedang berbicara dengan mereka untuk menemukan cara agar bisa melintas dengan aman. Kami siap memberikan jalur aman bagi mereka. Yang perlu mereka lakukan hanyalah menghubungi kami untuk membahas bagaimana rute ini akan dilalui.”

Jepang Khawatirkan Nasib Kapal yang Tertahan

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, dilaporkan telah menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran berfokus pada krusialnya menjaga kelancaran perdagangan internasional. “Saya menekankan bahwa keselamatan kapal-kapal ini adalah yang paling utama,” ujarnya, menyoroti kekhawatiran Tokyo atas keselamatan armada maritimnya. Ia mencatat bahwa saat ini terdapat sekitar 45 kapal yang memiliki kaitan dengan Jepang dilaporkan tertahan di wilayah Teluk Persia.

Motegi juga menekankan betapa mendesaknya pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut. “Dari perspektif Jepang, karena ada begitu banyak kapal yang terlibat, kami percaya sangat penting untuk menciptakan situasi di mana semuanya dapat melintas,” katanya. Ia menambahkan bahwa terhentinya aktivitas perdagangan, termasuk pengiriman kontainer, bukanlah perkembangan yang baik bagi perekonomian global.

Tekanan Internasional dan Ancaman Serangan

Munculnya pernyataan Iran ini terjadi di tengah tekanan yang meningkat dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump sebelumnya menuntut Iran untuk membuka sepenuhnya Selat Hormuz dalam kurun waktu 48 jam, dengan ancaman akan melancarkan serangan jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi. “Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz, dalam 48 jam Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka,” tulis Trump melalui media sosialnya.

Sejak terjadinya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang dimulai pada 28 Februari, lalu lintas di Selat Hormuz dilaporkan mengalami hambatan signifikan, bahkan praktis terhenti pada beberapa periode. Garda Revolusi Iran sempat mengeluarkan peringatan keras akan membakar kapal apa pun yang mencoba melintas, yang berujung pada penurunan tajam aktivitas pelayaran di jalur vital tersebut.

Situasi ini menyoroti betapa kompleksnya dinamika geopolitik di kawasan Teluk Persia, di mana kepentingan ekonomi global sangat bergantung pada kelancaran jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz. Kesediaan Iran untuk membuka negosiasi dengan Jepang menunjukkan adanya ruang untuk dialog, namun syarat-syarat yang diajukan tetap menjadi poin krusial yang perlu dipertimbangkan oleh semua pihak yang berkepentingan.

Pos terkait