Israel menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan diri dari serangan rudal, terutama yang berasal dari Iran dan kelompok sekutunya seperti Hizbullah di Lebanon. Laporan terbaru menyebutkan bahwa persediaan pencegat rudal balistik Israel kini berada dalam kondisi yang sangat kritis. Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan serangan mereka.
Penipisan Stok Pencegat Rudal Israel
Sejumlah pejabat Amerika Serikat yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kepada media bahwa Israel telah memasuki konflik saat ini dengan stok pencegat rudal yang sudah menipis sejak pertempuran musim panas lalu dengan Iran. Sistem pertahanan jarak jauh Israel dilaporkan semakin kewalahan menghadapi intensitas serangan dari Iran. Laporan lain dari CNN bahkan menyebutkan bahwa Iran telah menambahkan amunisi tandan ke dalam rudalnya, yang berpotensi semakin memperburuk penipisan stok pencegat Israel.

Penampakan peluncur Iron Dome yang hancur dirudal Hizbullah di utara Israel, Rabu (5/6/2024). – (Telegram)
Amerika Serikat telah menyadari penurunan kapasitas pertahanan Israel ini selama berbulan-bulan. Seorang pejabat AS yang dikutip dalam laporan tersebut menyatakan, “Ini adalah sesuatu yang kami perkirakan dan antisipasi.” Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran yang lebih luas mengenai berkurangnya jumlah pencegat akibat keterlibatan militer yang berkepanjangan di berbagai front, yang berpotensi menempatkan Amerika Serikat sendiri dalam posisi yang kurang menguntungkan.
Dilema Bantuan Pencegat dari AS
Belum jelas apakah Amerika Serikat akan mengambil langkah untuk menjual atau membagikan alat pencegat rudalnya kepada Israel. Keputusan semacam itu berpotensi memberikan tekanan pada pasokan pencegat domestik AS. Namun, perlu dicatat bahwa Amerika Serikat memiliki rekam jejak dalam memasukkan aset pertahanan rudal sebagai bagian dari bantuan militer yang diberikan kepada Israel di masa lalu.
Pejabat AS tersebut menambahkan, “Kami memiliki semua yang kami perlukan untuk melindungi pangkalan dan personel kami di kawasan dan kepentingan kami.” Kendati demikian, ia juga menekankan bahwa Israel harus “menemukan solusi untuk mengatasi” kekurangan yang mereka hadapi.
Alternatif Pertahanan Israel
Meskipun pencegat rudal merupakan salah satu senjata pertahanan paling efektif melawan tembakan jarak jauh, Israel memiliki cara lain untuk bertahan melawan rudal Iran selama perang. Salah satunya adalah melalui penggunaan jet tempur. Namun, sistem pertahanan rudal Iron Dome, yang dirancang untuk menangkis tembakan jarak pendek, memiliki keterbatasan dalam menghadapi ancaman rudal balistik jarak jauh.
Stok Amunisi AS dan Kekhawatiran Analis
Di sisi lain, mantan Presiden Donald Trump pernah menyatakan pada awal bulan ini bahwa Amerika Serikat memiliki persediaan amunisi yang “hampir tidak terbatas.” Namun, para analis pertahanan telah lama menyuarakan keprihatinan bahwa persediaan amunisi AS sebenarnya lebih rendah dari yang diinginkan oleh militer.
Sebagai gambaran, pada Juni 2025, Amerika Serikat dilaporkan menembakkan lebih dari 150 pencegat THAAD selama perang 12 hari dengan Iran. Berdasarkan temuan Pusat Studi Strategis dan Internasional, jumlah tersebut diperkirakan setara dengan seperempat dari total persediaan AS pada saat itu. Selain itu, laporan lain menyebutkan bahwa Amerika Serikat diyakini telah menggunakan pencegat Patriot senilai sekitar 2,4 miliar dolar AS hanya dalam lima hari pertama perang tersebut.
Menyadari potensi penipisan stok ini, pada bulan Januari lalu, Pentagon telah mengambil langkah untuk mulai meningkatkan produksi sistem pertahanan rudal THAAD secara substansial. Para pejabat AS menyatakan bahwa pemerintah memiliki stok THAAD dan jet tempur yang cukup, serta pencegat tingkat menengah.
Juru bicara Kepala Pentagon, Sean Parnell, dalam sebuah pernyataan kepada media, menegaskan bahwa departemen tersebut “memiliki semua yang diperlukan untuk melaksanakan misi apapun pada waktu dan tempat” yang dipilih oleh Presiden. Pernyataan ini mengindikasikan kesiapan militer AS dalam menghadapi berbagai skenario, meskipun kekhawatiran mengenai stok pencegat global tetap menjadi isu yang perlu dicermati.




