ITS Inisiasi Program Pendidikan Insinyur 5 Tahun untuk Tingkatkan Profesionalisme dan Dukung Target Nasional
SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tengah menggodok sebuah skema inovatif dalam pendidikan tinggi teknik, yaitu percepatan jenjang pendidikan profesi insinyur bagi lulusan sarjana teknik. Inisiatif ini dirancang untuk memungkinkan para lulusan menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) dan langsung melanjutkan ke jenjang profesi insinyur dalam kurun waktu total sekitar lima tahun. Langkah strategis ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah insinyur profesional di tanah air, sekaligus mendukung target ambisius pemerintah terkait Engineering Index nasional yang menargetkan angka 28 persen.
Rektor ITS, Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, ST, MSc Eng, PhD, IPU, ASEAN Eng, menjelaskan bahwa kebijakan ini muncul dari pengamatan terhadap realitas jumlah lulusan sarjana teknik yang melimpah, namun tidak semuanya kemudian menempuh pendidikan hingga memperoleh gelar profesi insinyur. “Lulusan sarjana teknik sebenarnya cukup banyak, tetapi yang melanjutkan hingga menjadi insinyur masih relatif sedikit,” ungkapnya. Kondisi ini menjadi latar belakang utama ITS untuk mengkaji dan merumuskan skema pendidikan yang lebih efisien dan menarik.
Mendukung Target Engineering Index Nasional
Percepatan jalur pendidikan profesi insinyur ini dipandang sebagai salah satu pilar penting dalam strategi nasional untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas insinyur profesional. Dengan lebih banyak sarjana teknik yang termotivasi dan terbantu untuk meraih gelar insinyur, diharapkan Indonesia dapat segera mencapai target peningkatan Engineering Index hingga 25 persen. Indeks ini menjadi indikator penting dalam mengukur kematangan dan kapasitas keinsinyuran suatu negara, yang berdampak langsung pada kemajuan pembangunan dan daya saing global.
Lebih lanjut, Prof. Bambang menegaskan bahwa praktik keinsinyuran di era modern menuntut paradigma baru. Insinyur masa depan tidak cukup hanya menguasai ilmu teknik semata. Mereka dituntut memiliki kompetensi multidisiplin yang mencakup bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Selain itu, pemahaman mendalam mengenai efisiensi energi dan penguasaan teknologi cerdas juga menjadi keharusan. “Program ini bukan sekadar sertifikasi, tetapi menjadi gawang dalam praktik profesional. Akselerasi perlu dilakukan agar Indonesia mampu menyiapkan insinyur paripurna yang mendukung visi Indonesia Emas,” tegas Guru Besar Teknik Mesin ITS tersebut.
Tantangan dan Visi Keinsinyuran Masa Depan
Prof. Bambang juga menguraikan beberapa tantangan strategis yang dihadapi dunia keinsinyuran saat ini. Salah satunya adalah kesenjangan yang terkadang terjadi antara inovasi yang lahir dari lingkungan akademik dengan kebutuhan riil di industri. Menjaga integritas dan etika profesi juga menjadi isu krusial yang harus terus diperkuat di tengah dinamika perkembangan teknologi yang begitu pesat. Insinyur dituntut untuk mampu mengelola kemajuan teknologi ini secara bijak demi kemaslahatan masyarakat.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Prof. Dr. Ir. Agus Taufik Mulyono, MT, IPU, ASEAN Eng, menekankan peran sentral profesi insinyur dalam menjamin keselamatan, kesehatan, dan keberlanjutan pembangunan. “Praktik keinsinyuran harus dijalankan oleh tenaga profesional yang memiliki kompetensi serta mematuhi kode etik profesi,” tegasnya. Hal ini menegaskan bahwa peningkatan jumlah insinyur harus dibarengi dengan peningkatan standar kompetensi dan etika yang tinggi.
Kolaborasi dan Pengukuran Kinerja Keinsinyuran
Ke depan, ITS juga memiliki rencana untuk menjajaki penerapan World Engineering Forum Government Engineering Index. Indeks ini merupakan instrumen yang dirancang khusus untuk mengukur praktik keinsinyuran dalam konteks pembangunan daerah. Melalui penerapan indeks ini, diharapkan dapat terjalin kolaborasi yang lebih erat antara institusi pendidikan tinggi, seperti ITS, dengan pemerintah di berbagai tingkatan. Kolaborasi ini bertujuan untuk terus meningkatkan kualitas, profesionalisme, dan kontribusi insinyur Indonesia dalam pembangunan nasional.
Dengan skema pendidikan yang dipercepat dan fokus pada kompetensi masa depan, ITS berupaya menjawab tantangan zaman dan berkontribusi nyata dalam mencetak generasi insinyur yang siap menghadapi kompleksitas dunia modern serta mendukung terwujudnya Indonesia Emas.
Inovasi Pendidikan Insinyur: ITS Kembangkan Jalur Cepat 5 Tahun
SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merencanakan sebuah terobosan signifikan dalam sistem pendidikan tinggi teknik dengan menghadirkan skema pendidikan S1 dan profesi insinyur yang dapat diselesaikan dalam kurun waktu lima tahun. Inisiatif ini merupakan respons terhadap kebutuhan mendesak untuk meningkatkan jumlah insinyur profesional di Indonesia dan mendukung pencapaian target Engineering Index nasional yang diproyeksikan mencapai 25 persen.
Rektor ITS, Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, ST, MSc Eng, PhD, IPU, ASEAN Eng, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memfasilitasi lulusan sarjana teknik agar dapat melanjutkan pendidikan profesi insinyur hanya dalam satu tahun setelah menyelesaikan studi S1. Tujuannya adalah menciptakan jalur yang lebih efisien dan menarik bagi para lulusan untuk segera berkontribusi secara profesional di bidangnya.
“Lulusan sarjana teknik sebenarnya cukup banyak, tetapi yang melanjutkan hingga menjadi insinyur masih relatif sedikit,” ujar Prof. Bambang, menggarisbawahi motivasi di balik inovasi ini. Ia menambahkan bahwa percepatan ini bukan sekadar soal waktu, melainkan strategi komprehensif untuk memastikan lebih banyak lulusan teknik yang memiliki kualifikasi insinyur profesional sesuai standar yang berlaku.
Menjawab Kebutuhan Industri dan Teknologi Masa Depan
Prof. Bambang menekankan bahwa praktik keinsinyuran modern menuntut adaptasi terhadap paradigma baru. Insinyur di masa depan tidak hanya diharapkan mahir dalam bidang teknik, tetapi juga harus memiliki kompetensi yang kuat dalam ranah Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Selain itu, pemahaman mendalam mengenai efisiensi energi dan penguasaan teknologi cerdas menjadi elemen krusial. “Program ini bukan sekadar sertifikasi, tetapi menjadi gawang dalam praktik profesional. Akselerasi perlu dilakukan agar Indonesia mampu menyiapkan insinyur paripurna yang mendukung visi Indonesia Emas,” tegasnya.
Visi ini sangat relevan mengingat pesatnya perkembangan teknologi dan tantangan global seperti perubahan iklim yang membutuhkan solusi inovatif dari para insinyur. Dengan mempersiapkan insinyur yang memiliki wawasan luas dan keterampilan adaptif, Indonesia diharapkan dapat mempercepat transformasinya menuju negara maju.
Beberapa tantangan strategis yang juga disorot oleh Prof. Bambang meliputi kesenjangan antara temuan akademik dan aplikasi industri, pentingnya menjaga integritas dan etika profesi, serta bagaimana para insinyur dapat mengelola perkembangan teknologi yang begitu dinamis secara bijak. Program pendidikan yang dipercepat ini diharapkan dapat membekali para calon insinyur dengan pemahaman yang holistik terhadap tantangan-tantangan tersebut.
Peran Kunci Insinyur dalam Pembangunan Nasional
Senada dengan pandangan ITS, Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Prof. Dr. Ir. Agus Taufik Mulyono, MT, IPU, ASEAN Eng, menegaskan tanggung jawab besar yang diemban oleh para insinyur. Profesi ini memegang peranan vital dalam memastikan keselamatan, kesehatan, dan keberlanjutan pembangunan bagi seluruh masyarakat. “Praktik keinsinyuran harus dijalankan oleh tenaga profesional yang memiliki kompetensi serta mematuhi kode etik profesi,” tegasnya.
Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya tidak hanya kuantitas, tetapi juga kualitas dan integritas para insinyur. Program pendidikan yang efisien diharapkan dapat meningkatkan jumlah praktisi insinyur yang berkualitas, yang siap berkontribusi secara optimal dalam berbagai proyek pembangunan di Indonesia.
ITS juga berencana untuk mengeksplorasi penerapan World Engineering Forum Government Engineering Index. Indeks ini merupakan alat ukur yang dirancang untuk mengevaluasi dan memantau praktik keinsinyuran dalam konteks pembangunan di tingkat daerah. Melalui penerapan indeks ini, diharapkan tercipta sinergi yang lebih kuat antara institusi pendidikan tinggi dan pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas serta profesionalisme insinyur di seluruh Indonesia. Dengan demikian, inisiatif ITS ini tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah insinyur, tetapi juga pada penguatan fondasi keinsinyuran nasional yang kokoh dan berintegritas.




