Jakarta Cerah Berawan: Awal Musim Kemarau 15 Maret 2026

Jakarta Diterpa Panas Menyengat, Potensi Kekeringan dan Kebakaran Mengintai

Jakarta – Ibu kota Indonesia, Jakarta, diprediksi akan menghadapi cuaca panas yang menyengat pada hari Minggu, 15 Maret 2026. Kondisi ini merupakan kelanjutan dari beberapa hari terakhir di mana suhu udara di siang hari telah mencapai kisaran 30 hingga 32 derajat Celsius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan suhu udara pada hari Minggu ini dapat mencapai puncaknya di angka 32 derajat Celsius.

Meskipun sebagian besar wilayah Jakarta diprediksi akan diselimuti awan cerah berawan, hanya Kepulauan Seribu yang diperkirakan akan menikmati cuaca cerah sepenuhnya.

Berikut adalah rincian prakiraan cuaca di berbagai wilayah Jakarta pada hari Minggu, 15 Maret 2026:

  • Kepulauan Seribu

    • Cuaca: Cerah
    • Suhu: 26-29 °C
    • Kelembapan: 73-87 persen
  • Kota Jakarta Pusat

    • Cuaca: Cerah Berawan
    • Suhu: 24–31 °C
    • Kelembapan: 58-88 persen
  • Kota Jakarta Utara

    • Cuaca: Cerah Berawan
    • Suhu: 25–31 °C
    • Kelembapan: 67-86 persen
  • Kota Jakarta Barat

    • Cuaca: Cerah Berawan
    • Suhu: 23–41 °C
    • Kelembapan: 60–90 persen

  • Kota Jakarta Selatan

    • Cuaca: Cerah Berawan
    • Suhu: 23–32 °C
    • Kelembapan: 52–93 persen
  • Kota Jakarta Timur

    • Cuaca: Cerah Berawan
    • Suhu: 23–32 °C
    • Kelembapan: 53–94 persen

Waspada Ancaman Kekeringan dan Kebakaran

Menanggapi cuaca panas yang ekstrem ini, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Isnawa Adji, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan indikasi peralihan musim menuju musim kemarau. “BMKG sudah mengingatkan bahwa kita akan masuk musim kemarau,” ujar Isnawa saat dihubungi pada Sabtu, 14 Maret 2026.

BPBD DKI Jakarta telah mengambil langkah antisipasi terhadap potensi bencana yang mungkin timbul akibat musim kemarau, terutama kebakaran dan kekeringan. Untuk menghadapi kemungkinan kekurangan air bersih, BPBD berkolaborasi dengan PAM Jaya untuk menyiapkan truk tangki air.

“Musim kemarau ditandai dengan potensi kekeringan, kebakaran, hal ini harus diantisipasi,” tegas Isnawa. Ia menambahkan bahwa BPBD telah mempersiapkan kesiapan armada truk tangki air bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk PAM, PMI (Palang Merah Indonesia), Dinas Sosial, dan instansi terkait lainnya.

Dalam upaya pencegahan kebakaran, Isnawa mengimbau seluruh warga Jakarta untuk tidak membakar sampah atau material lain yang dapat memicu api. Para pengurus RT dan RW juga diminta untuk berperan aktif dalam memantau kondisi lingkungan di wilayah masing-masing. “Musim kemarau harus dijaga agar tidak membakar sampah dan material lain yang berdampak. RT RW lakukan pemantauan lingkungan dan awasi penggunaan listrik,” pesannya.

Prediksi BMKG Mengenai Musim Kemarau 2026

BMKG sendiri telah merilis prediksi mengenai musim kemarau yang diperkirakan akan melanda Indonesia. Fenomena La Nina Lemah yang telah berlangsung sejak Oktober 2025 dilaporkan telah berakhir pada Februari 2026.

Sebagian besar wilayah di Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau pada periode April (meliputi 114 Zona Musim atau ZOM, setara dengan 16,3 persen wilayah), Mei (184 ZOM, atau 26,3 persen), dan Juni 2026 (163 ZOM, atau 23,3 persen). Awal musim kemarau ini diperkirakan akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian secara bertahap meluas ke wilayah Indonesia lainnya.

Menariknya, awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan datang lebih awal dari biasanya (maju) di 325 ZOM (46,5 persen wilayah), sementara di 173 ZOM (23,7 persen wilayah) diprediksi akan sama dengan periode normal.

Terkait curah hujan, akumulasi curah hujan selama periode musim kemarau di mayoritas wilayah Indonesia (451 ZOM, atau 64,5 persen) diprediksi berada pada kategori “Bawah Normal”, yang berarti akan lebih kering dari biasanya.

Puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus 2026, dengan cakupan 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah. Puncak ini juga diprediksi akan datang lebih awal (maju) di 410 ZOM (58,7 persen wilayah) dan di 142 ZOM (20,3 persen wilayah) diprediksi sama dengan normalnya.

Lebih lanjut, mayoritas wilayah Indonesia (400 ZOM, atau 57,2 persen) diprediksi akan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dari periode normalnya. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari seluruh lapisan masyarakat untuk menghadapi tantangan yang mungkin timbul selama musim kemarau panjang.

Pos terkait