Jakarta Timur: Banjir Ciliwung-Sunter Surut

Banjir Jakarta Timur Surut Total, Warga Kembali Beraktivitas Pasca Luapan Ciliwung dan Sunter

Jakarta Timur, Senin (9/3/2026) – Kabar baik datang dari Jakarta Timur. Setelah digenangi banjir akibat luapan Kali Ciliwung dan Kali Sunter, sejumlah permukiman warga kini telah sepenuhnya terbebas dari genangan air. Berdasarkan pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Timur, hingga Senin pagi pukul 07.30 WIB, tidak ada lagi wilayah permukiman yang terendam banjir.

Situasi ini menjadi penanda berakhirnya masa darurat bagi ribuan warga yang sebelumnya terdampak luapan sungai-sungai besar di ibu kota. Kasatgas BPBD Korwil Jakarta Timur, Rangga, mengonfirmasi bahwa proses surutnya banjir berjalan cukup cepat di berbagai kecamatan.

Perkembangan Penanganan Banjir di Berbagai Kawasan:

  • Kecamatan Jatinegara:
    Di kawasan Kebon Pala, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, banjir yang disebabkan oleh luapan Kali Ciliwung mulai surut sejak Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Rangga melaporkan bahwa wilayah RW 04, 05, 07, dan 08 di Kelurahan Kampung Melayu kini sudah kembali kering dan aman.
    Sebelumnya, permukiman warga di RW 04 dan RW 05 kawasan Kebon Pala sempat tergenang air dengan ketinggian mencapai sekitar 1,6 meter. Banjir ini merupakan dampak langsung dari kenaikan tinggi muka air (TMA) di Bendungan Katulampa, Bogor, dan Pos Pantau Depok, diperparah dengan intensitas curah hujan yang tinggi di wilayah Jakarta.

    Kondisi serupa juga terjadi di Kelurahan Bidara Cina, yang sebelumnya terdampak luapan Kali Ciliwung. Saat ini, wilayah tersebut juga dilaporkan telah surut sepenuhnya. Begitu pula dengan Kelurahan Cipinang Muara, yang terdampak luapan Kali Sunter, kini telah kering.

  • Kecamatan Kramat Jati:
    Banjir luapan Kali Ciliwung yang merendam permukiman warga di Kelurahan Cililitan, Cawang, dan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, juga telah surut sejak Minggu siang. Selain itu, banjir di wilayah Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramat Jati, yang sebelumnya dipicu oleh hujan lokal, kini juga dilaporkan telah surut berdasarkan pemantauan BPBD Jakarta Timur.

  • Kecamatan Duren Sawit:
    Di Kecamatan Duren Sawit, Kelurahan Pondok Bambu, yang sebelumnya terdampak luapan aliran Kali Sunter, kini genangan airnya telah surut sejak Minggu pukul 16.00 WIB.

  • Kecamatan Makasar:
    BPBD Korwil Jakarta Timur juga mencatat bahwa banjir luapan Kali Sunter yang sempat menggenangi permukiman warga di Kelurahan Kebon Pala, Halim Perdanakusuma, dan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, kini sudah sepenuhnya surut.

    Khusus di Kelurahan Cipinang Melayu, ketinggian banjir sempat mencapai sekitar 1,6 meter dan memaksa puluhan kepala keluarga untuk mengungsi. Genangan air di wilayah ini dilaporkan surut total pada Minggu sekitar pukul 18.00 WIB. Rangga menambahkan bahwa di RW 03 Cipinang Melayu, sebelumnya terdapat 59 jiwa yang mengungsi di masjid, sementara di RW 04, 32 jiwa berlindung di tenda darurat. Namun, dengan surutnya banjir, mereka kini dapat kembali ke rumah masing-masing.

Penyebab dan Respons Cepat:

Banjir yang terjadi kali ini merupakan akumulasi dari beberapa faktor. Kenaikan tinggi muka air di Bendungan Katulampa, Bogor, dan Pos Pantau Depok menjadi pemicu utama meluapnya Kali Ciliwung. Sementara itu, luapan Kali Sunter juga berkontribusi signifikan terhadap genangan di wilayah Jakarta Timur. Intensitas curah hujan yang tinggi, baik di hulu maupun di wilayah Jakarta, turut memperburuk situasi.

BPBD Jakarta Timur telah mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk memantau perkembangan banjir, memberikan bantuan kepada warga terdampak, dan melakukan upaya penanganan pasca banjir. Pendataan warga yang mengungsi, penyediaan tempat penampungan sementara, serta distribusi bantuan logistik menjadi prioritas utama selama masa banjir.

Dengan surutnya banjir, fokus kini beralih pada pemulihan dan pembersihan area yang terdampak. Warga diharapkan dapat segera kembali beraktivitas normal, meskipun upaya pembersihan dan pemulihan pasca banjir mungkin masih memerlukan waktu. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, terutama mengingat perubahan iklim yang dapat memicu cuaca ekstrem.

Pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan infrastruktur pengendalian banjir, termasuk normalisasi sungai dan pembangunan tanggul, sebagai langkah antisipasi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir di ibu kota. Koordinasi antarlembaga dan partisipasi masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi tantangan bencana hidrometeorologi ini.

Pos terkait