Pergeseran Minat Wisatawan di Jawa Tengah: Destinasi Urban dan Ikonik Mengalahkan Alam
Libur Lebaran 2026 di Jawa Tengah mencatat sebuah fenomena menarik sekaligus mengejutkan: pergeseran signifikan pada preferensi destinasi wisata. Berdasarkan data dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah, tren kunjungan wisatawan menunjukkan adanya pergeseran dari wisata alam pegunungan menuju destinasi berbasis urban dan yang memiliki daya tarik visual kuat.
Sebanyak sembilan Daerah Tujuan Wisata (DTW) utama yang dipantau oleh Pemprov Jateng, lima di antaranya mengalami penurunan jumlah pengunjung. Destinasi-destinasi ikonik yang selama ini menjadi primadona seperti Candi Borobudur, objek wisata air Owabong, kawasan wisata alam Baturraden, objek wisata Guci, dan Taman Wisata Candi Prambanan, justru terpantau lebih sepi peminat dibandingkan periode libur Lebaran tahun sebelumnya.
Sebaliknya, empat destinasi lain justru mengalami lonjakan pengunjung yang signifikan. Keempat lokasi tersebut adalah Kota Lama Semarang, Masjid Agung Demak, Makam Sunan Kalijaga, dan Pantai Menganti di Kebumen. Fenomena ini mengindikasikan adanya perubahan selera wisatawan yang kini lebih mengutamakan pengalaman yang unik dan berpotensi untuk dibagikan di media sosial.
Pergeseran Preferensi: Dari Alam ke Urban dan Visual
Kepala Disbudparekraf Jateng, Hanung Triyono, menjelaskan bahwa pergeseran ini merupakan respons terhadap tren global dan perubahan perilaku masyarakat. “Terjadi pergeseran preferensi dari alam pegunungan ke urban tourism, serta dari aktivitas ringan ke experience dan visual tourism. Masyarakat kini lebih mencari destinasi yang ikonik secara visual,” ujar Hanung. Hal ini sejalan dengan meningkatnya popularitas destinasi yang menawarkan nilai estetika tinggi dan pengalaman yang berbeda, yang seringkali lebih mudah diakses dan dinikmati di kawasan perkotaan atau memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat.
Selain itu, faktor ekonomi juga turut berperan dalam menentukan pilihan destinasi. Di tengah ketidakpastian ekonomi, masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam mengalokasikan anggaran liburan. Hal ini membuat destinasi yang menawarkan nilai lebih atau bahkan gratis menjadi pilihan utama.
Destinasi Gratis dan Religi Jadi Primadona
Fenomena “wisata gratis” terlihat jelas dengan melonjaknya kunjungan di destinasi yang tidak memungut biaya masuk. Selain Kota Lama Semarang yang memang memiliki akses terbuka, destinasi wisata religi seperti Masjid Agung Demak dan Makam Sunan Kalijaga menjadi magnet bagi para pelancong. Lokasi-lokasi ini tidak hanya menawarkan nilai spiritual yang mendalam, tetapi juga seringkali tidak dikenakan biaya masuk yang memberatkan.
Pantai Menganti di Kebumen juga menjadi salah satu destinasi yang dibanjiri pengunjung. Keindahan alam pantai ini, ditambah dengan akses yang relatif mudah dan mungkin biaya masuk yang terjangkau, menjadikannya pilihan menarik bagi banyak keluarga.
“Adanya pergeseran daya beli masyarakat sebagai dampak dari kondisi ekonomi saat ini juga menjadi faktor penentu,” tambah Hanung. Ini menunjukkan bahwa selain faktor tren dan preferensi, kemampuan finansial juga menjadi pertimbangan krusial dalam perencanaan liburan.
Meskipun ada pergeseran lokasi kunjungan, secara akumulatif, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Jawa Tengah selama periode H-7 hingga H+2 Lebaran 2026 (13-23 Maret 2026) tetap menunjukkan tren positif. Tercatat sebanyak 453.230 orang mengunjungi Jawa Tengah, angka ini mengalami kenaikan sebesar 7,14 persen dibandingkan periode Lebaran 2025 yang mencapai 423.010 orang. Ini menunjukkan bahwa Jawa Tengah secara keseluruhan masih menjadi destinasi favorit, meskipun segmentasi pengunjungnya mengalami perubahan.
Keluhan Pengelola Wisata Berbayar
Pergeseran minat ini tentu saja berdampak langsung pada pengelola destinasi wisata yang berbayar, terutama yang berbasis alam atau atraksi buatan. Salah satu contohnya adalah Semarang Zoo. Swandito Widyotomo, Business and Development Semarang Zoo, melaporkan adanya penurunan kunjungan yang cukup signifikan, diperkirakan mencapai 20 persen.
Jika pada tahun sebelumnya Semarang Zoo mampu menarik hingga 3.000 pengunjung per hari, kini angka tersebut turun drastis menjadi rata-rata 1.000 hingga 2.000 pengunjung per hari.
Selain faktor cuaca yang kurang bersahabat, kebijakan rekayasa lalu lintas sistem satu arah (one way) yang diterapkan selama arus mudik dan balik Lebaran juga disebut sebagai salah satu penyebab utama penurunan kunjungan. Lokasi Semarang Zoo yang berdekatan dengan Exit Tol Mangkang justru menjadi kendala. Para pemudik yang menggunakan jalur one way tidak dapat keluar di titik tersebut, sehingga menghilangkan peluang bagi wisatawan luar kota untuk singgah.
“Peluang wisatawan luar kota untuk transit ke Semarang Zoo terhambat karena kendala akses exit tol akibat one way. Kami juga berkomunikasi dengan pengelola Gembira Loka di Yogyakarta, hasilnya sama, ada penurunan sekitar 20 persen,” jelas Dito.
Menghadapi situasi ini, pengelola Semarang Zoo menggantungkan harapan pada momen Syawalan yang jatuh pada akhir Maret 2026. Diharapkan, perayaan ini dapat mendongkrak kembali angka kunjungan dan memulihkan pendapatan objek wisata tersebut.




