Jejak Kelahiran Soekarno di Ploso, Jombang: Penelusuran Mendalam yang Mengungkap Sejarah
Penelusuran mengenai lokasi kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, di Ploso, Jombang, Jawa Timur, telah menjadi fokus riset intensif selama hampir satu dekade. Arif Yulianto, seorang peneliti sejarah dan anggota Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang, menjadi garda terdepan dalam upaya mengungkap narasi sejarah yang selama ini terpendam. Perjalanannya dalam menggali jejak-jejak penting ini dimulai pada tahun 2015, sebuah perjalanan yang melibatkan berbagai tokoh budaya dan menghasilkan temuan-temuan signifikan yang kini mendorong pengakuan resmi dari pemerintah.
Awal Mula Penelusuran: Pertemuan dan Diskusi Sejarah
Titik awal penelusuran Arif Yulianto berawal dari sebuah pertemuan tak terduga pada tahun 2015. Saat itu, ia bertemu dengan almarhum Semar Suwito, seorang peneliti sejarah Panji, dalam sebuah kegiatan budaya di Banjarnegara. Pertemuan ini menjadi awal dari serangkaian diskusi mendalam mengenai berbagai catatan sejarah, termasuk kisah masa kecil dan perjalanan hidup Soekarno.
“Setelah perkenalan itu kami intens berkomunikasi. Sekitar 2016 saya diajak ke Ndalem Pojok Wates Kediri untuk menghadiri kegiatan budaya. Dari situlah saya mulai mengenal tempat yang berkaitan dengan perjalanan hidup Bung Karno,” ungkap Arif. Sejak kunjungan tersebut, Arif semakin sering mengunjungi kompleks yang dikenal sebagai Situs Persada Soekarno di Kediri. Bahkan, ia beberapa kali berkesempatan menginap di kamar yang diyakini sebagai tempat tinggal Soekarno saat remaja, semakin memperdalam keterlibatannya dalam riset ini.
Menulis dan Membahas: Menyebarkan Narasi Sejarah
Minat Arif terhadap sejarah ini terus berkembang. Pada tahun 2019, ia mulai menuangkan hasil penelusurannya dalam bentuk artikel yang diterbitkan di media tempatnya bekerja sebagai wartawan. Artikel-artikel tersebut secara khusus membahas keterkaitan Ploso, Jombang, dengan narasi kelahiran Soekarno. Namun, pada tahap awal ini, sumber informasi yang dapat diwawancarai masih terbatas.
“Waktu itu narasumbernya di antaranya Mas Kushartono dari keluarga Ndalem Pojok dan Mas Dian Sukarno, penulis buku Candradimuka,” jelas Arif. Topik ini kemudian tidak hanya berhenti pada tulisan, tetapi juga diperluas melalui forum diskusi yang digelar bersama sejumlah tokoh budaya dan masyarakat di musala Pondok Pesantren Jatiwates, Kecamatan Tembelang, pada tahun yang sama.
Pada tahun 2019 pula, Arif menyampaikan temuan awal mengenai sejarah Ploso kepada sastrawan Binhad Nurrohmat saat peringatan Hari Santri di Universitas Wahab Hasbullah Tambakberas, Jombang. Upaya ini membuka pintu untuk penelusuran lebih lanjut yang melibatkan berbagai pihak.
Temuan Signifikan: Jejak Makam hingga Foto Saksi Kelahiran
Penelusuran lanjutan yang dilakukan bersama berbagai pihak mulai membuahkan hasil yang signifikan. Sejumlah jejak sejarah yang selama ini tersembunyi mulai terkuak. Di antaranya adalah penemuan makam Mbok Suwi, yang diyakini sebagai pengasuh Soekarno semasa kecilnya di Ploso. Selain itu, ditemukan pula makam Mbah Joyodipo, yang diyakini sebagai teman masa kecil sang proklamator ketika beliau berada di wilayah tersebut.
Temuan paling mengejutkan datang ketika Arif berhasil mendapatkan sebuah foto sosok yang diyakini sebagai saksi kelahiran Soekarno. Sosok tersebut adalah Surosentono, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kek Suro. Foto langka ini ditemukan di wilayah Kabuh, Jombang.
“Nama Kek Suro sebelumnya hanya disebut dalam cerita keluarga Situs Persada Soekarno Kediri. Saat foto itu ditemukan, seolah menjawab teka-teki tentang siapa saksi kelahiran Bung Karno,” ungkap Arif dengan penuh semangat. Penemuan foto ini menjadi bukti visual yang kuat dan semakin memperkokoh narasi sejarah mengenai keberadaan Soekarno di Ploso.
Pengajuan dan Kajian Resmi: Menuju Status Cagar Budaya
Perjalanan Arif dalam mengungkap sejarah ini semakin terstruktur setelah ia lolos asesmen Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) di Jakarta pada tahun 2022. Setahun kemudian, pada tahun 2023, Arif resmi dilantik menjadi anggota TACB Kabupaten Jombang melalui Surat Keputusan Bupati.
Dengan status resminya, Arif semakin gencar mendorong agar narasi sejarah mengenai kelahiran Soekarno di Ploso diajukan secara resmi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang untuk dikaji lebih lanjut. Pengajuan ini akhirnya dilakukan oleh pihak Situs Persada Soekarno Kediri pada akhir tahun 2023.
Selanjutnya, TACB Kabupaten Jombang melaksanakan kajian lapangan yang komprehensif pada tahun 2024. Kajian ini tidak hanya terbatas pada penelusuran di Jombang, tetapi juga meluas ke berbagai daerah, termasuk menghubungi keluarga Soekarno di Blitar, Kediri, Bali, hingga Jakarta untuk mendapatkan informasi yang lebih kaya dan beragam.
Hasil dari kajian mendalam tersebut akhirnya membuahkan rekomendasi penetapan lokasi yang diyakini sebagai tempat kelahiran Soekarno di Ploso, Jombang, sebagai cagar budaya tingkat kabupaten. Rekomendasi ini secara resmi dikeluarkan pada bulan September 2024.
Harapan untuk Pengakuan Pemerintah: Legitimasi Sejarah
Selain proses kajian yang telah berjalan, Arif Yulianto juga telah menyampaikan narasi sejarah ini kepada berbagai pihak penting. Pada tahun 2025, ia bertemu dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, untuk memaparkan temuan-temuannya. Informasi serupa juga telah disampaikan kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, termasuk kepada Menteri Kebudayaan pada saat itu, Fadli Zon, dalam sebuah pertemuan di Surabaya.
Arif Yulianto memiliki harapan besar agar hasil penelusuran yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun ini dapat memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah. Dengan pengakuan tersebut, situs yang diyakini sebagai lokasi kelahiran Soekarno di Ploso dapat ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi dan dijaga kelestariannya.
“Harapannya ada legitimasi resmi dari pemerintah sehingga sejarah mengenai tempat dan waktu kelahiran Bung Karno dapat diluruskan secara terstruktur, sistematis, dan luas diketahui masyarakat,” pungkas Arif, menegaskan pentingnya pelurusan sejarah demi generasi mendatang.






