Kunjungan Lapangan Peserta Konferensi DR3 Aceh 2026 ke Situs Bersejarah
Pada hari kedua pelaksanaan International Conference on Natural & Human Disaster 2026: Rethinking Architecture – Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3) di Banda Aceh, peserta dari dalam dan luar negeri diajak untuk mengunjungi sejumlah situs bersejarah yang terdampak tsunami 2004. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Persatuan Arsitek Internasional (UIA) melalui program kerja Natural and Human Disasters.
Kunjungan lapangan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman langsung kepada peserta tentang dampak bencana tsunami dan upaya penanganan bencana yang telah dilakukan di Aceh. Lokasi yang dikunjungi antara lain:
Masjid Raya Baiturrahman
Peserta diperlihatkan bagaimana bangunan masjid ini tetap kokoh berdiri meskipun kawasan sekitarnya luluh lantak akibat tsunami. Masjid ini menjadi simbol ketangguhan dan kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana alam.Escape Building (Gedung Penyelamatan) di Lambung
Gedung ini kini menjadi infrastruktur mitigasi bencana yang sangat penting. Peserta internasional mengaku kagum dengan konsep bangunan ini yang dirancang untuk melindungi masyarakat dari ancaman bencana.Kuburan Massal Korban Tsunami
Tempat ini menjadi pengingat akan korban jiwa yang hilang akibat bencana besar tahun 2004. Kunjungan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana.PLTD Apung
PLTD Apung adalah salah satu fasilitas energi yang dibangun sebagai bagian dari rekonstruksi pasca-tsunami. Peserta meninjau lokasi ini untuk memahami peran infrastruktur dalam pencegahan bencana.Museum Tsunami Aceh
Museum ini dipandu langsung oleh arsiteknya, Ridwan Kamil. Ia memberikan penjelasan mendalam tentang konsep desain museum sebagai ruang refleksi sekaligus edukasi kebencanaan. Peserta mengungkapkan rasa gembira atas cara Aceh membangun kembali dan mengelola bencana dengan baik.
Peran Penting Kunjungan Lapangan
Ketua Penyelenggara DR3 Aceh 2026 sekaligus Ketua Region IV (Asia dan Oceania) UIA Natural and Human Disasters Work Programme, Aimee Roslan, menjelaskan bahwa kunjungan lapangan ini tidak hanya bertujuan untuk mengingat kembali tragedi tsunami 2004, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana.
“Tujuan kunjungan ini adalah untuk memahami apa yang terjadi saat tsunami 2004, kemudian melihat langkah-langkah yang telah dibuat oleh pemerintah daerah dan pusat untuk mengantisipasi jika bencana serupa terjadi lagi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kunjungan ini juga menjadi momen penting untuk mengenang kembali memori dan memberikan kesadaran bagi peserta bahwa inilah yang terjadi bila bencana melanda.
Kunjungan ini juga menjadi ajang pertukaran ilmu dan pengalaman antara peserta lokal dan internasional. Para peserta dari luar negeri mengungkapkan kekaguman mereka terhadap upaya rekonstruksi dan kesiapsiagaan bencana di Aceh. Mereka menyebutkan bahwa konsep seperti escape building sangat berguna untuk kegiatan masyarakat dan bisa menjadi contoh bagi daerah lain.
Konferensi DR3 Aceh 2026 yang berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu, 17-19 April 2026, menjadi wadah penting untuk memperkuat kolaborasi global dalam menghadapi bencana alam. Dengan menggabungkan pendekatan arsitektur, mitigasi bencana, dan pembangunan berkelanjutan, acara ini diharapkan mampu memberikan solusi nyata untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.






