Gagalnya Perundingan Damai AS-Iran di Islamabad
Perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang digelar di Islamabad, Pakistan, gagal mencapai kesepakatan. Delegasi dari kedua negara tidak mampu menyelesaikan perbedaan pendapat yang menjadi inti pembahasan selama proses negosiasi berlangsung.
Kegagalan ini memicu kembali ketegangan antara kedua pihak, terutama di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi pasokan minyak dunia. Sebelumnya, konflik antara AS dan Iran meletus pada 28 Februari setelah serangan dari AS dan Israel yang memicu balasan dari Teheran, sehingga mengganggu stabilitas regional dan ekonomi global.
Tuntutan AS Dinilai Tidak Masuk Akal
Menurut laporan media pemerintah Iran, IRIB, delegasi Iran telah berupaya maksimal dalam perundingan yang berlangsung selama 21 jam. Namun, tuntutan dari pihak AS dinilai tidak masuk akal dan menghambat kemajuan negosiasi.
“Delegasi Iran bernegosiasi secara intensif untuk melindungi kepentingan nasional rakyat Iran, namun tuntutan tidak masuk akal dari pihak Amerika menghalangi kemajuan,” tulis IRIB via Telegram, seperti dilansir AFP.
Iran menyatakan bahwa berbagai inisiatif telah diajukan selama perundingan, tetapi tidak direspons secara konstruktif oleh AS. Isu utama yang menjadi sumber kebuntuan adalah program nuklir Iran dan kontrol atas Selat Hormuz.
Saling Curiga Antara AS dan Iran
Wakil Presiden AS JD Vance, salah satu anggota delegasi AS, mengklaim bahwa Washington telah memberikan “tawaran terbaik” kepada Iran. Namun, AS belum melihat komitmen tegas dari Teheran terkait penghentian pengembangan senjata nuklir.
“Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal yang sangat sederhana, tawaran terbaik dan terakhir kami. Kita lihat apakah Iran akan menerimanya,” ujar Vance.
Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap curiga terhadap AS, terutama berdasarkan pengalaman sebelumnya yang sering berujung pada kegagalan dan janji yang tidak dipenuhi. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa pengalaman bernegosiasi dengan AS selalu berujung pada kegagalan dan janji yang dilanggar.
Pakistan Minta AS-Iran Menahan Diri
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mendesak AS dan Iran untuk menahan diri dan menjaga gencatan senjata setelah perundingan di Islamabad berakhir tanpa hasil. Seruan ini muncul setelah pembicaraan maraton selama 21 jam gagal mencapai kesepakatan.
Dar menegaskan bahwa komitmen terhadap gencatan senjata menjadi kunci untuk mencegah eskalasi konflik di kawasan. “Sangat penting bagi para pihak untuk terus mematuhi komitmen mereka terhadap gencatan senjata,” kata Dar dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Pakistan.
Diplomasi Belum Berakhir
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa sejak awal tidak ada ekspektasi kesepakatan bisa dicapai dalam satu pertemuan. “Secara alami, sejak awal kita tidak seharusnya berharap mencapai kesepakatan dalam satu sesi. Tidak ada yang memiliki ekspektasi seperti itu,” ujarnya kepada media pemerintah IRIB, dilansir AFP.
Baghaei menekankan bahwa kegagalan kali ini bukan akhir dari jalur diplomasi yang masih akan terus ditempuh Iran. “Diplomasi tidak pernah berakhir, perangkat diplomatik adalah alat untuk mengamankan dan melindungi kepentingan nasional.”
Inggris dan Oman Serukan Hindari Eskalasi
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Sultan Oman Haitham bin Tariq pada Minggu (12/4) menyerukan AS dan Iran untuk menahan diri. Keduanya menekankan pentingnya menjaga gencatan senjata dan mencegah konflik meluas di kawasan.
Dalam pembicaraan yang berlangsung, Starmer dan Haitham membahas perkembangan perundingan AS-Iran di Pakistan yang berakhir tanpa kesepakatan. “Mereka membahas pembicaraan damai yang digelar di Pakistan dan mendesak kedua pihak untuk menemukan jalan keluar,” kata juru bicara pemerintah Inggris, Sophie Clare, dilansir AlJazeera.
Ia menambahkan, kedua pemimpin sepakat bahwa kelanjutan gencatan senjata menjadi hal krusial. “Sangat penting agar gencatan senjata terus berlanjut, dan semua pihak menghindari eskalasi lebih lanjut,” ujarnya.










